Program ‘1 Desa, 1 Faskes, 1 Nakes’ Ganjar-Mahfud, Pengamat: Gagasan Besar dan Mulia

Ganjar Pranowo dan Mahfud MD resmi mendaftar sebagai calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) 2024-2029 ke KPU RI | Novia Suhari/Forum Keadilan
Ganjar Pranowo dan Mahfud MD resmi mendaftar sebagai calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) 2024-2029 ke KPU RI | Novia Suhari/Forum Keadilan

FORUM KEADILAN – Pasangan calon nomor urut 3, Ganjar Pranowo-Mahfud MD, mempromosikan program unggulan ‘Satu Desa, Satu Faskes, Satu Nakes’ pada kampanye hari pertama, Selasa, 28 November 2023.

Ganjar menjelaskan, program unggulan itu ialah setiap desa setidaknya memiliki satu unit fasilitas kesehatan (faskes) yang memadai serta tenaga kesehatan (nakes) yang mumpuni untuk menyehatkan seluruh warga pedesaan.

Bacaan Lainnya

“Program Satu Desa Satu Faskes Satu Nakes ini khususnya di daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) seperti di Merauke,” kata Ganjar dalam keterangannya, dikutip, Kamis, 30/11/2023.

Program unggulan Ganjar-Mahfud tersebut diapresiasi Pengamat Sosial Politik, Pusat Kajian Pembangunan Daerah Harry Seldadyo.

Menurut Harry, program yang berfokus pada kesehatan masyarakat di wilayah 3T adalah langkah mulia.

Harry menyebut, pembangunan infrastruktur kesehatan di desa-desa terpencil memang menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Sebab menurutnya, sejauh ini, puskesmas hanya tersedia di tingkat kecamatan.

“Ini gagasan mulia, karena layanan kesehatan publik akan dibawa sedekat mungkin ke masyarakat,” ucap Harry dalam keterangannya, dikutip, Kamis.

Harry menilai bahwa program ‘Satu Desa, Satu Faskes, Satu Nakes’ merupakan wujud yang sesuai dengan misi pertama pasangan Ganjar-Mahfud, yaitu ‘Mempercepat Pembangunan Manusia Indonesia Unggul yang Berkualitas, Produktif, dan Berkepribadian’.

Kendati demikian, Harry menyarankan agar gagasan dari Ganjar-Mahfud untuk diperinci, sehingga lebih feasible dan doable. Kemampuan Puskesmas perlu diklarifikasi, baik dalam konteks perkotaan maupun pedesaan, untuk menyesuaikan dengan densitas populasi dan peta mobilitas yang ada.

Harry berharap, Ganjar-Mahfud akan memprioritaskan pembangunan infrastruktur kesehatan di wilayah-wilayah terpencil terlebih dahulu. Dengan demikian, harapan masyarakat terhadap pemerataan kesehatan di Indonesia dapat terwujud secara pasti.

Apalagi, menurut Harry, Ganjar-Mahfud telah mempertimbangkan ‘Jaringan Puskesmas’ sebagai upaya promotif dan preventif untuk mendukung keberlanjutan program ‘Satu Desa, Satu Faskes, Satu Nakes’.

“Gagasan ini besar dan mulia. Tantangannya juga sama sekali tak ringan. Namun demikian, penting dicatat, gagasan ini berada di bawah kendali tangan-tangan dengan kompetensi dan pengalamanan yang terbukti nyata,” jelas Harry.

Lebih lanjut Harry meyakini, program ‘Satu Desa, Satu Faskes, Satu Nakes’ bukan hanya sekedar janji dan kata-kata.

Sebab, kata Harry, jika melihat rekam jejak Ganjar-Mahfud, keduanya adalah pemimpin yang memiliki histori dengan kerja nyata pada program-program yang mereka laksanakan.*