Senin, 09 Maret 2026
Menu

Harga Minyak Dunia Tembus US$100 per Barel

Redaksi
Minyak Dunia | Ist
Minyak Dunia | Ist
Bagikan:

FORUM KEADILAN – Harga minyak dunia melonjak tajam hingga menembus US$100 per barel usai pasokan dari Timur Tengah terganggu akibat konflik Iran yang membuat Selat Hormuz masih tutup.

Sebagai informasi, pada perdagangan Senin, 9/3/2026, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) melonjak 18,98 persen atau US$17,25 menjadi US$108,15 per barel. Sementara itu, minyak acuan global Brent naik hingga 16,19 persen atau US$15,01 ke level US$107,70 per barel.

Lonjakan tersebut memperpanjang reli harga minyak usai pekan lalu minyak mentah AS tercatat melonjak sekitar 35 persen yang disebut sebagai kenaikan mingguan terbesar dalam sejarah perdagangan futures sejak 1983.

Diketahui, terakhir kali harga minyak menembus US$100 per barel terjadi setelah Rusia menginvasi Ukraina pada 2022.

Kenaikan harga dipicu pemangkasan produksi oleh sejumlah produsen besar di Timur Tengah, di saat masih tertutupnya Selat Hormuz yang merupakan jalur vital pengiriman energi dunia.

Kuwait yang merupakan produsen minyak terbesar kelima di OPEC, pada Sabtu mengumumkan pemotongan produksi minyak dan output kilang sebagai langkah pencegahan menyusul ancaman Iran terhadap keamanan kapal yang melintas di Selat Hormuz. Tetapi, Kuwait Petroleum Corporation tak merinci besaran pengurangan produksi tersebut.

Produk minyak di Irak pun dilaporkan anjlok tajam. Tiga pejabat industri menjelaskan kepada Reuters bahwa produksi dari tiga ladang minyak utama di Selatan Irak turun sekitar 70 persen menjadi hanya 1,3 juta barel per hari (BPH).

Sebelum perang dengan Iran pecah, ladang-ladang itu memproduksi sekitar 4,3 juta bph.

Lonjakan harga minyak dan gas yang berkepanjangan dapat memperburuk masalah keterjangkauan biaya hidup di Amerika. Hal tersebut Presiden AS Donald Trump dan Partai Republik berada dalam posisi politik yang rawan menjelang pemilihan paruh waktu (midterm elections) tahun ini.

Pada Minggu, 8/3/2026, administrasi Trump mencoba meredakan kekhawatiran bahwa kampanye militer yang dipimpin AS dan Israel terhadap Iran akan berdampak jangka panjang pada harga BBM di SPBU.

Trump menegaskan bahwa lonjakan harga bensin sebagai “gangguan kecil” dan menyebut lonjakan harga minyak yang tengah terjadi sebagai “pengalihan” atau detour yang sudah diproyeksi sebelumnya.

Di sisi lain, salah satu pejabat senior Iran memperingatkan bahwa konflik sudah memasuki “fase baru” usai serangan Israel. Pejabat itu memberikan sinyal bahwa Iran yang diduga akan membalas dengan menyerang infrastruktur energi di kawasan itu dalam beberapa hari mendatang.

“Iran tidak akan melepaskan kendali atas Selat Hormuz sampai target yang diinginkan tercapai,” ujar pejabat tersebut, Minggu, 8/3/2026.

Diketahui sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, mengungkapkan pemerintah sudah melakukan simulasi risiko (stress test) terkait lonjakan harga minyak mentah terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.

Berdasarkan perhitungan Kementerian Keuangan, harga minyak berpotensi menekan fiskal bila mencapai rata-rata US$92 per barel sepanjang tahun, dari asumsi harga minyak dalam APBN yang berada di kisaran US$60 per barel.

Purbaya menekankan bahwa skenario, defisit APBN dapat melebar hingga sekitar 3,6 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). *