Kamis, 26 Maret 2026
Menu

Purbaya Optimis Kenaikan Harga Minyak Tidak Berakhir Resesi

Redaksi
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa | Dok Kementerian Keuangan RI
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa | Dok Kementerian Keuangan RI
Bagikan:

FORUM KEADILAN – Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, menilai bahwa konflik di Timur Tengah antara Iran dengan Amerika Serikat (AS)-Israel yang mengakibatkan minyak dunia bergejolak tidak akan berakhir pada resesi ekonomi.

Purbaya menjelaskan bahwa Presiden AS Donald Trump yang menjadi penggerak perang tengah mengalami tekanan pada saat ini, sehingga berencana mengambil langkah untuk membuat harga minyak kembali stabil.

“Coba anda lihat. Sekarang saja Amerika sudah kelabakan kan? 100 dolar aja di sana BBM-nya naik hampir 100 persen, rakyatnya mulai marah. Makanya si Trump langkahnya agak berbeda kan? Bisa sampai 150? Jatuh Trump sudah. Bukan kita yang jatuh, tapi di sana,” ujar Purbaya di kantornya, Jakarta, Rabu 25/3/2026.

Ia mengatakan bahwa Indonesia masih mampu menjaga stabilitas ekonomi domestik, walaupun harga minyak sering naik tinggi di atas asumsi makro APBN 2026 sebesar US$70 per barel.

“Kalau kita masih bisa jaga di sini,” tuturnya.

Purbaya pun memberikan respons mengenai pernyataan sejumlah pengamat ekonomi yang sering menyebut perekonomian Indonesia akan mengalami resesi dalam beberapa bulan ke depan. Menurutnya, pernyataan tersebut bukan bentuk kritik kepada pemerintah, melainkan sebatas menciptakan sentiment buruk atau ketakutan di tengah-tengah masyarakat.

“Saya enggak anti kritik, enggak apa-apa. Tapi jangan bilang begini: 2 bulan lagi ekonomi Indonesia akan hancur. Akan resesi,” tuturnya.

Sentimen yang dibangun tersebut tidak didasarkan pada perhitungan ekonomi yang benar. Purbaya menyebut ekonom yang mengatakan ekonomi Indonesia dalam dua bulan itu hanya mempertimbangkan kenaikan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah.

“Alasannya karena harga minyak akan 200 dolar per barrel, rupiah akan berapa puluh ribu, ya kalau itu ya iya kalau harga minyak 200 dolar per barrel semua dunia resesi, tenang saja, enggak usah pusing,” tuturnya.

“Jadi asumsinya nggak masuk akal. Jadi itu bukan ekonom yang betul,” imbuhnya.

Purbaya menekankan bahwa ekonom memperhitungkan faktor risiko secara benar, maka akan mempertimbangkan seluruh estimasi risiko, mulai dari data historis, hingga kebijakan pemerintah yang selama ini sudah dibuat dalam merespons tekanan global.

“Jadi itu hitungannya. Kalau ekonom itu seperti itu, jangan asbun. Kalau enggak ngerti, sekolah lagi, apalagi yang profesor itu, enggak pernah sekolah kok,” tandasnya. *