GMNI Nilai Polisi Terlalu Cepat Simpulkan Motif dalam Kematian Ermanto Usman
FORUM KEADILAN – Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jakarta Timur Jansen Henry Kurniawan menilai, Kepolisian terlalu cepat menyimpulkan motif perampokan dalam kasus kematian aktivis pelabuhan Ermanto Usman.
Sebelumnya, Polda Metro Jaya menyatakan bahwa kematian Ermanto diduga kuat merupakan akibat tindak pidana perampokan. Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Iman Imanuddin mengatakan bahwa hingga saat ini penyidik tidak menemukan motif lain selain pencurian yang berujung pembunuhan.
“Saat ini kami tidak menemukan motif lain dari kejadian tersebut selain motif pencurian ataupun pembunuhan yang dilakukan dalam rangkaian pencurian oleh tersangka tersebut,” kata Iman dalam jumpa pers di Polda Metro Jaya, Jakarta, Rabu, 11/3/2026.
Menanggapi hal itu, Jansen menilai, kesimpulan tersebut seharusnya tidak disampaikan secara terburu-buru sebelum seluruh fakta dan kemungkinan motif lain diuji secara menyeluruh.
“Kalau dari kami, ini bukan untuk menuduh siapa pun. Kami hanya ingin menempatkan asas praduga tak bersalah dalam logika penegakan hukum yang objektif. Namun menurut kami, kesimpulan dari pihak Kepolisian terasa terlalu cepat,” ujar Jansen saat ditemui di sela aksi Solidaritas GMNI untuk Ermanto Usman di depan Mabes Polri, Jakarta, Jumat, 13/3 sore.
Ia juga mempertanyakan dugaan bahwa peristiwa tersebut dilatarbelakangi motif ekonomi. Menurutnya, kesimpulan itu masih perlu diuji dengan pendekatan yang lebih komprehensif.
“Sebab, kalau berbicara soal sebab-akibat, kita harus melihatnya secara menyeluruh. Apakah benar ini semata-mata motif ekonomi? Itu yang perlu diuji secara objektif,” katanya.
Jansen menegaskan, GMNI tidak akan tinggal diam melihat perkembangan kasus tersebut. Ia menyebut, mahasiswa akan terus melakukan konsolidasi dan aksi apabila proses penegakan hukum dinilai tidak berjalan secara terbuka.
“Kami sebagai mahasiswa tidak mungkin diam melihat situasi seperti ini. Kami akan terus bergerak dan melakukan konsolidasi,” tuturnya.
Diketahui, beberapa waktu lalu, Ermanto pernah membahas dugaan praktik korupsi dalam pengelolaan pelabuhan dalam podcast Madilog di kanal YouTube Forum Keadilan TV pada 15 Desember 2025 berjudul “Pelindo Boneka PT Hutchinson (Hongkong), Ada Pemerintah di Atas Pemerintah.”
Dalam podcast tersebut, Ermanto membeberkan sejumlah dugaan praktik korupsi dalam pengelolaan pelabuhan dan menyebut sejumlah nama pejabat penting, termasuk mantan Menteri BUMN Erick Thohir, serta pengusaha Boy Thohir.
Kemunculan kembali rekaman podcast tersebut di media sosial turut memicu desakan dari berbagai pihak agar kematian Ermanto Usman diusut secara lebih transparan dan menyeluruh.
Sebagai bentuk protes atas kasus tersebut, DPC GMNI menggelar aksi solidaritas di depan Mabes Polri, Jakarta, Jumat, 13/3 sore.
Aksi yang berlangsung sejak pukul 16.30 WIB hingga 18.00 WIB itu diikuti puluhan massa dan diawali dengan pertunjukan teatrikal yang menggambarkan peristiwa terbunuhnya Ermanto Usman.*
Laporan oleh: Muhammad Reza
