Tegas dan Berani

Setya Novanto Bilang, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo Terima Suap e-KTP

0

Terdakwa kasus dugaan korupsi e-KTP dan mantan Ketua DPR dan Ketua Golkar, Setya Novanto, menuding Ganjar Pranowo, eks anggota Komisi II DPR yang kini berstatus Gubernur Jawa Tengah, menerima uang suap dari anggaran proyek Kementerian Dalam Negeri dalam kasus korupsi pengadaan KTP elektronik.

Namun Ganjar kontan membatahnya, dan terjadi adu mulut antara terdakwa Setya Novanto dan Ganjar yang merupakan saksi di persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (8/2/2018).

Setya menuturkan, mantan anggota Komisi II dari Fraksi Golkar, Mustokoweni, mengaku kepadanya telah memberikan uang suap kepada Ganjar.

Setya mengatakan suap itu berasal dari Andi Agustinus alias Andi Narogong, pengusaha yang telah divonis bersalah dalam perkara korupsi e-KTP.

Selain itu, Setya mengaku juga mendapatkan laporan serupa dari dua bekas anggota Komisi II, Miryam Haryani dan Ignatius Mulyono.

“Mostokoweni pernah pada saat ketemu saya, menyampaikan sudah berikan uang dari Andi untuk Komisi II dan di situ disebut juga Ganjar,” kata Setya.

“Andi saat ke rumah saya juga menyebut sudah menyerahkan kepada Komisi II, Banggar (Badan Anggaran DPR), dan untuk Ganjar,” tambahnya.

Ganjar menyangkal perkataan Setya. Ia mengklaim tidak pernah menerima uang suap proyek e-KTP, baik dari Mustokoweni yang meninggal pada Juni 2010 maupun Andi Narogong.

“Mustokoweni janjikan pernah ingin berikan langsung tapi saya tolak. Kalau Miryam katakan pernah berikan, di depan Pak Novel (Baswedan—penyidik KPK), dia katakan tidak pernah berikan uang kepada saya.

“Andi Narogong juga sama seperti itu. Cerita itu tidak benar,” kata Ganjar.

Tapi Setya menyatakan tetap teguh kepada ucapannya bahwa Ganjar turut menerima suap. Sebagaimana Ganjar, yang juga kukuh pada bantahannya.

Sebelumnya dalam surat dakwaan KPK untuk eks pejabat Kementerian Dalam Negeri yang telah divonis bersalah, Irman dan Sugiharto, Ganjar disebut menerima suap sebesar US$520 ribu.

Namun pada surat dakwaan Setya, jaksa tidak menuliskan dugaan tersebut. KPK beralasan, setiap dakwaan dapat dibuat berbeda, meski dalam satu perkara yang sama.

Juru Bicara KPK, Febri Diansyah, mengatakan perbedaan surat dakwaan semata-mata untuk memfokuskan pengungkapan perbuatan pidana yang dituduhkan pada terdakwa.

Leave A Reply

Your email address will not be published.