Pesugihan Kerah Putih

0

 

 

Indonesia merupakan sumber yang kaya raya bagi kegiatan penelitian di bidang ilmu-ilmu sosial dan budaya. Sebab, Indonesia adalah negara dengan suasana sosial-politik-dan budaya yang membingungkan. Sebuah wilayah dengan penduduk besar dan kekayaan alam melimpah, tetapi tergolong negeri miskin. Negeri dengan para pamongpraja yang bergaji kecil, tapi kaya raya. Negeri demokratis dengan sistem mulitipartai, tetapi para politisinya menjadi ”pekerja” kaum pebisnis (di negara manapun hubungan saling menguntungkan antara  politisi dan pebisnis memang sulit dihindarkan, tetapi di Indonesia hubungan itu cenderung bersifat antara pesuruh dan majikan).

Walau kaya dengan sumber-sumber penelitian, namun justru peneliti, budayawan, dan seniman dari luar negeri yang dengan gemilang memanfaatkan Indonesia. Tiga nama berikut ini adalah contoh para sarjana Barat yang menjadi besar karena Indonesia.

Clifford James Geertz (San Francisco, 23 Agustus 1926Philadelphia, 30 Oktober 2006) adalah seorang ahli antropologi asal Amerika Serikat. Ia paling dikenal melalui penelitian-penelitiannya mengenai Indonesia dan Maroko dalam bidang agama (khususnya Islam), perkembangan ekonomi, struktur politik tradisional, serta kehidupan desa dan keluarga. Terkait kebudayaan Jawa, ia mempopulerkan istilah priyayi saat melakukan penelitian tentang masyarakat Jawa pada tahun 1960-an, dan mengelompokkan masyarakat Jawa ke dalam tiga golongan: priyayi, santri dan abangan.

Prof. Dr. Petrus Josephus Zoetmulder, S.J. (lahir di Utrecht, Belanda, 29 Januari 1906 – meninggal di Yogyakarta, 8 Juli 1995 pada umur 89 tahun). Ia adalah seorang ahli Sastra Jawa dan budayawan Indonesia. Ia terkenal dengan disertasinya mengenai penelitian tentang sebuah aspek agama Kejawen yang dalam edisi Indonesianya berjudul Manunggaling Kawula Gusti. Selain itu nama Zoetmulder tidak dapat dilepaskan dari telaah sastra Jawa Kuna Kalangwan dan kamus Jawa Kuna yang terbit dalam dua edisi, yaitu edisi Bahasa Inggris (1982) dan edisi Bahasa Indonesia (1995).

Profesor A.Teeuw adalah seorang filolog sekaligus guru besar Bahasa dan Kesusastraan Melayu dan Indonesia di Universitas Leiden, Belanda. Ketika menjadi dosen tamu di UGM (1977-1978), dia membaca banyak sajak (puisi) Indonesia.

Masih banyak peneliti asing mencapai tataran tertinggi di bidang keilmuan karena Indonesia. Karya-karya mereka pun menjadi bacaan wajib di berbagai universitas di Indonesia, karena bobot keilmuannya memang mengagumkan.

Peneliti Indonesia bukannya tidak ada yang hebat. Hanya saja sulit mencari contohnya. Ada yang sudah ternama, tapi tiba-tiba terjun ke dunia politik dan jadi ”pesuruh” ketua umum partai yang bukan ilmuwan bahkan tak lulus sarjana strata satu (S-1). Ada yang jadi staf ahli menteri atau Kapolri, bahkan jadi anggota Lembaga Swadaya Masyarakat bikinan mantan pejabat yang bukan Doktor, lalu berperan sebagai juru bicara orang yang membayar. Belakangan ada sekolompok profesor yang bergabung ke dalam Nasional Demokrat bentukan Surya Paloh yang gagal jadi Ketua Umum Golkar. Untunglah belum ada informasi ada Doktor dari kampus yang menjadi penasihat politik Julia Perez, penyanyi panas yang ingin mencalonkan diri sebagai wakil bupati.

Dimulai dari fenomena ilmuwan yang merapat ke partai, pejabat, politisi, atau calon kepela daerah, akan terlihat begitu banyak topik penelitian yang dapat dikembangkan dan dijadikan teori.

Dari staf ahli pejabat yang berperan sebagai juru bicara, misalnya, dapat ditelusur dan dipertanyakan ”mengapa porfesor jadi penyambung lidah kepentingan pejabat atau istitusi pejabat itu”. Bukankah staf ahli cukup di belakang dan bertugas memberikan pendapat yang obyektif, yang tetap bersikap kritis terhadap pejabat? Lalu diperolehlah temuan sementara bahwa karena pejabat tersebut mampu membayar mahal. Dari mana pejabat itu memperoleh uang untuk membayar, bukankah gajinya kecil? Setelah melakukan penelitian dengan seksama, ternyata gaji tidak penting. Yang penting adalah  ”gebetannya”. Untuk  melengkapi penelitian, dilakukanlah survei kecil—kecilan kepada para pegawai negeri. Walau gaji mereka kecil, ternyata mereka kaya. Contohnya Gayus Tambunan.

Nah, gebetan itulah rahasia kekayaan mereka. Karena di Indonesia gampang menggebet. Orang Indonesia – terutama kaum pribumi – berebut jadi pegawai negeri, polisi, jaksa, hakim, tentara, lurah, camat, dan semacamnya. Juga berbondong masuk partai untuk dengan harapan duduk di legislatif atau kebagian jatah di pemerintahan. Sebab dengan duduk di legislatif, mereka memiliki kewenangan untuk menentukan. Dan kewenangan tersebut dapat dimanfaatkan untuk menggebet. Dengan sekali gebetan tanpa keluar keringat, setoran pun mengalir deras.

Dari temuan di atas dapat diketahui bahwa motivasi orang Indonesia—khususnya warga pribumi – untuk jadi pegawai negeri atau politisi adalah karena menganggapnya sebagai pesugihan, bukan untuk mengabdi pada masyarakat.