Ada Kepentingan Lain Dalam Serangan Israel ke Iran

Israel Serang Iran, ledakan terdengar di Kota Ghahjaworstan di Iran yang terletak di barat laut kota Isfahan. | Ist
Israel Serang Iran, ledakan terdengar di Kota Ghahjaworstan di Iran yang terletak di barat laut kota Isfahan. | Ist

FORUM KEADILAN – Analis Indonesian Strategic Research (ISR) Fajar Imam Zarkasyi menilai ada kepentingan lain dalam serangan Israel ke Iran yang terjadi pada, Jumat. 19/4/24.

Serangan yang diklaim sebagai serangan balik itu dipandang menjadi indikasi adanya kepentingan politik lain di luar isu konflik Palestina.

Bacaan Lainnya

“Terlepas dari sikap AS yang terkesan ‘tidak bertanggung jawab’ terhadap sikap Israel untuk membalas serangan Iran kemarin, kemungkinan besar AS sudah diberitahu mengenai rencana tersebut sebelumnya,” katanya dalam keterangan tertulis, Minggu, 21/4/24.

Ia menambahkan sikap AS tersebut dapat menunjukkan adanya kepentingan untuk dapat kembali menahan Iran secara efektif dalam mencapai status ‘nuclear state‘ yang dapat terbuka jalannya melalui eskalasi konflik yang terjadi antara Iran dan Israel.

“Sejak dahulu, strategi AS dalam menghentikan Iran untuk menjadi nuclear state sejatinya terbatas pada dua opsi,” ujarnya.

Pertama, lewat strategi kelembagaan dengan mengikat Iran pada perjanjian nuklir ataupun melalui pendekatan militeristik melalui langkah ‘preemptive strike‘ seperti yang dilakukan AS terhadap Irak.

Ia menjelaskan, pendekatan kelembagaan yang dicapai melalui JCPOA pada era Obama berjalan kurang efektif melihat ambisi Iran yang terus melanjutkan pengembangan misil balistiknya.

“Meskipun Iran selalu berdalih bahwa pengembangan misil balistik dilakukan dalam konteks conventional deterrence di mana misil diposisikan murni sebagai senjata konvensional dan bukan penghantar senjata nuklir, AS selalu melihat bahwa keberlanjutan tersebut merupakan indikasi Iran tetap melanjutkan program senjata nuklirnya,” ungkapnya.

Lebih lanjut, sikap Iran untuk tetap melanjutkan program misil dianggap oleh kubu republik di AS sebagai ketidakefektifan dari perjanjian JCPOA yang digagas Obama di tahun 2015.

“Terlepas dari hal itu, opsi militer untuk menyerang AS dianggap juga tidak lepas dari kritik dan dianggap kontraproduktif,” katanya.

Pertama, serangan preemptive strike bisa menjadi justifikasi bagi Iran untuk mengakselerasi program nuklirnya

Kedua, kepemilikan misil balistik serta pengembangan drone yang dikembangkan Iran juga diprediksi akan mempersulit efektivitas serangan tersebut.

“Terlepas dari akurasi yang dimilikinya, misil balistik Iran dianggap cukup mematikan dalam melumpuhkan aset komersil AS di timur tengah jika diluncurkan dalam jarak yang lebih dekat,” jelasnya.

Berdasarkan hal tersebut, serangan balik Israel ke Iran pekan lalu dapat dinilai sebagai salah satu indikasi adanya kepentingan AS untuk memanfaatkan momen tersebut untuk kembali mengusung ambisinya dalam menekan Iran.

Serangan balik Iran ke Israel dengan meluncurkan misil balistik jarak menengahnya secara tidak langsung menjadi momentum bagi AS untuk dapat mengetes secara lebih empiris sejauh mana letalitas misil balistik yang dimiliki oleh Iran.

“Jika serangan tersebut semakin bereskalasi, tidak menutup kemungkinan AS dapat memanfaatkan momentum tersebut sebagai pintu masuk mencapai ambisinya dalam menghentikan Iran untuk menjadi nuclear state,” pungkasnya. *