Enam Warga Suku Anak Dalam (SAD) Tertembak Polisi Satu Orang Tewas, dan Lima Orang Terluka Tembak

0

Lagi – lagi citra Polri ternodai oleh ulah oknum Polisi. Enam warga Suku Anak Dalam (SAD) di hujani dengan tembakan sejata api, hingga mengalami luka-luka, dan seorang mantan Informan Polisi tewas dengan 6 butir tembakan peluru senjata api.

Berdasarkan keterangan yang dihimpun forumkeadilan.com menyebutkan. Peristiwa itu terjadi ada hari Selasa malam (19/6), warga SAD Pasir Putih, Kecamatan Pelepat,  Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi. mendatangi Polsek Kecamatan Pelepat, Kabupaten Bungo, dengan mengendarai sekitar 12 sepeda motor, sambil membawa pentungan kayu sepanjang 1 meter. Kedatangan Warga SAD Pasir Putih ini dipimpin oleh Tumenggungnya yang dikenal bernama “Badai,” dan seorang warganya bernama Heri.

Kedatangan Warga SAD Pasir Putih secara ber-ramai-ramai, untuk masuk ke Mapolsek Pelepat, membut kaget sejumlah Polisi yang sedang bertugas pada waktu itu. Sehingga Polisi beranggap an, bahwa mereka (warga SAD) akan melakukan penyerangan. Sehingga Polisi me-merintahkan warga SAD ini untuk keluar dari ruangan Mapolsek Pelepat. Tetapi, warga SAD ini, yang banyak tidak memahami bahasa Indonesia, tetap saja “nyelonong,” masuk ke Mapolsek Pelepat. Walaupun sudah diberi tiga kali tembakan peringatan ke udara, oleh Polisi. Diantaranya yang masuk ke ruangan Mapolsek itu adalah “Badai,” dan Heri.

Akhirnya, Tumenggung “Badai” dan “Heri” ditahan oleh polisi, untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Setelah beberapa jam menunggu “Badai” dan “Heri” belum juga keluar dari Mapolsek tersebut, kemudian warga SAD Pasir Putih ini melempari kantor Mapolsek Pelepat, dengan batu. Sehingga, sejumlah kaca di kantor Mapolsek tersebut, mengalami pecah. Hal ini menyulut emosi Polisi yang sedang bertugas, sehingga menghujani warga SAD itu, dengan sejumlah tembakan senjata api.

 

Yatim (18) mengalami luka tembak di betis sebelah kiri dan pergelangan tangan sebelah kanan (istimewa)

Dalam aksi penembakan itu diketahui, 5 orang warga SAD Pasir Putih mengalami luka tembak. Dianatarnya bernama Bujang (35) mengalami luka tembak di paha sebelah kanan, serta Yatim (18) mengalami luka tembak di betis sebelah kiri dan pergelangan tangan sebelah kanan. Supri (15) luka tembak di betis kanan, Unom (20) mengalami luka tembak di paha  kanan, Buyung (16) luka tembak di pergelangan kaki sebelah kanan, dan patah tulang. Hal ini diketahui dari para Medis yang merawatnya di RSUD H Hanafie Muarabungo, sejak pukul 01.00 WIB dini hari, Rabu (20/06/2018).

Insiden pertikaian, antara suku SAD Pasir Putih, Kecamatan Pelepat. Kabupaten Bungo, dengan Ilham, warga SAD Nalo Tantan, Kabupaten Merangin ini pernah terjaditerjadi pada Tahun 2017 yang lalu. Tetapi berhasil didamaikan, oleh pihak Pemda Kabupaten Bungo, bersama pihak Polsek, Kecamatan Pelepat, Kabupaten Bungo. Dalam mediasi ini dibuat perjanjian, antara kedua belah pihak warga SAD yang bertikai (Sad Pasir Putih dengan Ilham, warga SAD Nalo Tantan.) Keduanya menyatakan, kalau masing-masing pihak tersebut kembali membuat masalah kericuhan, sesuai dalam ketentuan adat mereka, maka akan dikenakan denda, dua kali lipat, dari masalah adat yang sudah diselesaikan pada tahun 2017 itu.

Pada hari Sabtu (16/6), warga SAD Pasir Putih yang berjumlah 55 Kepala Keluarga (KK), statesnya sudah mualaf itu, dikunjungi oleh Ilham, kelompok SAD dari Nalo Tantan, Kabupaten Merangin, pada hari lebaran kedua Idul Fitri 2018 yang lalu. Dalam kunjungan tersebut, Ilham ada mengeluarkan ucapan yang tidak menyenangkan. Sehingga warga SAD Pasir Putih, melaporkannya kepada Ketua Lembaga adat SAD Pasir Putih. Sehingga warga SAD Pasir Putih merencanakan, untuk melakukan penyerangan, mendatangi kelompok warga SAD Nalo Tantan. Tetapi, masalah ini sempat tercium oleh pihak Mapolsek Pelepat.

Guna menghindari terjadinya hal- hal yang tidak diinginkan, akhirnya. Pihak Mapolsek Pelepat, bersama aparat Kecamatan Pelepat, pada hari Minggu (17/6) mendatangi warga SAD di Komplek Perumahan Pasir Putih. Dalam pertemuan itu, rencana untuk melakukan penyerangan terhadap warga SAD Nalo Tantan, Kabupaten Merangin, berhasil diredam. Tetapi entah disebabkan apa, pada hari Senin (18/6) warga SAD Pasir Putih ini, kembali mendatangi pihak polsek Pelepat, dengan maksud dan tujuan untuk melaporkan perbuatan yang dilakukan oleh Ilham, saat berkunjung ke warga SAD Pasir Putih, Pada hari Sabtu (16/6).

Unom (20) mengalami luka tembak di paha kanan (Istimewa)

Kedatangan beberapa orang warga SAD Pasir Putih pada hari Senin (18/6) ke Mapolsek Pelepat, ketika itu menuai rasa kecewa. Salah seorang oknum Mapolsek Pelepat ada yang mengatakan bahwa, masalah perbuatan Ilham, warga SAD Nalo Tantan, Kabupaten Merangin, bukan termasuk dalam wilayah kerja Polsek Pelepat. Akhirnya, pada Selasa sore (19/6) sekitar jam 17.30 Wib, warga SAD Pasir Putih secara beramai ramai, kembali mendatangi Polsek Pelepat, untuk minta kejelasan, agar Polisi bisa menangkap Ilham. Hingga terjadinya kericuhan dan penembakan oleh oknum Mapolsek Pelepat.

Masalah kericuhan ini berhasil diredam, setelah Dandim 0416/Bute bersama Pasi intel Dim 0416/Bute, dan Babinsa mendatangi “Indah,” salah seorang pengurus SAD Pasir Putih, sebagai upaya untuk negosiasi. Akhirnya disepakati, kelompok SAD Pasir Putih meminta, agar Tumeng gungnya (Badai) dan Heri, tidak ditahan (dilepaskan oleh Mapolsek Pelepat) dan kelompok SAD yang terluka akibat tembakan anggota Polsek Pelepat, segra diobati oleh pihak Kepolisian. Pihak SAD Pasir Putih juga menyatakan untuk menarik diri, dari berkerumun di Mapolsek Pelepat. Hingga keadaan menjadi kondusuf.

Terkait dengan insiden penembakan itu. Rudi Syaf, Direktur Eksekutif  Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) WARSI, sebagai lembaga pendamping Suku adat marjinal – SAD (Suku Anak Dalam,) Provinsi Jambi, menyatakan rasa penyesalannya, atas terjadi nya kasus penembakan terhadap 5 warga SAD, oleh oknum Polsek Kecamatan Pelepat, Kabupaten Bungo. “Tidak seharusnya aparat melepaskan tembakan ke arah Orang Rimba (SAD). Mereka bukan penjahat kelas kakap,” ungkap Rudi. “ Kelompok orang Rimba itu masih sangat sedikit pengetahuannya tentang hukum positif yang berlaku di negeri ini,” kata Rudi.

Menurut Rudi Syaf, “ Seharusnya aparat menjadi pengayom yang baik, untuk semua kelompok masyarakat, termasuk bagi kelompok Orang Rimba yang masih sangat sedikit pengetahuannya tentang hukum positif yang berlaku di negeri ini,” jelas Rudi. Untuk itu menurut Rudi, WARSI mengimbau kepada aparat pemerintah dan kepolisian untuk menyelesaikan masalah ini dengan bijak  dan menunjukkan, bahwa negara hadir untuk mengayomi semua kelompok masyarakat termasuk Orang Rimba. Tidak hanya itu, yang paling penting juga adalah, melihat akar masalah yang sesunggunya.

Keluarga temukan longsongan peluru, dilokasi penembakan Indrawan (istimewa)

Menurut Rudi Syaf, kelompok marjinal, berbeda dengan masyarakat biasa. “Orang rimba ini secara pendidikan tidak ada yang sekolah formal, apa lagi yang sudah tua-tua itu, mungkin yang mendapatkan pendidikan baru sebatas anak-anak mereka. Yang tua ini tidak pernah sekolah, pendidikan sangat rendah,” jelas Rudi. seharusnya pihak kepolisian tidak melepaskan tembakan ketika kerusuhan warga SAD itu terjadi, karena hanya membuat situasi makin memanas. “Seharusnya pihak kepolisian melakukan pendekatan, khusus kepada para SAD. Karena yang dihadapi pihak kepolisian ini adalah masyarakat marjinal.

 

Rudi juga mengatakan, kedatangan kelompok SAD ke Mapolsek Pelepat, merupakan bukti, warga SAD masih menghormati pihak kepolisian, dan maksudnya untuk meminta bantuan, agar masalah yang mereka alami (menuntut haknya dari Ilham,) yang telah melanggar ketentuan yang telah disepakati oleh Adat SAD, untuk membayar denda Adat, dapat dipenuhi, dan mendatangi Polisi, untuk minta bantuan penyelesaianya. “Mereka datang ke kantor Polisi, untuk minta bantu menyelesaikan masalah konflik mereka yang menuntut denda adat, belum dibayarkan,” kata Rudi.

Masalah ini telah dilakukan Mediasi perdamaian, di Kantor Camat Pelepat. Dalam acara itu dihadiri oleh Wakil Bupati Bungo, Safarudin Dwi Apria, Kapolres Bungo, Komandan Kodim Bute, serta Wakil Kapolda Jambi. Namun, mediasi yang dilakukan Pada hari Rabu (20/6) itu, terkesan hanya sepihak. Yang hadir dalam perdamaian itu hanya dari Pihak SAD Pasir Putih, Pelepat.  Sedangkan dari pihak SAD Merangin (Ilham,) tidak hadir dalam acara tersebut. Untuk itu, perwakilan dari SAD Pasir Putih meminta kepada Polsek Pelepat, agar dapat menangkap Ilham dan meminta, agar denda adat mereke dapat dibayar oleh Ilham.

Kapolda Jambi (kanan) dipeluk oleh Ibu Korban Indrawan dirumah Duka, didampingi Bupati Sarolangun Cek Endra (kiri) (Istimewa)

Masyarakat adat SAD Pasir Putih, dalam acara mediasi perdamaian yang dilakukan secara sepihak itu meminta dan menuntut, agar Ilham, warga SAD Nalo Tantan, Kabupaten Merangin, untuk menyelesaian pembayaran denda adat mereka, hingga dua minggu kedepan, sejak hari ini, Rabu (20/6/ 2018)  hingga Kamis (5/7/2018). Sementara itu, Wakil Bupati Bungo, Safarudin Dwi Apria menyatakan, untuk membantu biaya pengobatan, terhadap sumua warga SAD Pasir Putih yang tertembak, dan dirawat di rumah sakit. Safarudin, dalam acara itu berharap, agar masing-masing pihak yang bertikai dapat menjaga keamanan di lingkungannya.

Maksudnya. agar keributan tidak berlanjut. Selain itu Safarudin juga menghimbau pihak  kecamatan, dan pemerintahan dusun, untuk setiap saat daiapat membantu warga masyarakat, ketika ada masalah, harus di fasilitasi. Sementara itu Kepala kepolisian daerah (Kapolda) Jambi, Brigjen Pol Muchlis AS, juga berpesan kepada Kapolres Bungo, agar dapat mengambil upaya, dalam peristiwa kejadian ini, agar peristiwa serupa, tidak terulang. “Konflik kelompok SAD ini perlu segera kita selesaikan, agar kejadian ini tidak berbuntut panjang,” harap Kapolda Jambi.(Djohan)