Selasa, 10 Maret 2026
Menu

Rupiah Tembus Rp17 Ribu dan IHSG Anjlok, Purbaya: Sebagian Ekonom Bilang Kita Sudah Resesi

Redaksi
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa | Dok Kementerian Keuangan RI
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa | Dok Kementerian Keuangan RI
Bagikan:

FORUM KEADILAN – Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, menilai bahwa pelemahan nilai tukar rupiah dan indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan pada Senin, 9/3/2026 yang tak lepas dari sejumlah sentimen yang muncul usai sebagian ekonom menyampaikan pandangan bahwa ekonomi Indonesia menuju resesi.

Hal ini disampaikannya merespons nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan pada perdagangan.

“Rupiah 17.000, IHSG anjlok karena sebagian teman-teman ekonom bilang kita sudah resesi menuju 1998 lagi, daya beli sudah hancur,” ujar Purbaya usai sidak di Pasar Tanah Abang pada Senin, 9/3/2026. Purbaya menegaskan kondisi ekonomi nasional saat ini tidak seperti yang dikhawatirkan.

Ia mengatakan bahwa aktivitas ekonomi masih berada dalam fase ekspansi. Menurut Purbaya, pemerintah terus berupaya menjaga daya beli masyarakat agar tetap kuat.

Purbaya menilai bahwa perekonomian belum menunjukkan tanda perlambatan, terutama menuju resesi.

“Ekonomi sedang ekspansi. Daya beli kita jaga mati-matian. Jangankan krisis, resesi saja belum. Bahkan perlambatan juga belum, kita masih ekspansi dan masih akselerasi,” tuturnya.

Purbaya pun meminta agar pelaku pasar, khususnya investor di pasar saham, tak perlu khawatir terhadap kondisi saat ini.

Pemerintah, lanjutnya, terus menjaga fondasi ekonomi agar tetap kuat.

Ia menyebut Indonesia sudah mempunyai pengalaman dalam menghadapi berbagai gejolak ekonomi global dan hal tersebut dapat untuk meredam gejolak yang terjadi di pasar keuangan.

“Jadi tidak perlu takut. Kita punya pengalaman dan pengetahuan yang cukup untuk memitigasi gejolak yang ada, tentu dengan langkah-langkah yang diperlukan,” tuturnya.

Sebelumnya diketahui, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 5,41 persen atau turun 410,73 poin ke level 7.174 pada perdagangan Senin, 9/3/2026 pagi.

Berdasarkan data RTI Business pada pukul 9.10 WIB, IHSG sebelumnya dibuka di level 7.374, tetapi langsung mengalami tekanan jual pada awal perdagangan. Sepanjang sesi awal, Indeks tercatat menyentuh level tertinggi 7.374 dan level terendah 7.156.

Penurunan Indeks terjadi di tengah dominasi saham yang bergerak di zona merah. Tercatat hanya 30 saham menguat, sementara 658 saham melemah, dan 40 saham bergerak stagnan.

Aktivitas perdagangan terpantau cukup tinggi sejak awal sesi. Volume transaksi mencapai 11,52 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp5,02 triliun dan frekuensi transaksi sebanyak 501.659 kali. Seiring pelemahan indeks, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) tercatat sebesar Rp12.862,75 triliun.

Distribusi transaksi menunjukkan aktivitas investor domestik masih mendominasi. Dari sisi volume, transaksi domestik mencapai 79,78 persen, sementara investor asing berkontribusi 20,22 persen. Pembelian domestik tercatat 27,1 miliar saham, sedangkan penjualan domestik mencapai 27,5 miliar saham.

Dari sisi nilai transaksi, total turnover tercatat sebesar Rp17,8 triliun, dengan porsi transaksi domestik sebesar 66,02 persen dan investor asing 33,98 persen. Nilai beli asing tercatat Rp5,9 triliun, sementara nilai jual asing mencapai Rp6,2 triliun.

Frekuensi transaksi juga didominasi investor domestik dengan porsi 81,77 persen, sementara investor asing menyumbang 18,23 persen.

Sejumlah saham berkapitalisasi besar tercatat melemah pada awal perdagangan, di antaranya PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 2,14 persen ke level 6.850, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) melemah 2,45 persen ke 3.580, hingga PT Petrosea Tbk (PTRO) yang turun 13,51 persen ke 4.290.

Saham sektor energi seperti PT Bumi Resources TBK (BUMI) juga turun 11,30 persen ke level 204. *