Siswa SD Akhiri Hidup di NTT, DPR: MBG Tak Gunakan Anggaran Pendidikan
FORUM KEADILAN – Wakil Ketua Komisi X DPR RI Lalu Hadrian menegaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) sama sekali tidak menggunakan anggaran pendidikan. Ia memastikan program tersebut tidak akan mengganggu alokasi dana pendidikan yang telah diamanatkan dalam konstitusi.
Hal tersebut membantah dugaan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Anwar Abbas yang mengatakan, kasus bunuh diri siswa sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak akan terjadi apabila sebagian dana MBG disisihkan untuk sektor pendidikan.
Lalu menjelaskan, pihaknya telah menerima informasi secara rinci terkait sumber pendanaan MBG. Menurutnya, Presiden telah berkomitmen untuk menambah anggaran pendidikan melalui program revitalisasi sarana dan prasarana sekolah.
“MBG pada prinsipnya tidak akan mengganggu anggaran pendidikan, karena Presiden sudah berkomitmen menambah anggaran melalui revitalisasi sarana dan prasarana untuk memperbaiki infrastruktur pendidikan di sekitar 60 ribu sekolah. Artinya, anggaran pendidikan justru akan ditambah,” katanya, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis, 5/2/2026.
Dengan penambahan tersebut, lanjutnya, anggaran pendidikan bahkan akan melampaui ketentuan 20 persen mandatory spending sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945. Ia pun mengapresiasi berbagai masukan dari masyarakat yang mengingatkan agar anggaran pendidikan tidak dikurangi.
“Bagus memang masukan dari para pihak yang mengatakan jangan mengganggu anggaran pendidikan,” ujarnya.
Lebih lanjut mengenai peristiwa tragis anak di NTT, Lalu menilai, persoalan utamanya bukan terletak pada ketiadaan anggaran, melainkan pada penyaluran bantuan yang belum optimal. Ia menyebut Program Indonesia Pintar (PIP) sejatinya telah tersedia, namun realisasinya belum maksimal.
“Kalau kita baca kronologis peristiwa di NTT itu, sebenarnya PIP-nya sudah masuk, tetapi penyalurannya yang belum maksimal. Sekarang kita cari kenapa penyaluran ini tidak bisa berjalan maksimal, hingga anak menjadi frustrasi karena keterbatasan ekonomi,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya peran pemerintah daerah, baik Pemerintah Kabupaten Ngada maupun Pemerintah Provinsi NTT, untuk memastikan pemanfaatan sekolah rakyat yang diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga miskin.
“Sekolah rakyat yang hari ini diperuntukkan bagi warga miskin harus betul-betul dimanfaatkan untuk menuntaskan persoalan tersebut,” pungkasnya.
Diketahui, seorang siswa kelas IV berinisial YBR di salah satu sekolah dasar di Kabuparen Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) ditemukan tewas tergantung di dahan pohon cengkeh pada Kamis, 29/1.
Korban berusia 10 tahun ini disebut pernah meminta dibelikan buku tulis dan pena kepada sang ibu sebelum ia mengakhiri hidupnya.
Usai pemeriksaan polisi, diketahui bahwa sang ibu tidak bisa memenuhi permintahan sang anak lantaran tidak mempunyai uang yang cukup.
Berdasarkan keterangan saksi bernama Gregorius Kodo menyebut bahwa korban korban menghadapi banyak tantangan hidup yang akhirnya membuat anak tersebut tinggal bersama neneknya.
Ibunda korban berinisial MGT (47), saat pemeriksaan polisi mengaku bahwa pada malam sebelum peristiwa tersebut terjadi, korban sempat menginap di rumahnya. Keesokan paginya sekitar pukul 6 pagi, dirinya meminta tukang ojek mengantarkan sang anak yang merupakan korban, ke pondok neneknya.
MGT juga mengaku pernah menasihati sang anak untuk terakhir kalinya supaya tetap rajin bersekolah.
Berdasarkan pemeriksaan polisi, MGT mengaku kondisi ekonomi keluarga masuk dalam golongan terbatas dan juga menghadapi berbagai kekurangan.
Setelah itu, korban ditemukan meninggal dunia pada Kamis, 29/1 dalam kondisi tergantung di sebuah dahan pohon cengkeh. Tempat kejadian perkara (TKP) berada tidak jauh dari pondok tempat tinggalnya bersama sang nenek.
Dalam penyelidikan petugas Kepolisian yang dilakukan di TKP, ditemukan sebuah surat yang diduga ditulis tangan oleh korban dengan bahasa Ngada untuk sang ibu. Terlihat dalam surat tersebut juga korban meminta sang ibu untuk merelakannya pergi terlebih dulu. Pada surat itu juga ditulis supaya ibunda merelakan dan tidak perlu menangis, mencari, bahkan merindukannya. Di bagian akhir surat tersebut terdapat gambar yang menyerupai emoji berwajah menangis.*
Laporan oleh: Novia Suhari
