Senin, 16 Maret 2026
Menu

Idulfitri dalam Perspektif Berbangsa dan Bernegara

Redaksi
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 yang jatuh pada 9 Ramadan 1364 H | Ist
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 yang jatuh pada 9 Ramadan 1364 H | Ist
Bagikan:

Kolonel (Purn) Sri Radjasa Chandra MBA
Pemerhati Intelijen

FORUM KEADILAN – Bagi bangsa Indonesia, Ramadan bukan sekadar bulan penuh rahmat, berkah dan ampunan, tapi memiliki arti sejarah yang mengisyaratkan titik awal sebagai bangsa merdeka dan bebas dari segala penindasan bangsa lain. Pada 17 Agustus 1945, Bung Karno dan Bung Hatta membacakan proklamasi kemerdekaan Indonesia yang disiarkan ke seluruh dunia, jatuh pada bulan Ramadan.

Kemerdekaan Indonesia adalah sebuah peristiwa sejarah yang mengandung nilai religius, karena kehendak Allah SWT terjadi di bulan suci Ramadan. Oleh karenanya bagi bangsa Indonesia, Ramadan dan Idulfitri memiliki ikatan emosional yang kuat dan patut dijadikan sebagai prasasti kemenangan terhadap penindasan manusia oleh manusia, kemenangan untuk menjadi manusia merdeka, kemenangan melawan hawa napsu duniawi yang merusak moral dan nilai-nilai agama, serta kemenangan untuk berbagi kebaikan terhadap sesama rakyat Indonesia.

Memasuki 80 tahun kemerdekaan Indonesia, roh dan semangat kemenangan Idulfitri semakin surut, akibat ketamakan pejabat negara di eksekutif dan legislatif. Idulfitri tidak mampu memadamkan api jahiliah para penegak hukum. Idulfitri tidak berdaya menghadapi kejahatan sistemik para oligarki dan cukong. Bahkan, Idulfitri tidak mampu memadamkan napsu rendah para penghianat negara, demi mengais limbah kekuasaan.

Nilai sakral Idulfitri di era reformasi telah disisihkan dan diganti dengan berhala baru yang bernama demokrasi dan supremasi sipil, sekadar untuk menutupi wajah bopeng penguasa, akibat luka yang menggrogoti nurani kemanusiaan. Makna Ramadan dan Idulfitri nampaknya hanya tumbuh di gubuk-gubuk kumuh dan di sudut desa-desa. Di lingkungan rakyat miskin, mereka terbukti tetap sabar dan tawakal menghadapi kehidupan yang semakin sulit akibat runtuhnya moral penyelenggara negara. Tetapi rakyat kecil tetap yakin, di balik kesulitan akan datang kemenangan di dunia maupun di akhirat, karena hal tersebut adalah janji Allah SWT yang benar adanya.

Idulfitri 1447 H kali ini, harus dijadikan momentum titik balik, demi mengembalikan nilai sakral peringatan keagamaan yang juga memiliki nilai historis bagi bangsa Indonesia. Kita adalah bangsa diwarisi nilai kepemimpinan yang dinadinya mengalir darah kesatria dan syuhada, kepemimpinan yang datang bersama rakyat, berjuang bersama rakyat dan selalu bersama rakyat.

Tetapi, hari ini kita diwarisi nilai kepemimpinan yang tak sungkan membunuh bangsa sendiri, kepemimpinan yang dihatinya dipenuhi oleh syahwat kekuasaan, kepemimpinan yang tidak memiliki nyali untuk membela kepentingan rakyat. Kita tidak ingin menjadi sebagai bangsa yang dianggap mengintrodusir nilai-nilai jahiliah di era modern. Kita tidak ingin menjadi bangsa yang menghianati nilai Idulfitri.

Ingat, sesungguhnya kekuasaan, jabatan, pangkat dan kekayaan yang kita miliki, sama sekali tidak akan mampu mendinginkan api neraka. Sekali lagi jangan pernah lupa bahwa balasan Allah SWT itu pasti. Semoga kita adalah umat Allah SWT yang dipertemukan di surga-Nya.*