Rabu, 04 Februari 2026
Menu

Purbaya Optimis Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tembus 6 Persen

Redaksi
Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa dalam acara Indonesia Economic Summit (IES) 2026 di Shangri-La Jakarta, Jakarta Pusat, Selasa , 3/2/2026. | Dok Kementerian Keuangan RI
Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa dalam acara Indonesia Economic Summit (IES) 2026 di Shangri-La Jakarta, Jakarta Pusat, Selasa , 3/2/2026. | Dok Kementerian Keuangan RI
Bagikan:

FORUM KEADILAN – Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, optimis pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat menembus level 6 persen.

Optimisme itu, menurutnya, karena didorong oleh perubahan arah kebijakan ekonomi yang saat ini dinilainya lebih tepat dibandingkan periode sebelumnya.

“Karena sekarang menterinya lebih baik dari sebelumnya,” ujar Purbaya dalam acara Indonesia Economic Summit (IES) 2026 di Shangri-La Jakarta, Jakarta Pusat, Selasa , 3/2/2026.

Pertanyaan itu mengacu pada perbandingan pendekatan kebijakan ekonomi saat ini dengan periode sebelumnya saat jabatan Menkeu dipegang oleh Sri Mulyani Indrawati.

Ia menilai bahwa pendekatan kebijakan fiskal dan pengelolaan ekonomi saat ini lebih mampu mendorong pertumbuhan secara seimbang.

Purbaya menjelaskan bahwa selama sekitar 20 tahun terakhir, mesin pertumbuhan ekonomi lebih banyak ditopang sektor swasta, sementara peran pemerintah dinilai minim. Namun, pada periode berikutnya pemerintah terus-menerus membangun infrastruktur, tetapi sektor swasta justru tidak bergerak seiring.

“Selama 20 tahun, mesin pertumbuhan kita pincang. Sepuluh tahun pertama hanya sektor swasta yang jalan, sementara pemerintah hampir tidak melakukan apa-apa,” tuturnya.

Menurut Purbaya, kondisi itu membuat pertumbuhan ekonomi sulit melampaui level 5 persen secara berkelanjutan. Oleh karena demikian, kondisi ini membuat pertumbuhan ekonomi sulit melampaui level 5 persen secara berkelanjutan.

Oleh karena itu, kebijakan ekonomi saat ini diarahkan untuk menggerakkan kembali dua mesin pertumbuhan sekaligus, yaitu peran aktif pemerintah dan sektor swasta.

“Sekarang kami berusaha menggerakkan dua-duanya, pemerintah dan swasta. Dengan kombinasi itu, pertumbuhan di atas 6 persen menjadi lebih mudah dicapai,” imbuhnya.

Purbaya juga merespons kekhawatiran investor terkait Independensi Bank Indonesia (BI) menyusul dengan penunjukkan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur BI. Thomas diketahui adalah keponakan Presiden Prabowo Subianto.

Purbaya pun menegaskan bahwa penunjukkan itu tidak mengganggu Independensi bank sentral.

Ia menilai bahwa Thomas mempunyai kapasitas dan pengetahuan yang memadai hingga menekankan koordinasi antara pemerintah dan bank sentral tak berarti intervensi.

“Bank sentral tetap independen. Kebijakan moneter dan fiskal dijalankan terpisah, tapi tetap ada koordinasi. Itu praktik yang juga dilakukan di banyak negara,” pungkasnya. *