Pera Malinda: Indonesia Punya Potensi Besar di Bidang Emisi Karbon

Ceo Nol Carbon Pera Malinda saat jadi di Podcast Forum Karbon oleh Forum Keadilan. | M. Hafid/ Forum Keadilan
Ceo Nol Carbon Pera Malinda saat jadi di Podcast Forum Karbon oleh Forum Keadilan. | M. Hafid/ Forum Keadilan

FORUM KEADILAN – Ceo Nol Carbon Pera Malinda membeberkan adanya potensi proyek besar bagi para pengembang yang bergerak di bidang emisi karbon. Sebab, Indonesia punya hutan dan energi yang dibutuhkan.

Pera menjelaskan, Indonesia termasuk ke dalam 10 besar negara yang memiliki hutan terbanyak di dunia. Indonesia memiliki 120 juta hutan untuk menargetkan zero emisi di 2030.

Bacaan Lainnya

“Target Indonesia net zero pada tahun 2030, dengan target sebesar 31 persen hingga 43 persen dari target emisi,” katanya di Podcast Forum Karbon, Minggu 17/3/2024.

Poempida Hidayatulloh sempat menyinggung bahwa pemerintah menggeser target pencapai nol emisi dari tahun 2030 ke 2060.

Terkait hal ini, kata Pera, Indonesia sebenarnya bisa mencapai target lebih cepat dari yang sudah ditentukan.

“Hal ini bisa tercapai karena sudah ada roadmap, metodologinya, untuk seluruh sektor di Indonesia,” imbuhnya.

Pera menjelaskan, untuk mencapai taget 31 persen emisi, Indonesia perlu mengurangi sekitar 915 ton. Sedangkan untuk mencapai 43 persen, ada sekitar lebih dari 1.000 juta ton karbon yang perlu dikurangi.

Untuk itu, seluruh sektor di Indonesia, seperti kehutanan, energi, pertanian, dan industrial process and production use (IPPU), harus bergerak.

Namun ada sedikit kendala. Kata Pera, regulasi yang dikeluarkan oleh pemerintah masih menjadi persoalan. Menurutnya, regulasi di Indonesia belum sepenuhnya mengakomodir jalinan kerja sama dengan pihak luar.

“Karena jika kita hanya bergantung pada permintaan lokal, pasar lokal, finansial lokal, maka akan sulit untuk kita capai,” terangnya.

Pera mengatakan, Indonesia harusnya lebih mampu untuk mengurangi emisi karbon dibanding dengan beberapa negara besar seperti China, India, dan Amerika.

Potensi tersebut akan menjadi peluang bagi mereka yang bergerak di bidang emisi karbon.

“Dunia datang ke Indonesia. Saya pikir itulah cara kami melihat peluang bagi pengembang proyek atau start up lain dalam akses karbon,” tuturnya.

Laporan M. Hafid