Pernyataan Prabowo soal Pengamat Tak Patriotik Dinilai Bisa Picu Budaya Anti-Kritik
FORUM KEADILAN — Pengamat politik dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, Ardli Johan Kusuma, menanggapi pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut pengamat yang tidak patriotik akan “ditertibkan”.
Ardli mengaku khawatir pernyataan tersebut dapat memunculkan persepsi sekaligus budaya anti-kritik di dalam pemerintahan, baik di tingkat pusat maupun daerah.
“Saya khawatir pernyataan presiden tersebut sebagai gejala munculnya persepsi dan budaya anti-kritik dari pemerintahan di segala level,” ujar Ardli kepada Forum Keadilan, Sabtu, 14/3/2026.
Menurut Ardli, tanpa adanya penjelasan yang jelas mengenai klasifikasi kritik seperti apa yang dianggap tidak patriotik, pernyataan tersebut berpotensi menimbulkan delegitimasi terhadap kritik publik.
Ia menilai kondisi itu juga dapat berujung pada pembatasan ruang partisipasi masyarakat dalam menyampaikan pendapat di dalam sistem demokrasi.
“Tanpa adanya narasi yang jelas terkait pengklasifikasian kritik seperti apa yang dianggap tidak patriotik, hal itu dapat berdampak pada bentuk delegitimasi dan pembatasan ruang partisipasi publik yang ingin menggunakan hak kebebasan berpendapat dalam sebuah sistem demokrasi,” jelasnya.
Ardli menambahkan, jika situasi tersebut terus berkembang, maka dikhawatirkan akan berdampak pada kemunduran demokrasi di Indonesia.
Ia menegaskan bahwa kritik seharusnya dipandang sebagai bentuk kepedulian masyarakat terhadap jalannya pemerintahan.
Menurutnya, sikap negara terhadap kritik semestinya bersifat dialogis, bukan defensif.
“Harusnya kritik dapat dilihat sebagai bentuk kepedulian masyarakat terhadap perbaikan jalannya pemerintahan negara. Sikap negara terhadap kritik harusnya bersifat dialog, artinya kritik dikelola dengan baik sebagai bahan pertimbangan dalam proses perbaikan kebijakan, bukan dianggap sebagai gangguan terhadap pemerintah,” pungkasnya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menuding sejumlah pengamat tidak memiliki sikap patriotik. Dia mengklaim mereka mendapat keuntungan finansial dengan mengkritik pemerintah.
Menurut Prabowo ada beberapa macam pengamat di Indonesia. Salah satunya, kata dia, adalah pengamat yang tidak suka pemerintahannya berhasil karena punya motif tersembunyi.
“Menurut saya, sikap mereka itu sempit, bukan patriotik. Pada saatnya lah kita tertibkan itu semua. Tapi sekarang kita masih berusaha dengan cara-cara yang meyakinkan,” kata Prabowo dalam rapat kabinet di Istana Kepresidenan Jakarta pada Jumat, 13/3/2026. *
Laporan oleh: Muhammad Reza
