Skandal Tarian Setan Di Pantai Kartini Jepara

0

Dalam rangkaian kegiatan  1st Anniversary Jepara N Max Owner yang digelar pada Sabtu 14/4/2018 di Pantai Kartini ada tarian erotis. Tarian ini melukai warga Kota Ukir. Berbagai kalangan di Kabupaten Jepara mengecam tarian erotis itu, bahkan warga juga  menyebut tarian tersebut sebagai tarian setan.

Aksi tarian erotis yang dilakukan tiga perempuan berpakaian bikini tersebut viral setelah diuplod oleh netizen. Berbagai kalangan langsung menghujat aksi pornoaksi yang dipertontonkan di depan umum tersebut.

Selain hujatan di media sosial, kecaman terhadap tarian pornoaksi itu juga diwujudkan dalam aksi nyata. Salah satunya saat kegiatan sepeda santai yang digelar untuk memperingati Harlah NU ke-95 di Alun-alun Jepara, Minggu (15/4/2018).

Peserta sepeda santai yang merupakan warga nahdliyin di Kota Ukir membentangkan sejumlah kertas karton yang berisi kecaman terhadap kegiatan pornoaksi di Pantai Kartini tersebut. Beberapa diantaranya bertuliskan “Stop Porno Aksi Usut Tuntas”, “Tragedi Pantai Kartini, Sabtu 14 April 2018, Jepara Menangis”, “USUT Pornoaksi di Pantai Kartini, “Jangan Ciderai Emansipasi Dengan Tarian Setan”, “Usut Tuntas Penari Setan” dan lain sebagainya.

“NU Jepara mengecam keras pornoaksi di Pantai Kartini. Persoalan ini harus diusut tuntas,” kata Wakil Ketua PCNU Jepara, Hisyam Zamroni, Minggu (15/4/2018).

Kecaman juga disampaikan oleh berbagai elemen lainnya. Mulai dari ormas kepemudaan, pegiat sosial, hingga anggota dewan yang ada di Kota Ukir.

Ketua PC Gerakan Pemuda Anshor Jepara, Syamsul Anwar dalam pernyataan sikapnya mengatakan segala bentuk pornoaksi tidak dapat dibenarkan karena menyalahi norma agama dan norma sosial. Porno aksi juga dapat mengancam kehidupan dan tatanan masyarakat.

“Kami mendukung pihak kepolisian untuk mengusut tuntas kasus porno aksi tersebut. Anshor mengajak seluruh lapisan masyarakat menolak segala bentuk kegiatan pornoaksi karena dapat merusak moral bangsa,” tandas Syamsul,

Jajaran Satreskrim Polres Jepara pun bertindak cepat. Dua orang panitia kegiatan pentas “penari setan” tersebut resmi ditetapkan sebagai tersangka kasus ini.

Awalnya, polisi lebih dulu menetapkan H alias G yang merupakan ketua seksi hiburan kegiatan 1st Anniversary Jepara N Max Owner sebagai tersangka. Setelah pengembangan kasus, polisi menetapkan lagi satu orang tersangka baru berinisial B.
“Yang bersangkutan (B) merupakan bagian dari panitia. Perannya ada dalam kasus tersebut,” kata Kasatreskrim Polres Jepara AKP Suharta, Minggu (15/4/2018) beberapa saat lalu.
Menurut Suharta, seiring penetapan status tersangka, pihaknya langsung melakukan penahanan terhadap H alias G maupun B. Penahanan ini untuk kepentingan penyidikan kasus yang memantik kecaman berbagai kalangan tersebut. “Langsung kita tahan,” jelasnya.
Kedua tersangka dijerat dengan Pasal 33 UU No 44 tahun 2008 tentang Pornografi. Ancaman hukumannya maksimal 15 tahun.
Ditanya soal tiga perempuan “penari setan”, Suharta mengatakan hingga kini jajarannya masih melacak keberadaan mereka. Sebab hingga Minggu (15/4) petang, ketiga perempuan yang menari erotis dan nyaris telanjang itu memang belum ditemukan. “Masih kita cari,” ucapnya.
Ketua Yayasan Kartini Indonesia, Hadi Priyanto mengatakan aksi tiga perempuan “penari setan” mencoreng nama “harum” pahlawan emansipasi perempuan Indonesia asal Jepara, RA Kartini.
Tindakan mereka juga merusak kehormatan Ratu Kalinyamat yang waktu penobatannya sebagai penguasa Kota Ukir ditetapkan sebagai Hari Jadi Jepara.

“Panitia kegiatan harus bertanggung jawab. Apalagi undangan kegiatan pentas amoral itu menggunakan gambar RA Kartini. Ini sangat memprihatinkan,” tandasnya.