Rabu, 11 Maret 2026
Menu

Partai Buruh Bahas Strategi Kelas Pekerja Hadapi Konflik Iran dan AS-Israel

Redaksi
Logo Partai Buruh. | Ist
Logo Partai Buruh. | Ist
Bagikan:

FORUM KEADILAN – Konflik militer antara Iran dan Amerika Serikat-Israel sudah menggerus kemampuan ekonomi masyarakat terutama terhadap kelas pekerja. Oleh karena demikian, sejumlah kebijakan fiskal dan sosial yang pro-pekerja harus ditempuh.

Hal ini disampaikan oleh ekonom, Dipo Satria Ramli, dalam diskusi Imajinesia#11 dengan mengusung tema “Strategi Ekonomi Politik Kelas Pekerja Menghadapi Eskalasi Geopolitik” yang terlaksana secara daring pada Senin, 9/3/2026.

Menurut Dipo, konflik militer ini sudah mengerek biaya energy seperti BBM hingga mengurangi nilai mata uang Indonesia. Hal tersebut dapat meningkatkan biaya produksi nasional, sekaligus mengancam kelas pekerja dengan PHK dan peningkatan jumlah pekerja informal.

“Tren daya beli menurun, banyak calon kelas menengah turun ke kelas rentan, ini berarti akan semakin banyak orang miskin” ujar Dipo.

Menurutnya, peningkatan PDB 5 persen yang bersifat semu dikarenakan 195 juta penduduk Indonesia masih hidup dengan pendapatan di bawah Rp1,5 juta per bulan akibat inflasi yang terus menggerus daya beli masyarakat.

Dipo melihat bahwa opsi kebijakan yang harus dipertimbangkan adalah mengurangi pendanaan untuk 8 program prioritas pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk meningkatkan belanja subsidi energi.

Hal itu juga telah menjadi pertimbangan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewo.

“Pemerintah harus memberikan sinyal bahwa pemerintah peduli. Saat ini sinyal terbaik itu adalah dengan mengurangi anggaran MBG,” tuturnya.

Diketahui, saat ini anggaran kebijakan ini mengambil nyaris setengah dari total Rp757,8 triliun APBN 2026.

Sementara itu, Deputi Departemen Ideologi Partai Buruh, Hizkia Yosie Polimpung, menjelaskan bahwa konflik geopolitik yang dilancarkan AS saat ini adalah sebuah upaya untuk memperbaiki fondasi moneter di tengah memudarnya kepercayaan dunia atas dolar atau dedolarisasi.

Sejumlah penelitian menunjukkan peningkatan nilai dolar di tiap perang yang melibatkan AS. Hal ini mendorong investor untuk memindahkan uang ke aset yang dianggap paling aman, yaitu surat utang Amerika Serikat (Treasury Bonds).

“Bagaimana membuat nilai Treasury Bonds aman? Cara pemerintah Donald Trump adalah dengan menggalakan penaklukan militer seperti yang berjalan saat ini,” jelas Yosie.

“Siapapun yang dekat ke Trump, posisinya ekonominya akan aman,” tambah Yosie.

Perwakilan Suara Marsinah dan Partai Buruh, Anindya Sabrina atau yang dikenal Anin, menegaskan bahwa kondisi ini membuat kelas pekerja memahami bagaimana hal ini dapat berpengaruh pada kehidupan sehari-hari.

Oleh karena demikian, serikat pekerja, terutama yang tergabung ke dalam Partai Buruh dapat mengajukan solusi kebijakan.

“Sebagai partai kelas pekerja, menurut saya Partai Buruh harus mendukung segala bentuk upaya deeskalasi konflik dan kembalinya seluruh pihak yang berkonflik ke meja perundingan. Bisa lewat jalur parlemen dan ekstra-parlementer,” jelas Anin.

Anin mengatakan penting juga untuk dapat memberikan dukungan penegakan hukum internasional, perhitungan matang dalam pengambilan kebijakan internasional, dan merancang APBN sebagai pelindung keadaan sosial.

Beberapa gagasan kebijakan domestik, lanjutnya, yang dapat didorong seperti penolakan atas pemotongan anggaran jaring pengaman sosial seperti pendidikan, kesehatan, dan Bantuan Langsung Tunai (BLT).

“APBN harus dirancang untuk mengatasi gangguan eksternal seperti ketegangan geopolitik, bukan menambah beban rumah tangga miskin,” tegas Anin.

Kemudian, harus ada mendorong kebijakan cadangan strategis dalam bentuk subsidi berjangka pendek dan terukur. Lalu, penguatan koperasi dan UMKM melalui insentif fiskal untuk mengamankan rantai pasok domestik di tengah kesulitan impor.

Anin menyarankan agar secara ekstra-parlementer, Partai Buruh dapat mendorong pembangunan rantai pasok lewat koperasi serikat pekerja yang dapat memenuhi kebutuhan primer.

Ia juga mengusulkan pentingnya inisiatif seperti dana solidaritas untuk pekerja yang di-PHK hingga pembentukan lumbung pangan untuk ketahanan lokal di wilayah industri.

“Sebagai kelas pekerja, kita harus bangun resiliensi ekonomi di komunitas masing-masing,” pungkas Anin. *