Tonjolkan Karakter Gemoy, Pengamat: Prabowo Hindari Kesan Angker dan Menyeramkan

Pengamat Politik Citra Institute Yusak Farchan I Ist
Pengamat Politik Citra Institute Yusak Farchan I Ist

FORUM KEADILAN – Pengamat Politik Citra Institute Yusak Farchan menilai karakter ‘gemoy’ yang dilekatkan kepada calon presiden (capres) dari nomor 2 Prabowo Subianto merupakan bentuk komunikasi politik.

Menurut Yusak, karakter ‘gemoy’ tersebut untuk menghindari kesan angker dan menyeramkan yang ada pada Prabowo.

Bacaan Lainnya

“Gemoy ini kan salah satu strategi komunikasi politik Pak Prabowo ya, tujuannya adalah bagaimana menghindarkan kesan angker yang ada pada diri Pak Prabowo. Pak Prabowo sebagai orang yang tegas,” kata Yusak kepada Forum Keadilan, Senin 27/11/2023.

Menurut Yusak, strategi komunikasi politik itu sah-sah saja dilakukan untuk meraup suara dari kalangan milenial dan Gen Z.

“Komunikasi politik seperti itu sah-sah saja. Gemoy itu untuk menawarkan ke kelompok dan generasi z, saya kira itu enggak menjadi soal karena itu sebagai pendekatan komunikasi politik, cara meraup suara terutama kaum muda,” ujarnya.

Karakter ‘gemoy’ yang diperagakan Prabowo, menurut Yusak, cukup efektif mendulang elektabilitasnya. Pasalnya, berbagai survei menunjukkan elektabilitas Prabowo berada di urutan pertama.

“Iya, kan trend elektabilitas Pak Prabowo lebih bagus dibanding poros Pak Ganjar dan Pak Anies. Saya kira komunikasi politik itu diterima. Untuk menjawab permasalahan, selain dengan visi misi, bisa juga diiringi dengan komunikasi politik,” terangnya.

Terdongkraknya elektabilitas Prabowo memang bukan semata-mata karena karakter ‘gemoy’. Meski begitu, lanjut Yusak, karakter tersebut menandakan bahwa sudah diterima oleh masyarakat, khususnya milenial dan Gen Z.

“Harus diakui cara komunikasi Pak Prabowo saat ini tidak se-sangar seperti tahun 2014, yang lebih menunjukkan karakter perkasa. Jadi sekali lagi ya, faktor gemoy itu turut mendongkrak elektabilitas Pak Prabowo-Gibran karena diterima oleh masyarakat secara luas termasuk kelompok milenial dan Gen Z,” tuturnya.

Bagi Yusak, dengan menggunakan narasi ‘gemoy’, bukan berarti Prabowo tidak miliki gagasan.

“Bukan berarti gemoy itu dalam arti sederhana tidak ada gagasan-gagasan. Jadi, saya kira tidak ada korelasinya karakter gemoy dengan pikiran-pikiran Gen Z dan milenial, karena tujuannya untuk menghindari kesan seram,” ujarnya.

Yusak memaparkan, ceruk suara milenial dan Gen Z menjadi salah penentu kemenangan di Pilpres 2024. Tak ayal jika Prabowo dengan karakter ‘gemoy-nya’ berupaya untuk meraupnya dengan menyesuaikan diri kondisi yang ada sekarang.

“Gen Z jumlah besar kan, 56 persen dari total pemilih. Nah intinya adalah bagaimana Pak Prabowo ini bisa diterima di kalangan yang lebih luas lagi. Kalau dulu orang mengenal Pak Prabowo sebagai sosok yang tegas, sosok yang pada titik tertentu, misalnya menyeramkan, tapi di suatu sisi Pak Prabowo bisa menyesuaikan kondisi dan keadaan. Itu saja sebetulnya,” tutupnya.*

Laporan M. Hafid