Kamis, 22 Januari 2026
Menu

Bahlil Targetkan Indonesia Hentikan Impor BBM pada 2027

Redaksi
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam Rapar Kerja bersama Komisi XII DPR RI, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis, 22/1/2026 | YouTube TVR Parlemen
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam Rapar Kerja bersama Komisi XII DPR RI, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis, 22/1/2026 | YouTube TVR Parlemen
Bagikan:

FORUM KEADILAN – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan pemerintah menargetkan penghentian impor sejumlah jenis bahan bakar minyak (BBM) pada 2027. Rencana ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor produk BBM jadi.

Bahlil mengungkapkan, mulai 2026, pemerintah telah menyusun peta jalan agar pada akhir 2027 Indonesia tidak lagi mengimpor bensin dengan RON 92, RON 95, dan RON 98. Ke depan, impor akan difokuskan pada minyak mentah (crude oil), bukan lagi produk BBM olahan.

“Untuk 2026 ini kami sudah merancang sampai 2027 tidak lagi melakukan impor bensin RON 92, 95, dan 98. Ini akan kami selesaikan di akhir 2027 supaya kita tidak terlalu banyak mengimpor produk, tapi lebih kepada impor crude,” katanya dalam Rapar Kerja bersama Komisi XII DPR RI, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis, 22/1/2026.

Selain bensin, kebijakan serupa juga diterapkan pada avtur. Menurut Bahlil, pemerintah bersama PT Pertamina saat ini bekerja keras agar kelebihan produksi solar sebesar 1,4 juta kiloliter dapat dikonversi menjadi bahan baku untuk membangun produksi avtur dalam negeri.

“Avtur juga demikian. Dengan kelebihan solar sekitar 1,4 juta kiloliter, itu akan kita konversi menjadi bahan baku untuk membangun avtur, sehingga 2027 betul-betul kita sudah tidak melakukan impor avtur, solar C51, serta bensin RON 92, 95, dan 98,” ujarnya.

Dengan kebijakan tersebut, pada 2027 Indonesia hanya akan mengimpor bensin RON 90 yang diperuntukkan bagi BBM bersubsidi.

Bahlil juga melaporkan perkembangan program mandatori biodiesel. Ia menjelaska, konsumsi solar nasional saat ini berada di kisaran 38–39 juta kiloliter per tahun. Seiring dengan implementasi B40 dan beroperasinya fasilitas Refinery Development Master Plan (RDMP) Pertamina di Balikpapan, Indonesia kini mengalami surplus solar sekitar 1,4 juta kiloliter.

“Karena kita surplus 1,4 juta kiloliter, maka pada 2026 kita tidak lagi melakukan impor solar,” jelasnya.

Namun demikian, untuk jenis solar C51, impor masih dilakukan pada semester pertama 2026 karena proses penyesuaian dan desain mesin masih berlangsung. Impor tersebut, menurut Bahlil, akan dihentikan pada semester kedua 2026 dengan volume impor yang relatif kecil.

“Semester satu tetap C51 kita impor, tapi volumenya tidak banyak. Semester kedua sudah tidak impor lagi,” pungkasnya.*

Laporan oleh: Novia Suhari