Isu Mundurnya Menteri Jokowi adalah Gertakan untuk Netralitasnya

Sambutan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Pembukaan Rakornas Penyelenggara Pemilu, Jakarta, pada Rabu, 8/11/2023 | Youtube Sekretariat Presiden
Sambutan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Pembukaan Rakornas Penyelenggara Pemilu, Jakarta, pada Rabu, 8/11/2023 | Youtube Sekretariat Presiden

FORUM KEADILAN – Publik belakangan ini digegerkan dengan kabar akan mundurnya 15 menteri di Kabinet Indonesia Maju. Kabar tersebut merupakan gertakan atas dugaan tidak netralnya Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Pemilu 2024.

Kabar akan mundurnya sejumlah menteri itu awalnya dilontarkan oleh Ekonom Senior INDEF Faisal Basri.

Bacaan Lainnya

Menteri yang dimaksud termasuk Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono.

Selain itu, kata dia, akan ada lima orang menteri yang berasal dari PDIP yang mundur. Lalu Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas Suharso Monoarfa, dan dua menteri dari PKB.

Faisal sendiri beranggapan, kabar para menteri teknokrat untuk mundur merupakan hal yang logis. Sebab, teknokrat merupakan orang yang memiliki nilai etik dan moral yang kuat.

Melihat hal tersebut, Peneliti Senior Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof Lili Romli berpendapat, kabar pengunduran diri menteri ini merupakan salah satu gertakan bagi Jokowi.

Sikap cawe-cawe Jokowi di Pilpres 2024, mungkin saja dapat membuat para menteri kecewa dan memutuskan mundur. Apalagi, daftar menteri yang akan mundur itu merupakan teknokrat atau bukan berasal dari partai.

“Kabar tentang pengunduran beberapa menteri itu saya kira perlu dikonfirmasi dulu kebenarannya. Apakah rencana para menteri tersebut benar atau isu saja mungkin mereka mau mengundurkan diri karena kecewa atas cawe-cawe presiden dalam kompetisi pilpres,” katanya kepada Forum Keadilan, Sabtu 20/1/2024.

Jika isu tersebut benar terjadi dan 15 menteri Jokowi mundur serentak, hal itu akan membuat pemerintahan terpukul dan pincang.

Tak hanya itu, masyarakat juga akan memberikan penilaian buruk terhadap era pemerintahan Jokowi.

“Kalau benar mereka mau mengundurkan diri, tentu akan membuat presiden terpukul dan dapat menggerus legitimasi atau tingkat kepercayaan masyarakat terhadap presiden,” ungkapnya.

Kemudian, peristiwa itu dapat menggerus elektabilitas pasangan calon (paslon) yang didukung Jokowi, yaitu Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.

“Yang kasat mata saya lihat alasannya memang karena netralitas saja,” imbuhnya.

Meski begitu, Lili tidak mengetahui secara pasti alasan yang mungkin membuat para menteri tersebut mundur.

“Kalau mereka berani bersikap dan mau meninggal jabatan yang strategis, yang banyak orang menginginkannya, saya kira perlu dipertanyakan,” tukasnya.

Namun, Jokowi sendiri membantah adanya isu pengunduran diri sejumlah menteri ini. Kata dia, isu ini tak lepas dari tahun politik saat ini.

Jokowi mengatakan, di bulan politik, semua hal pasti berkaitan dengan politik. Jokowi juga menegaskan bahwa menteri di kabinetnya masih bekerja rutin seperti biasa.

“Menteri tiap hari kita rapat terbatas, tiap hari kita rapat internal, tiap hari, dengan semua menteri, dengan semua atau sebagian menteri,” kata Jokowi usai menghadiri Hari Lahir ke-78 Tahun Muslimat Nahdlatul Ulama (NU), di Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta Pusat, Sabtu 20/1.*

Laporan Merinda Faradianti