TIADA PIDANA TANPA KESALAHAN

Syekh Ali Jaber Meninggal Dunia Karena Sakit, Ia Pernah Selamatkan Penusuknya

Pendakwah Syekh Ali Saleh Mohammed Ali Jaber asal madinah tutup usia pada umur 44 tahun. Informasi tersebut dikabarkan Komisaris Utama PayTren Yusuf Mansur. “Syekh Ali berpulang ke rahmatullah. Jam 8.30 pagi tadi,” kata Yusuf Mansur, melalui akun Instragam miliknya, Kamis (14/1/2021).

Mendiang tutup usia saat dirawat di Rumah Sakit YARSI, Jakarta Pusat. Kurang lebih, kata Yusuf Mansur, Ali Jaber dirawat sekitar 17 hari dengan menggunakan bantuan ventilator. Semalam kondisinya makin memburuk.

Sebelum dirawat di rumah sakit, Ali Jaber dikabarkan positif terjangkit COVID-19. Dia mengalami gejala demam dan batuk-batuk.

Yusuf Mansur mengingatkan agar warga Indonesia mematuhi protokol kesehatan COVID-19. “Syekh Ali memang kena COVID-19, tapi sudah enggak ada. Jadi wafat sudah dalam keadaan negatif COVID-19,” kata Yusuf Mansur.

“Semalam dikabari oleh ustaz Iskandar dan dokter bahwa syekh kritis, saya juga sebarkan prmohonan doa kepada ustaz dan ustazah, alim ulama, Aa Gym, teman-teman ponodk pesantren,” kata dia.

Yusuf mengatakan, Indonesia kehilangan pejuang Alquran, dan seorang dai yang mau meninggalkan negaranya untuk Indonesia. “Mau pindah kewarganegaraan ke Indonesia,” kata dia.

Sebelumnya kondisi kesehatan juri Hafiz Alquran RCTI itu sempat membaik usai terkonfirmasi positif Covid-19.

Syekh yang memiliki nama lengkap Ali Saleh Mohammed Ali Jaber tersebut termasuk ulama besar di Indonesia. Lahir di Madinah Arab Saudi pada 3 Februari 1976, Syekh Ali Jaber memutuskan menjadi WNI sejak beberapa tahun belakangan dari warga negara Arab Saudi.

Pada Januari 2020 lalu, dia sempat mengunggah foto paspor Indonesia. “Menjadi sebuah kebahagian dan kebanggaan bagi kami beserta keluarga saat pengajuan menjadi Warga Negara Indonesia telah diterima,” tulis Ali Jaber di laman media sosial Instagram resminya @syekh.alijaber.

Sebagai pendakwah dan ulama terkenal, pria yang sejak kecil menekuni Alquran itu dikenal berasal dari keluarga yang religius. Keluarga besar Ali Jaber sendiri, di Madinah memiliki masjid besar yang digunakan untuk syiar Islam. Sebagai anak pertama dari dua belas bersaudara, Ali Jaber dituntut untuk meneruskan perjuangan ayahnya dalam syiar Islam.

Ali Jaber makin dikenal setelah irinya menjadi juri di sebuah acara Hafiz Indonesia yang ditayangkan sebuah stasiun televisi. Tak hanya dikenal sebagai pendakwah, Ali Jaber juga sempat membintangi beberapa program religi dibeberapa stasiun televisi seperti Nikmatnya Sedekah, Kurma, Kultum Bersama Syekh Ali Jaber. Dia juga sempat membintangi sebuah film berjudul Surga Menanti yang dimainkannya bersama Pipik Dian Irawati, Agus Kuncoro, dan Syakir Daulay.

Syekh Ali Jaber  dimakamkan di Pondok Pesantren Daarul Quran, di Tangerang Selatan, hari ini, Kamis (14/1). Ucapan dan doa tidak ada putus-putusnya dipanjatkan untuk kebaikan Syekh Ali Jaber oleh warganet yang turut menghadiri pemakaman Syekh Ali Jaber, secara online melalui live Instagram Ustadz Yusuf Mansyur.

Acara prosesi pemakaman berjalan lancar. Di mulai dari kedatangan mobil jenazah Ali Jaber, proses menyolatkan jenazah ulama kelahiran Madinah, hingga proses pemakaman yang tak henti-hentinya membuat banyak pihak meneteskan air mata. Termasuk warganet yang kerap memberikan emoticon menangis diiringi ucapan dan doa.

Di akhir prosesi pemakaman, Syekh Muhammad Jaber selaku adik Syekh Ali Jaber, mewakili pihak keluarga memberikan sambutan. Dalam sambutannya, Syekh Muhammad Jaber meminta agar utang piutang Syekh Ali Jaber dialihkan kepadanya.

“Saudara, saya atas nama Muhammad Jaber, siapapun di antara kalian yang punya utang piutang Syekh Ali Jaber dialihkan kepada saya,” kata Muhammad Jaber di pemakaman, Kamis (14/1).

“Kalau ada di antara kalian yang bisa memaafkan beliau, Alhamdulillah, terima kasih, Jazakumullah Khairan Katsiran Wa Jazakumullah Ahsanal Jaza,” ucapnya.

“Dan kalau di antara (kalian) ada yang butuh, masih tetap menagih Syekh Ali Jaber, tolong dialihkan kepada saya, biar beliau tenang di kubur, biar beliau diringankan hisabnya,” tambah Muhammad Jaber.

Syekh Ali Jaber sebelumnya sempat dinyatakan positif Covid-19 pada Desember 2020. Setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Yarsi di Jakarta Pusat selama 19 hari, kondisinya semakin membaik dan dinyatakan negatif covid-19.

Namun rencana Allah berkata lain. Ulama yang kerap mencintai anak-anak hafidz quran ini, bahkan tak segan mencium tangan kecil mereka, harus menghembuskan nafas terakhirnya.

 

Ditusuk, Tapi Ia Selamatkan Pelakunya

Pada September 2020, Syekh Ali Jaber ditusuk orang tak dikenal saat mengisi kajian di Masjid Jalan Tamin, Kecamatan Tanjungkarang Pusat, Kota Bandar Lampung.

Syekh Ali Jaber mengatakan pelaku terlihat masih muda dan berbadan kurus. “Saya lihat masih anak muda, mungkin sekitar 20 tahun,” ujarnya, usai penusukan.

Syekh Ali Jaber tidak mengetahui apakah pelaku beraksi seorang diri atau ada orang lain yang mungkin melarikan diri setelah penusukan. Pascapenusukan, pelaku nyaris dihakimin oleh jamaah yang ikut dalam kajian tersebut, namun berhasil dicegah oleh Syekh Ali Jaber.

“Saya kasihan lihat jamaah memukuli dia, saya bilang jangan dipukuli, serahkan saja ke polisi. Kemudian, pelaku diamankan ke ruang masjid,” ujarnya.

Pascapenusukan, Syekh Ali Jaber dibawa ke Puskesmas terdekat dan mendapat perawatan. Syekh Ali Jaber mendapat 10 jahitan di tangan kanan bagian atas akibat insiden tersebut.

Dari cerita-cerita itulah, Syekh Ali merasa terketuk hatinya. Syekh teringat wasiat dari gurunya. Gurunya pernah berpesan agar dirinta dapat selalu memuliakan para pecinta Alquran. Jika mampu, penuhi kebutuhannya.

“Ketika saya melihat sosok Akbar ini, (dia) layak dan pantas. Saya percaya dan yakin kalau Allah saja mencintainya, apalagi saya seorang faqir. Saya bantu semampu saya,” ujar dia.

Seperti diberitakan sebelumnya, Syekh Ali telah mengangkat Akbar sebagai anaknya. Dia bahkan telah meminta izin kepada keluarga Akbar untuk membawa anak itu belajar di pesantrennya yang berada di kawasan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Dalam waktu dekat, Akbar juga akan diajak umroh olehnya.

Ulama kenamaan itu memiliki rencana besar kepada Akbar. Dia akan membina dan mendidik Akbar seperti anaknya sendiri. “Insyaallah akan dijadikan imam besar Indonesia,” kata dia.

Penusuk Syekh Ali Jaber

Syekh Ali juga memiliki niat membantu Akbar menyelesaikan jenjang pendidikan formalnya. Sebab, Akbar memang merupakan pemuda yang putus sekolah sejak kelas 4 SD. Sejak putus sekolah itulah, Akbar lebih banyak menghabiskan hidupnya di jalan dengan mengamen dan mengumpulkan rongsokan.

Pemuda itu pergi ke mana saja dengan berjalan kaki. Untuk memenuhi kebutuhannya, ia bekerja sebagai pengumpul barang bekas.

Akbar hanya sesekali pulang ke rumah neneknya di Kabupaten Garut. Hanya satu-dua hari tinggal, setelah itu pergi lagi.

Kendati hidup di jalan, Akbar mengaku tak pernah lupa untuk sholat dan membaca Alquran. Sebab, dia diberi pesan orang tuanya untuk selalu ingat sholat lima waktu dan mengaji.

Karenanya, setiap keluar rumah, Alquran tak pernah lupa dibawanya. Ketika ada waktu luang, hampir pasti Akbar membacanya.

“Yang ngajarin bawa Alquran terus itu Bapak. Dari kecil dikasih pesan kalau mau ke mana-mana jangan lupa sholat, ibadah lima waktu, sama ngaji dan dzikir,” kata anak dari pasangan Unan (42) dan Siti.

Dengan banyaknya dukungan, Akbar mengaku bahagia. Dia mengatakan akan terus semangat belajar agama di pesantren. Sebab, sejak awal Akbar memang memiliki niat untuk mendirikan pesantren di masa tuanya kelak.

You might also like