Minggu, 22 Maret 2026
Menu

Iran Potret Bangsa Otot Kawat Balung Besi

Redaksi
Negara Iran | Dok. World Bank
Negara Iran | Dok. World Bank
Bagikan:

Kolonel (Purn) Sri Radjasa Chandra MBA
Pemerhati Intelijen

FORUM KEADILAN – Era kekaisaran kuno Iran, Akhemeniyah (550–330 SM) didirikanoleh Koresh Agung (Cyrus The Great). Era kekasisaran ini adalah yang pertama menyatukan wilayah dari Balkan di barat hingga Lembah Indus di timur. Pada puncaknya, kekaisaran ini merupakan terbesar yang pernah ada di dunia saat itu, mencakup Mesir dan seluruh Timur Tengah. Setelah penaklukan Islam pada abad ke-7, bangsa Iran tidak kehilangan identitasnya. Sebaliknya, mereka menjadi tulang punggung intelektual Zaman Keemasan Islam, menyumbangkan banyak ilmuwan, filsuf, dan sastrawan besar. Ketahanan budaya yang kuat, meskipun berkali-kali diinvasi oleh Yunani, Arab, Mongol, dan Turki, bangsa Iran selalu berhasil mempertahankan jati diri, bahasa , dan budayanya yang unik, yaitu Persia. 

Memasuki era negara-negara modern, Iran menghadapi gelombang tekanan pihak barat yang amat berat. Embargo Amerika Serikat (AS) terhadap Iran, pertama kali dimulai secara resmi pada November 1979. Langkah ini diambil sebagai respons langsung terhadap krisis sandera Iran, di mana mahasiswa radikal Iran menyerbu Kedutaan Besar AS di Teheran dan menyandera puluhan diplomat Amerika. Presiden AS Jimmy Carter memutuskan untuk menghentikan impor minyak dari Iran. Melalui Perintah Eksekutif 12170, AS membekukan aset Iran senilai sekitar US$8 miliar yang berada di bank-bank Amerika. Setahun kemudian, AS memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran dan memperluas embargo ekonomi maupun perjalanan. Di era perang Irak-Iran, Presiden AS Ronald Reagan memberlakukan embargo senjata termasuk suku cadang. Kemudian, AS memperberat embargo dengan larangan total terhadap semua barang dan jasa impor dari Iran, diberlakukan sebagai tanggapan atas serangan Iran terhadap kapal-kapal komersial di Teluk Persia.

Pengetatan sanksi terhadap Iran terus berlangsung di era Presiden Bill Clinton, melarang perusahaan AS berinvestasi di sektor minyak dan gas Iran, serta melarang perdagangan secara keseluruhan. Kongres AS meloloskan Iran Sanctions Act (ISA) yang memberikan sanksi kepada perusahaan asing yang berinvestasi lebih dari $20 juta per tahun di sektor energi Iran. Sanksi diperluas untuk menargetkan program nuklir Iran, termasuk pembatasan transaksi perbankan internasional. Terkait dengan program nuklir Iran, Presiden Donald Trump menarik AS keluar dari perjanjian nuklir (JCPOA) dan menerapkan kembali sanksi ekonomi yang sangat berat (kebijakan Maximum Pressure). Pada tahun 2020–2025, sanksi terus diperluas hingga mencakup sektor keuangan, industri logam, dan jaringan perdagangan minyak yang dianggap memfasilitasi aktivitas terlarang.

Selama 40 tahun embargo AS terhadap Iran, dengan eskalasi yang semakin ketat (maximum pressure), telah berpengaruh terhadap kehidupan sehari-hari rakyat Iran. Tidak seperti bangsa-bangsa di belahan dunia lain yang menikmati kemewahan dari perkembangan teknologi. Keseharian rakyat Iran adalah potret kesederhanaan di tengah derasnya laju perkembangan teknologi global. Rakyat Iran tidak dapat merasakan nikmatnya mengendarai motor Kawasaki Ninja atau Honda Beat, apalagi motor gede. Termasuk merasakan empuknya mobil-mobil Toyota, Mercy, BMW dan mobil listrik. Di Iran ada layanan ojek online (ojol), yaitu Snapp. Ketika memesan Snapp, dapat dipastikan yang datang adalah kendaraan merek Pride dengan model yang dari tahun ke tahun tidak pernah berubah. Begitu pula soal kuliner, ketika dunia dibanjiri kuliner dari mancanegara, disajikan dengan kemasan mewah, justru di Iran sejauh mata memandang hanya tersaji kuliner domestik, seperti sabzi, kabab, kubideh atau lappeh. 

Generasi muda Iran sangat berbeda dengan anak muda milenial atau gen z di berbagai negara yang jati dirinya telah terkontaminasi oleh budaya barat, bahkan tidak sedikit yang telah menanggalkan jati dirinya dan digantikan oleh kultur asing. Anak muda Iran harus sabar untuk dapat menikmati layanan internet yang lemot. Modernisasi dinikmati dengan kreatifitas dan inovasi yang tinggi. Mobil tua dimodifikasi agar terlihat trendi, termasuk ciptaan versi lokal dari layanan dunia, seperti Snapp (sejenis Grab dan Gojek), Digikala (semacam Amazon atau Tokopedia) dan sistem perbankan digital yang maju walau terputus dari jaringan SWIFT Internasional.

Tidak dapat dipungkiri bahwa Iran adalah bangsa yang tidak lekang dan pantang surut ke belakang akibat tekanan pihak asing. Iran adalah contoh bangsa besar yang lahir dari perjuangan hidupmati, menjaga harkat dan martabatnya sebagai bangsa merdeka. Ketika Iran mengalami 40 tahun embargo tetapi tetap eksis, mengapa banyak negara yang belum sebulan menghadapi embargo minyak di Selat Hormuz, mulai menunjukan sifat mengemis dan merengek, agar diberi kemudahan untuk mendapat fasilitas kemudahan di Selat Hormuz. Bahkan, tidak sedikit negara yang menjual harga diri dan martabatnya kepada negara-negara besar, karena ketakutan dan paranoid menghadapi krisis.

Serangan brutal AS bersama Israel terhadap Iran, telah membuka mata dunia akan sebuah pelajaran berharga “Sebesar apa pun kejahatan tidak akan pernah bisa berkuasa, tetapi sekecil apa pun kebenaran tidak akan bisa binasa”. 40 tahun Iran “mengalah” menghadapi embargo AS, tapi tidak pernah sedikitpun menyerah apalagi takut karena penghinaan negara-negara barat. Sebagaimana Islam mengajarkan konsep mengalah, tetapi tidak menyebabkan kekufuran, karena sesungguhnya Islam tidak menyukai sifat pengecut.

Seyogyanya, pengalaman Iran patut dijadikan cermin bagi pemimpin Indonesia. Sikap politik luar negeri Indonesia yang cenderung kooperatif terhadap tekanan barat, tapi semata-mata takut berdampak kepada tekanan ekonomi dalam negeri. Sesungguhnya, dengan begitu Indonesia hanyut dalam irama permainan barat. Prilaku politik luar negeri AS, selalu mengedepankan prinsip enlargement. Jika diterjemahkan dalam narasi sehari-hari adalah “dikasih hati minta jantung, dikasih jantung minta nyawa”. Saat ini, Iran telah menjawab ketakutan dunia atas superioritas militer AS yang ternyata hanya ada di dalam film-film. Sejarah membuktikan tidak satupun peperangan yang dimenangkan oleh AS ketika menghadapi nasionalisme negara-negara kecil. Untuk sebuah perubahan, sudah saatnya Indonesia berani melawan arus, karena hanya tinja dan bangkai yang mengikuti arus.*