Rommy Sebut PPP Butuh Ketum ‘Superman’ bukan ‘Suparman’ untuk Kembali ke Parlemen

FORUM KEADILAN – Ketua Majelis Pertimbangan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Muchammad Romahurmuziy atau Rommy mengungkapkan bahwa saat ini, partainya membutuhkan sosok luar biasa atau ‘Superman’. Sosok tersebut diperlukan untuk mengembalikan partai tersebut ke parlemen.
Rommy memandang bahwa mengembalikan partai berlambang Ka’bah tersebut ke Senayan merupakan tantangan yang sangat berat. Maka, tugas tersebut hanyalah dapar diemban oleh sosok yang sangat kuat dan luar biasa.
“Partai ini butuh seorang Superman untuk bisa kembali ke Senayan. Bukan Suparman ya. Kalau Superman itu apa extraoedinary guy gitu ya,” ungkap Rommy di Vasa Hotel Surabaya dalam sela-sela Rakorwil PPP Jawa Timur (Jatim), Minggu, 29/6/2025 malam.
Sosok luar biasa kuat ini diperlukan oleh PPP lantaran dalam sejarah, belum pernah ada partai politik yang kembali ke kursi DPR usai gagal melampaui ambang batas parlemen.
“Kalau Suparman itu kan orang biasa. Nah, kita butuh yang memang luar biasa kuat karena tantangan untuk bisa kembali ke Senayan itu adalah memecah sejarah yang sudah berlangsung sejak tahun 1999 sampai sekarang. Artinya sudah 26 tahun belum pernah ada partai yang setelah keluar dari Senayan kembali. Nah, itu itu seorang Superman. Kita sedang cari Superman itu. Apakah dari planet Krypton atau dari planet lain begitu,” jelas Rommy.
Selain itu, Rommy juga memberikan tanggapan terkait kabar Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum (Ketum) PPP Muhammad Mardiono yang disebut-sebut akan ikut serta dalam pencalonan Ketum definitif pada Muktamar PPP.
Mardiono, kata Rommy, memang berhak mencalonkan diri seperti kader PPP lainnya. Akan tetapi, Rommy mengingatkan bahwa posisi ketum bukan hanyalah sekadar hak, namun harus berdasarkan pada prestasi. Hal ini sudah diatur dalam Anggaran Rumah Tangga PPP.
“Pak Mardiono masih kalau melihat dukungan yang muncul kemarin di NTT, kemudian di Papua ya. Kemudian DKI. Memang itu basis tradisional Pak Mardiono dan tentu adalah hak setiap kader partai untuk mencalonkan diri,” ujar dia.
Rommy juga menyindir prestasi Mardiono selama kepemimpinannya yang malah membuat perolehan kursi PPP di DPR turun drastis bahkan hingga tidak lolos pada Pemilu 2024.
“Tetapi kan kita juga mengikuti secara seksama bahwa ketua umum itu di dalam anggaran rumah tangga PPP itu harus seseorang yang memiliki prestasi. Nah, kalau dari 19 kursi kemudian hilang, apa itu bisa disebut prestasi?” sindir dia.
Rommy menyebut, keputusan akhir nantinya akan berada pada peserta Muktamar atau Muktamirin. Ia menjelaskan, jumlah suara pada Muktamar mencapai 700. Suara ini berasal dari seluruh PPP kabupaten/kota dan provinsi, serta suara tambahan berdasarkan perolehan kursi legislatif.
“514 kabupaten kota ditambah 34 provinsi berarti berapa tuh. 514+34 ya kurang lebih sekitar sekianlah ya ditambah dengan timbangan suara karena di PPP itu ada insentif untuk perolehan kursi di atas empat itu ada tambahan kursi empat sampai lima ada tambahan satu, enam sampai tujuh ada tambahan dua dan seterusnya. Kurang lebih sekitar 700,” beber Rommy.
Muktamar PPP diprediksi akan berlangsung sengit seiring munculnya beberapa nama yang digadang-gadang akan menjadi lawan Mardiono pada perebutan kursi ketum PPP.
Nama-nama tersebut pun dibeberkan oleh Rommy. Mereka yang berasal dari eksternal di antaranya, Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman, mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal (Purn) Dudung Abdurachman.
Kemudian ada mantan Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) PPP Sandiaga Uno, Wakil Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Taj Yasin Maimoen, hingga mantan Ketum PPP 2020-2022 Suharso Monoarfa.
Adapun Muktamar PPP akan digelar pada 29 Oktober hingga 1 November 2025 mendatang di Bali. Agenda paling krusial ini digelar untuk menentukan arah dan langkah partai ke depannya.*