Tegas dan Berani

Diduga Tipu dan Gelapkan Dana Korban, Umi Rosydah, Dirut PT. BCDU Terancam Pidana 15 Tahun”

0

 

Jakarta.Forum Keadilan – Kasus Penipuan, Penggelapan dan atau Pencucian Uang yang melibatkan Direktur utama PT. Buana Cakra Dirgantara Utama (PT. BCDU) Umi Rosyidah terus berlanjut. Polisi telah menetapkan Umi Rosydah sebagai tersangka dan menahan tersangka dalam kasus tersebut.

Kasus yang bermula dari pinjaman dana modal Proyek ini, harus berakhir dalam laporan kepolisian setelah, Umi Rosydah tak juga memulangkan modal yang dipinjamnya dari Korban yang merupakan kerabat dekatnya sendiri Sepasang Suami Istri berinisial EW dan BS.

Sebagaimana dalam laporan polisi, Kronologis berawal dari hubungan via telepon dan pertemuan Umi Rosydah dengan Korban. Saat itu Umi Rosydah beberapa kali membujuk korban dan menyampaikan sedang kesulitan keuangan untuk membiayai proyek yang ada di lingkungan instansi pemerintah. Umi Rosydah kemudian menjelaskan kepada Korban terkait tiga hal, yakni:

Pertama, Perhitungan pembiayaan proyek tersebut dan proporsi pembiayaannya termasuk juga prosentasi keuntungan yang diperoleh Umi Rosyidah.

Kedua, dalam paparan perhitungan tersebut, Umi Rosyidah menjanjikan ke korban pemberian jasa setiap bulan dari jumlah uang yang dipinjam atau dipakai untuk pembiayaan proyek.

Ketiga Umi Rosyidah berjanji untuk mengembalikan dana yang dipinjam dalam waktu maksimal 1 tahun atau 365 hari sejak dana tersebut diterima, serta dana tersebut sepenuhnya hanya digunakan untuk membiayai proyek di lingkungan instansi yang di presentasikan tsb.

Untuk meyakinkan Korban, Umi Rosyidah juga mengajak korban melihat proyek yang menurut pengakuan Umi Rosyidah adalah proyeknya yang sedang berjalan di lingkungan instansi tsb, Umi Rosydah meyakinkan Korban, lebih utama bila membantu kerabat dalam berusaha atau berbisnis daripada membantu orang lain.

Umi Rosyidah baik sebagai pribadi atau pun sebagai Dirut PT. Buana Cakra Dirgantara Utama, meminta kepada korban untuk mentransfer uang sejumlah Rp 2,5 miliar dan menjanjikan akan menyampaikan kontrak kerja proyek atau Surat Perintah Kerja (SPK) yang ditangani Umi Rosydah kepada korban pada tanggal 28 Oktober 2015.

Umi Rosyidah kemudian menandatangani surat pengakuan menerima dana transfer sebesar Rp 2,5 miliar dari EW di mall Gandaria City yang disaksikan oleh BS (suami EW) dengan perjanjian jatuh tempo pelunasan tanggal 28 Maret 2016.

Sayangnya, setelah menerima dana tersebut, Umi Rosydah tak juga memberikan atau memperlihatkan SPK proyek dimaksud. Saat diminta, Umi Rosydah berdalih SPK hanya bisa diberikan setelah proyek atau kontrak 1 tahun selesai.

Bahkan menurut Korban, Umi Rosyidah mulai sulit untuk ditemui, meskipun saat itu masih dapat dihubungi.

Umi Rosyidah kemudian menjanjikan pelunasan jasa yang belum dibayarkan dan pengembalian dana sebesar Rp 2 miliar pada pertengahan Agustus 2016.

Janji pelunasan jasa yang belum dibayarkan dan pengembalian dana sebesar Rp 2 miliar tidak ditepati, padahal berdasar informasi yang diperoleh Korban, pada tanggal 12 Agustus 2016 PT. Buana Cakra Dirgantara Utama telah menerima pembayaran invoice proyek yang telah diselesaikan sebesar Rp. 3.987.681.500. Namun sayangnya Umi Rosyidah tidak bisa dihubungi dan ditemui.

Korban juga mendapatkan informasi bahwa pada bulan September 2016 Umi Rosyidah membentuk PT. baru bernama PT. Buana Cakra Persada Indonesia. Menurut Korban, konfirmasi informasi tersebut baru didapat pada pertengahan Januari 2017 melalui media sosial.

Dan Umi Rosyidah tetap tidak bisa dihubungi dan ditemui.

Antara bulan Oktober – Desember 2016, Korban berusaha secara intensif bertemu dengan ibu Umi Rosyidah baik secara langsung maupun tidak langsung di rumah dan di kantor tapi Umi Rosyidah tetap tidak berkeinginan, menghindar untuk bertemu dengan Korban untuk menyelesaikan masalah secara baik-baik.

Pada bulan Oktober 2016 tersebut, Korban juga mencoba menghubungi Umi Rosyidah melalui saudaranya yang mengurus usaha Umi Rosyida, tapi tidak ditanggapi dengan baik, dan tidak ada upaya menjembatani pertemuan korban dengan Ibu Umi Rosyidah.

Pada periode bulan yang sama, Korban juga beberapa kali bertemu pihak keluarga, berinisial AM yang tak lain adalah Suami Umi Rosyidah yang juga sebagai komisaris PT. Buana Cakra Dirgantara Utama. Saat itu AM mengakui bahwa uang dana sebesar Rp. 2.500.000.000, tidak dipergunakan sepenuhnya untuk membiayai proyek PT. Buana Cakra Dirgantara Utama di lingkungan instansi tsb. AM bahkan kemudian mempersilahkan Korban untuk melakukan tindakan hukum apabila menurut korban itu adalah tindak pidana.

Pada akhir bulan Desember 2016 Korban mendengar informasi bahwa semua proyek PT. Buana Cakra Dirgantara Utama di lingkungan instansi tsb. sudah dibayarkan invoicenya, tetapi tetap tidak dilakukan pembayaran atau pengembalian dana kepada Korban.

Atas dasar itulah, Upaya hukum dilakukan Korban sesuai saran AM (Sudah meninggal) selaku suami Umi Rosydah dan komisaris PT. Buana Cakra Dirgantara Utama disamping pendekatan persuasif dan kekeluargaan yang telah dilakukan Korban.

Saat ini upaya hukum atas kasus dugaan penipuan, penggelapan dan atau pencucian uang yang dilakukan terduga Umi Rosydah sudah sampai tahap P21.

Umi Rosyidah alias Ida disangkakan melanggar pasal penipuan, penggelapan dan tindak pidana pencucian uang dengan ancaman hukuman hingga 15 tahun penjara.(s handoko)

Leave A Reply

Your email address will not be published.