TIADA PIDANA TANPA KESALAHAN

Diskusi KAHMI: Orang Kaya Etnis Cina Kendalikan Elit Politik Indonesia

Sekurangnya 85 % tabungan nasabah di perbankan nasional hanya dikuasai oleh 2 % dari total nasabah. Mereka  memiliki tabungan di atas Rp. 100 juta. Dan hanya 0,2 % nasabah yang memiliki nilai tabungan di atas Rp. 2 miliar, Namun 0,2 % ini menguasai sekitar 52 % dari total tabungan di perbankan di Indonesia. Sedangkan 98 % dari total nasabah, hanya memiliki 15 % dari total nilai tabungan. Masing-masing tabungan mereka kurang dari Rp 100 juta.

Demikian dikemukakan oleh Prof Didik J Rachbini dalam webinar bertajuk Oligarki Ekonomi dan Demokrasi yang diselanggarakan oleh Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI), Minggu malam 10 Januari 2021. “Sedangkan yang memiliki tabungan di bawah Rp. 100 juta, mencapai hampir 98 % nasabah,” ujar Didik dalam diskusi online akhir pecan yang dikomandani  Sujana Sulaeman atau yang akrab disapa Kang Jana tersebut.

Kepemilikan tabungan di perbankan tersebut merupakan salah satu indikator kesenjangan ekonomi yang sangat tajam antara masyarakat dan segelintir orang kaya di Indonesia.

Apa yang dikemukakan oleh Prof Didik J Racbini tak jauh berbeda dengan data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS)  yang merilis data tabungan nasabah perbankan Agustus 2020. Nilai total simpanan pada Agustus 2020 mencapai Rp 6.563 triliun. Demikian dikutip dari data Lembaga Penjamin Simpanan, LPS, Jumat (2/10/2020).

Total simpanan di bank umum tersebut tercatat naik 2,7% dalam sebulan, atau 11,3% dalam setahun terakhir. Sementara total rekening yang ada di bank umum Indonesia per Agustus 2020 mencapai 330.811.482 rekening, naik 3,5% dalam sebulan atau 12,9% dalam setahun.

Jumlah tabungan orang kaya atau yang uangnya di atas Rp 2 miliar di perbankan pada Agustus 2020 mencapai Rp 3.764 triliun, naik Rp 152 triliun dari bulan sebelumnya Rp 3.612 triliun. Jumlah rekeningnya mencapai 292.131 rekening per Agustus 2020, naik dari bulan sebelumnya 287.428 rekening.

Segelintir orang kaya tersebut, menurut pembicara lain yakni  Prof Didin S Damanhuri adalah etnis Cina. Didin Damanhuri juga  menegaskan bahwa 90 % dari 200 pengusaha terkaya di Indonesia adalah etnis Cina. “Dengan kekayaan tersebut mereka mampu mempengaruhi proses demokrasi di Indonesa. Karena proses politik di Indonesia membutuhkan biaya tinggi, orang-orang kaya etnis Cina ini mampu mengendalikan para elit politik di Indonesia, sehingga tujuan demokrasi menjadi tidak tercapai. Bahkan mereka juga mengontrol  berbagai proses hukum di Indonesia,” kata Didin Damanhuri.

Pembicara lain, yakni Chusnul Ma’iyah Phd, Prof Hafid Abbas. Dan Prof Zainuddin Maliki, juga melihat bahwa demokrasi di Indonesia saat ini dikendalikan oleh orang-orang kaya atau plutokrat yang sebagian besar etnis Cina.

 

 

You might also like