33 Mati Di Jakarta, 35 Juga Mati Di Cicalengka Karena Miras Oplosan

0

 

Di Jakarta sekurangnya  33 orang tewas akibat menenggak minuman keras oplosan gingseng.Di Cicalengka Bandung juga sudah 33 yang mati konyol karena miras oplosan.

Pihak Kepolisian menyebut jumlah korban tewas akibat menenggak minuman keras oplosan jenis ginseng sementara ini 33 orang. Puluhan jiwa yang melayang karena miras opolosan tersebut tersebar di wilayah Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Depok, dan Bekasi.

Jumlah tersebut secara rinci, yakni delapan orang tewas di Jakarta Selatan, 10 orang di Jakarta Timur, delapan orang di Depok, dan dua di Pondok Gede, Bekasi.

Dari data yang dihimpun, delapan yang tewas di Jakarta Selatan, yakni W (32), AL (39), YH (32), FS (38) S(29), M (50), S (40), dan F (32). Kedelapan orang tersebut membeli miras oplosan di warung milik RS yang berada di Jalan Komjen Pol M Jasin, Srengseng Sawah.

Terkait ini Polres Jakarta Selatan telah menangkap RS sebagai penjual minuman dan menetapkannya sebagai tersangka.  Sedangkan 10 yang tewas di Jakarta Timur, yakni HD (19), R (39), DK (21), RP (28), AR (21), Y , FF, EY (56), dan AH (27).

Untuk delapan tewas di Depok, enam diantaranya membeli minuman keras di Srengseng Sawah, Jakarta Selatan. Mereka adalah M, A, A, I, H (26), dan MS (18). Sedangkan dua lainnya berinisial A (50) dan D (31) diketahui membeli miras di kawasan Pancoran Mas.

Meski demikian Kapolsek Pancoran Mas Kompol Roni Wowor menduga dua warga Pancoran Mas turut membeli miras di tempat yang sama dengan korban lainnya.

Meski demikian, Roni mengatakan pihaknya belum melakukan penangkapan terhadap penjual miras yang berada di Pancoran Mas. “Indikasinya ke arah RS, tapi masih perlu didalami,” tuturnya.

Sementara di Pondok Gede, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono membenarkan dua warga meninggal dunia akibat konsumsi miras opolosan. Kedua korban itu berinisial MR (20) dan A (32).
Kedua korban tersebut awalnya membeli miras oplosan bersama dengan tiga kawan lainnya. Ketiga orang itu adalah Y (24) yang sempat kritis di RS Hermina Bekasi tetapi sudah dipulangkan, kemudian D (26), AA (28), dan AT (47).

Keenam orang tersebut membeli miras pada Minggu (1/4) sekitar pukul 16.30 WIB. Argo mengatakan mereka membeli sebanyak enam bungkus kantong plastik.

“Korban membeli enam bungkus kantong plastik dan diminum oleh enam orang dibelakang rumah saudara AA, tapi dua masuk rumah sakit dan meninggal,” tuturnya.

Hingga kini, Argo mengatakan pihaknya masih menyelidiki peristiwa tersebut. Dia mengaku akan mencari penyuplai miras oplosan tersebut.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno mengimbau aparat lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mewaspadai fenomena peredaran minuman keras (miras) oplosan yang bisa mematikan. Termasuk juga yang ada di wilayah RT/RW untuk aktif mengawasinya.

“Jadi, kami mengimbau aparat yang ada di lingkungan Pemprov DKI untuk mewaspadai fenomena minuman keras oplosan ini. Termasuk juga yang ada di wilayah RT/RW untuk aktif memantau peredaran minuman keras ini. Karena kalau dicampur minuman keras ini mereka belum tentu mengerti dampaknya bagi kesehatan dan organ tubuh manusia,” kata Sandiaga di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (5/4).

Sandiaga Uno mengimbau kepada masyarakat untuk betul-betul berhati-hati dan waspada bahwa kejadian minuman keras oplosan berulang kali dan terus berulang memakan korban jiwa pula, dan kasus terakhir ini ada di dua lokasi.

“Ini merupakan suatu lampu merah buat kita, bukan lagi lampu merah karena korban jiwa itu tidak boleh ditoleransi sama sekali. Karena kalau dicampur minuman keras ini mereka belum tentu mengerti dari segi dampak bagi kesehatan dan organ tubuh manusia,” tutur Wakil Gubernur DKI Sandiaga Uno.

Dia mengingatkan, sudah terbukti bagaimana konsumsi minuman keras oplosan itu sudah memakan korban jiwa.

Caranya adalah bagaimana masyarakat bersama-sama pemerintah, aparat akan mengajak kepolisian, BPOM untuk memastikan untuk tidak mengkonsumsi minuman keras seperti itu.

“Kita waspada dan kita mengimbau secara resmi kepada masyarakat untuk tidak mengkonsumsi minuman keras, terutama minuman keras yang terlihat racikan sendiri, itu sangat berbahaya,” demikian Sandiaga Uno.

Pada peraturan daerah, kata Sandiaga sudah ada penentuan siapa yang boleh jual minuman keras, seperti apa kemasannya dan sebagainya. “Itu harus diikuti dan ini yang dilakukan dengan konsumsi minuman keras oplosan ini jelas melanggar ketentuan dan perundang-undangan,”  Sandiaga menambahkan.

Kapolres Jakarta Selatan Kombes Indra Djafar mengatakan Warung jamu penyedia minuman keras (Miras) oplosan di Jagakarsa, Jakarta Selatan milik RS terkenal sampai ke Depok. RS menjual miras oplosan berbagai rasa dengan harga murah.

“Harganya Rp 20.000 per plastik. Itu terjangkau sekali,” kata Kombes Indra JafarKamis (5/4).

RS hanya menjual miras racikannya di warung jamunya. Sementara itu, pelanggan tidak hanya datang dari Jagakarsa.
“Sekitar tempat itu saja, cuma ada yang lintas wilayah seperti Depok karena perbatasan. Kalau terlalu jauh juga enggak,” kata Indra.

RS meracik sendiri miras oplosan itu. Komposisinya terdiri dari 96 persen alkohol, minuman energi, minuman bersoda dan esens untuk penambah rasa.

Pelanggan yang datang sudah mengetahui miras oplosan yang dijual beraneka rasa. Sebelum ada kasus orang meninggal, RS mengklaim minumannya aman.
“Artinya orang ini sudah tahu. Dia minta rasa strawberry, minta rasa itu. Kalau nggak berlangganan kan nggak mungkin tahu. Ini nggak ada mereknya,” ucap Indra.

Polres Metro Jakarta Timur mengerebek 3 lokasi home industry miras oplosan di wilayah Jakarta Timur. Ratusan bungkus dan 9 galon miras oplosan disita dalam pengerebekan ini.

“Hasil gerebek home industry miras oplosan Polres Jaktim berhasil sita 123 bungkus, ada 9 galon isi miras siap kemas dan beberapa peralatan yang digunakan untuk oplos,” ,” kata Kapolres Metro Jakarta Timur, Kombes Yoyon Tony Surya Putra di Mapolrestro Jaktim, Jalan Matraman Raya, Kamis (5/4).

Tony menjelaskan pengungkapan home industry itu dilakukan di tiga tempat berbeda pada Selasa (3/4) dan Kamis (5/4) dini hari. Tony menambahkan tiga orang berinisial BOT (26), DW alias DST (23) dan ZL (42) ditangkap dalam pengerebekan itu.

“Kepada 3 orang itu langsung kita tetapkan menjadi tersangka,” kata dia.

Pabrik itu berlokasi di Jalan Kelurahan IV RT 12/11, Duren Sawit. Kedua, di sebuah warung jamu Jl Raya Pulo Gebang RT 01/03, Cakung. Ketiga, di sebuah rumah di Jl Bumi Raya RT 04/03 nomor 105 Duren Sawit, Jaktim.

Tony menegaskan Polres Jakarta Timur terus melakukan razia peredaran miras oplosan. Sebab dia menyebut masih ada pelaku home industry yang masih buron.

“Satu orang masih DPO. Dengan ada pengungkapan ini akan terus melakukan razia karena kami seluruh Polres di Polda Metro tidak mengharapkan ada lagi korban orang mati konyol karena miras,” tambahnya.

Miras oplosan disita polisi

Tony menyebut hingga hari ini sebanyak 10 orang tewas akibat miras oplosan dan beberapa korban lainnya masih dalam perawatan di rumah sakit.

Sementara itu, Polresta Depok melakukan razia minuman keras (miras) di beberapa lokasi. Polisi menyita ribuan botol miras di beberapa tempat di Kota Depok.

“Dari hasil operasi tim Jaguar sndiri disita 1.500 botol miras,” kata Kapolresta Depok Kombes Didik Sugiarto, Kamis (5/4).

Miras tersebut dirazia di sebuah warung di Jalan H Asnawi RT 3/5 Beji, Kota Depok pada Rabu (4/4/2018) malam. Beberapa Polsek juga melakukan razia di wilayah masing-masing. “Totalnya masih kami kompulir dari semua polsek,” imbuhnya.

Didik mengatakan, upaya ini dilakukan untuk mengantisipasi peredaran miras ilegal, terutama miras oplosan. Tercatat ada 8 orang warga Depok yang tewas akibat miras oplosan ini, sementara beberapa orang lainnya masih dirawat.

Banyaknya korban tewas akibat minuman keras oplosan Gongseng Gaul’ (GG) yang diduga dijual di toko jamu di Jalan Raya Cipayung, Cipayung, Depok. Pemilik toko tersebut saat ini maish dicari polisi.”Belum tersangka, masih dicari,” ujar Didik.

Didik mengatakan, pihaknya perlu membuktikan apakah miras oplosan yang menewaskan korban itu diproduksi di toko jamu tersebut atau bukan. Sebab, diduga para korban tidak meminum miras oplosan di warung jamu itu.

KKorban miras oplosan

“Itu (korban) minum itu bukan semata-mata minuman dari situ, dia beli ginseng di situ kemudian dioplos pakai minuman yang lain, ngoplosnya juga bukan di situ,” jelas Didik.

Sementara itu, korban minuman keras (miras) oplosan di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, bertambah menjadi 35 orang. Dan mungkin masih akan bertambah. Pemkab Bandung tetapkan status kejadian luar biasa (KLB).

Tercatat 30 orang tewas di RSUD Cicalengka dan 3 orang di RSUD Majalaya. “Korban tewas di RSUD Cicalengka menjadi 30 orang, yang lainnya masih ada yang dirawat. Total pasien yang masuk 89 dari sejak Kamis lalu sampai hari ini,” kata Dirut RSUD Cicalengka Yani Sumpena di RSUD Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Selasa (10/4/2018).

Korban miras oplosan yang ditangani RSUD Majalaya hingga pagi ini terus bertambah. “Korban menjadi 26 orang. Jumlah meninggal tiga orang, sisanya 22 orang dirawat dan satu orang sudah pulang,” ujar Direktur Umum RSUD Majalaya Grace Median via telepon.

Tragedi miras oplosan yang menewaskan puluhan orang ini menjadi atensi serius Pemkab Bandung. “Statusnya sudah menjadi KLB,” kata Sekretaris Daerah Kabupaten Bandung Sofian Nataprawira di RSUD Cicalengka.

Miras oplosan yang dikonsumsi para korban sudah jadi atau siap minum, tidak diracik sendiri. Selain itu, para korban tidak menenggak itu secara langsung, namun pada hari-hari berbeda.

“Oplosannya dalam kemasan sudah jadi. Barangnya dari luar, kami bersama kepolisian akan berkoordinasi dan mengungkap kasus ini, yang jelas Kabupaten Bandung merupakan pasar potensial untuk lahan tersebut,” tutur Sofian.

Kini, sambung Sofian, Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung sudah melaporkan ke Kementerian Kesehatan berkaitan status KLB kasus miras oplosan. Langkah pencegahan agar kejadian serupa tak terulang, petugas Satpol PP, pihak kecamatan, kelurahan dan desa untuk memberikan imbauan kepada warga soal bahaya miras oplosan