Imajinasi Sesat Menjadi Kaya

0

 

Priyono B. Sumbogo

Menjadi orang kaya di muka bumi sebenarnya tidak terlalu sulit. Tidak perlu cemerlang dalam pendidikan. Setidaknya begitulah menurut penulis buku pengembangan kepribadian John C. Maxwell. Dalam sebuah surveinya, Maxwell menemukan bahwa 50 persen di­rektur utama dari perusa­haan yang terdaftar dalam Fortune 500 mendapatkan nilai C ketika kuliah. Lalu, 75 persen dari semua presi­den Amerika Serikat hanya mencapai peringkat mene­ngah ke bawah dalam ke­lasnya, dan lebih dari 50 persen jutawan tidak pernah selesai kuliah. Kunci sukses hidup mewah adalah semangat dan imajinasi untuk menjadi kaya.

Napoleon Hill secara garis besar menawarkan tiga resep untuk menjadi kaya. Pertama, tetapkan da­lam pikiran jumlah kekayaan yang diinginkan. Kedua, tetapkan waktu yang pasti kapan uang ter­sebut dimiliki. Ketiga, cip­takan rencana yang pasti untuk melaksanakan penca­paian keinginan itu dengan menyadari risiko yang akan ditanggung.

Baik Maxwell maupun Hill tidak membahas atau mengenyampingkan aspek moral, iman, dan segala ukuran mulia yang dapat menghalangi program menjadi kaya. Dapat ditafsirkan, Mazwell dan Hill, serta begitu banyak orang di muka bumi, memandang kekayaan sebagai faktor determinan (ukuran penentu) dari kehormatan, kemuliaan dan kesuksesan seseorang.

Entah karena membaca buku Maxwell dan Hill atau karena determinasi kekayaan telah menjadi ukuran universal, maka begitu banyak orang menjadi kaya dengan cara mengagetkan. Bermilyar rupiah dapat diraih cukup dengan membuat shabu di sebuah rumah toko (ruko). Manakala ditangkap, sebagian kekayaannya digunakan untuk memperkaya petugas hukum. Selanjutnya, ia justru menjadi sumber ”setoran” petugas negara. Hutan pun digunduli sampai jadi tanah kerontang di bawah lindungan beking-beking dan tukang pukul. Perempuan-perempuan desa, cungkok-cungkok (pelacur asal Cina), atau wanita kulit putih dari Uzbekistan dijadikan barang dagangan di tempat-tempat hiburan mewah yang dijaga lak-laki tegap berambut cepak serta pria-pria garang berbadan besar. Para perampok mengintai nasabah bank lalu menembaknya setelah merebut uang yang baru diambil dari kasir. Dengan enteng kewenangan di jajaran negara dinominalkan melebihi jasa pelayanan yang dikeluarkan. Pemberian tanda tangan yang hanya corat-coret beberapa detik dapat bernilai puluhan bahkan ratusan miliar rupiah.

Gagasan untuk kaya dan cara mencapainya seperti digambarkan di atas, bertentangan dengan misalnya pendapat Gayle Hamilton sebagaimana dikutip oleh Emy Trimahanani (2009). Hamilton menjunjung tinggi kredibilitas. Dan kredibilitas – yang secara ringkas dapat diterjemahkan sebagai ”tingkat keterpercayaan” – merupakan kualitas kepribadian individu yang tidak selalu berkorelasi dengan kekayaan. ”Anda tidak dapat mengikuti seseorang yang tidak dipercaya, yang tidak benar-benar mempercayai apa yang mereka lakukan dan bagaimana mereka melakukannya,” tulis Hamilton.

Berdasarkan pernyataan Hamilton tersebut, Emy menguraikan bahwa orang yang memiliki kredibilitas adalah orang yang melakukan apa yang mereka katakan atau ”orang yang menjalankan apa yang mereka katakan” atau ”seorang yang tindakannya konsisten dengan kata-katanya”. Dan yang penting, kredibilitas berkorelasi dengan nilai-nilai luhur yang dianut bersama, serta secara konsisten dijalankan oleh seseorang yang dianggap memiliki kredibilitas.

Kredibilitas akan menjadikan seseorang sebagai panutan atau bahkan pemimpin. Hanya saja, orang yang memiliki kredibilas belum tentu kaya, karena ia terikat oleh nilai-nilai yang mungkin menghalanginya untuk memperoleh kekayaan secara membabi buta. Nabi Muhamad SAW yang dijuluki Al-Amim (yang terpercaya) adalah orang miskin, dan tetap miskin walau sudah diangkat menjadi Rasul. Boleh dikatakan ia ”numpang makan”  (tanpa bermaksud merendahkan Muhamad) pada Siti Chadijah, janda kaya yang mencintai Muhamad karena terpikat oleh kredibilitas Sang Nabi. Isa Almasih (Yessus Kristus) dan Budha Gautama pun melarat ketika menyebarkan agamanya.

Tentu saja di zaman sekarang, tidaklah mudah dan tidak enak hidup seperti Muhamad, Yessus, atau Budha. Yang lebih enak mungkin seperti Nabi Sulaiman, yang berkuasa, saleh, sekaligus kaya raya. Punya istri cantik dam kaya pula, yakni Ratu Sheba.

Sulaiman dapat ditafsirkan sebagai contoh yang diturunkan Tuhan tentang manusia yang berhasil memadukan antara kekuasaan, kekayaan, dan nilai-nilai mulia. Dengan demikian Sulaiman adalah orang yang memiliki kredibilitas. Oleh sebab itu, daripada mengikuti pemikiran Maxwell, lebih baik menyimak kisah Nabi Sulaiman. Makmur di dunia, mati masuk sorga.

Muhamad, Isa Almasih, atau Budha Gautama tentu tidak melarang orang menjadi kaya. Namun pada saat harus memilih antara menjadi kaya dengan menuruti nafsu angkara dalam diri, maka lebih baik memilih mempertahankan kredibilitas walau harus hidup tidak kaya. Orang yang menjaga kredibilitas dijamin akan tetap memperoleh rejeki, kehormatan, kemuliaan, dan keabadian.

Sedangkan orang yang kaya dan/atau berkuasa dengan cara sembarangan, mungkin akan dihormati, dipuji, dan dituruti, selama dia kaya, berkuasa, dan membayar orang yang diharapkan memujinya. Setelah tidak kaya dan tidak membayar, ia akan ditinggalkan, dilupakan, dan dikubur dengan iringan doa ogah-ogahan.