Sebutan ‘Gemoy’ Tak Efektif Rebut Suara Gen Z-Milenial

Pasangan calon presiden dan calon wakil presiden (capres-cawapres), Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka | Twitter/X @Gerindra
Pasangan calon presiden dan calon wakil presiden (capres-cawapres), Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka | Twitter/X @Gerindra

FORUM KEADILAN – Peneliti Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Saidiman Ahmad menilai, sebutan ‘gemoy’ yang disematkan kepada calon presiden (capres) Prabowo Subianto tak mempengaruhi suara generasi milenial dan generasi Z (Gen Z). Menurutnya, suara generasi tersebut bergantung representasi pemerintahan Joko Widodo (Jokowi).

Saidiman mengatakan, preferensi politik milenial dan kelompok Gen Z pada dasarnya tidak terlalu terpaku dengan hal yang viral. Mereka justru punya isu tersendiri.

Bacaan Lainnya

“Isu-isu seperti lapangan pekerjaan, isu tentang lingkungan, isu tentang korup, itu menjadi isu yang diperhatikan oleh pemilih muda,” katanya kepada Forum Keadilan, Senin 27/11/23.

Selain itu, pemilih muda saat ini cenderung mengapresiasi kinerja pemerintah.

“Mereka itu mengapresiasi kinerja lebih baik, misalnya profile rating Pak Jokowi itu paling tinggi justru dikalangan Gen Z. Sebelumnya, publik kita lebih melihat Ganjar Pranowo itu sebagai kelanjutan dari Pak Jokowi, dan Jokowi cenderung mendukung Ganjar sebelumnya. Waktu dua sampai empat bulan lalu, Gen Z itu lebih banyak ke Ganjar,” katanya.

“Tetapi ketika publik melihat bahwa ternyata keluarga Jokowi lebih ke Prabowo Subianto, anaknya bahkan menjadi calon wakil presiden (cawapres) Prabowo, sekarang ada kecenderungan mulai berimbang antara Ganjar dan Prabowo, yang dianggap sebagai representasi kelanjutan dari Jokowi. Jadi, ada efek Jokowi di sini,” sambungnya.

Jadi Saidiman menyimpulkan, pergeseran suara yang bisa membuat Gen Z dan milenial cenderung lebih ke Ganjar atau Prabowo Subianto, berkaitan dengan representasi pemerintahan Jokowi.

“Itu lebih menurut saya berdasarkan data yang ada lebih kepada pergeseran asumsi, mengenai Jokowi. Bahwa Jokowi sekarang itu terlihat lebih dekat dengan Prabowo. Soal gemoy, dan joget-joget itu, kami belum ada data,” tegasnya.

Namun, lanjut Saidiman, jika isu negatif soal politik dinasti menguat dan Jokowi meninggalkan PDIP di puncak karirnya, maka akan berdampak pada elektabilitas Prabowo-Gibran.

“Kalau isu tersebut terus bergulir, tersosialisasi dengan baik termasuk ke kalangan Gen Z dan milenial, itu bisa mengurangi juga dan memiliki dampak negatif elektoral pada pasangan Prabowo-Gibran, yang sekarang dinilai dengan dengan Pak Jokowi,” terangnya.

Selain faktor Jokowi, Saidiman juga berpendapat Generasi Z dan milenial masih mempertimbangkan soal visi dan misi dari pasangan capres dan cawapres.

“Tetapi, bukan hanya itu. Faktor kedua lain soal visi dan misi itu, karena di publik itu ada dua yang dipertimbangkan untuk memilih. Pertama, masyarakat lihat rekam jejaknya. Kedua, visi misinya atau platform kebijakan yang ditawarkan,” katanya.

Untuk itu, menurut Saidiman, debat-debat yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU) nantinya juga berpengaruh dalam referensi pemilih.

Saidiman juga mengingatkan, publik harus jeli dalam melihat rekam jejak capres-cawapres, karena gimmick politik itu hanya bersifat sementara.*

Laporan Novia Suhari