Kamis, 19 Maret 2026
Menu

Dadan Hindayana: 1 SPPG Menerima Uang Rp1 miliar per Bulan

Redaksi
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana | Dok BGN RI
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana | Dok BGN RI
Bagikan:

FORUM KEADILAN – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana mengungkapkan bahwa satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) menerima Rp1 miliar setiap bulannya.

Dadan mengatakan bahwa uang sebesar itu akan beredar di wilayahnya masing-masing.

“Jadi, 1 SPPG rata-rata akan menerima uang Rp1 miliar per bulan,” ujar Dadan, dalam keterangannya, Kamis, 19/3/2026.

Ia menjelaskan, program MBG tak hanya berdampak pada pemenuhan gizi Masyarakat, namun juga menjadi motor penggerak ekonomi di berbagai daerah.

Sebagian besar, lanjutnya, anggaran BGN langsung disalurkan ke daerah melalui mekanisme virtual account yang terhubung dengan SPPG di seluruh Indonesia.

“Uang Badan Gizi Nasional, 93 persen itu langsung disalurkan dari KPPN melalui virtual account. Masuk di virtual account seluruh SPPG di seluruh Indonesia yang jumlahnya sudah 25.574. Jadi dengan program ini terjadi pemerataan pengiriman uang di setiap daerah,” jelasnya.

Ia memberikan contoh menyoal perputaran uang akibat MBG seperti di Jawa Barat yang sudah memiliki sekitar 5.000 SPPG, perputaran dana mencapai Rp5 triliun setiap bulan.

“Kalau di Jawa Barat sudah ada 5.000 SPPG, itu artinya uang di Jawa Barat beredar Rp5 triliun per bulan. Dengan sekarang sudah berjalan 2,5 bulan, itu uang di Jawa Barat kurang lebih sudah beredar sekitar Rp11-12 triliun. Inilah yang menggerakkan roda ekonomi di setiap daerah dan kemudian menjadi isu hal lokal di mana pemenuhan kebutuhan pangan seharusnya dipasok lokal,” jelasnya.

Oleh karena demikian, katanya, program MBG sejak awal dirancang untuk mendorong pemanfaatan sumber daya lokal. Kebutuhan pangan dalam program ini diharapkan dipenuhi dari produksi daerah sekitar, sehingga membuka peluang pasar bagi petani, pelaku usaha, hingga industri pangan lokal.

Ia menyoroti pentingnya peran SPPG dalam menciptakan lapangan kerja baru di tingkat lokal, mulai dari tenaga operasional, hingga tenaga ahli seperti ahli gizi yang direkrut dari Masyarakat setempat.

Kesadaran akan pentingnya penguatan ekonomi lokal saat ini juga semakin meningkat, termasuk di kalangan pemerintah daerah.

Dadan mengklaim, banyak kepala daerah mulai mendorong agar dana yang masuk ke wilayahnya dibelanjakan untuk produk dan bahan baku lokal.

“Saya harapkan terjadi satu pergerakan ekonomi circular di satu daerah yang sekarang alhamdulillah sudah mulai disadari oleh semua pihak betapa pentingnya meningkatkan produktivitas lokal sehingga ekonomi di daerah akan berkembang. Sekarang, sudah banyak kepala daerah yang menginginkan uang yang masuk ke satu daerah itu dibelanjakan dengan membeli bahan baku yang ada di daerah tersebut,” paparnya.

Untuk dapat memastikan hal itu berjalan optimal, BGN menempatkan tenaga ahli gizi di setiap SPPG yang direkrut dari wilayah setempat.

Langkah tersebut bertujuan agar pemenuhan gizi dapat disesuaikan dengan potensi sumber daya hingga preferensi Masyarakat lokal. *