PRESIDEN BERGANTI KORUPSI ABADI DUA

Tentara Tersangka Pembunuh Dua Pemuda Papua Didesak Diadili Oleh Pengadilan Umum

Luther Zanambis dan Apinus Zanambi diduga dibunuh oleh anggota TNI. Peristiwa bermula dari penyisiran wilayah yang dilakukan Satuan Batalyon Para Rider 433 JS Kostrad pada 21 April 2020. Dalam operasi tersebut, para tentara mencurigai Luther Zanambi, dan Apinus Zanambi sebagai anggota dari kelompok separatis bersenjata di Sugapa, Intan Jaya, Papua.

Para tentara itu diduga membawa keduanya untuk diinterogasi di Koramil Sugapa, Kodim Paniai. “Saat interogasi inilah penyiksaan terhadap keduanya dilakukan, sehingga mengakibatkan Apinus Zanambi meninggal dunia. Sementara Luther Zanambi, sempat kritis, lalu juga menghembuskan nafas terakhir,” kata Amnesty.

Setelah keduanya tak bernyawa, para serdadu yang melakukan interogasi diduga mencoba menghilangkan jejak kematian. Upaya tersebut diduga dengan menghilangkan dua jenazah.  “Dua jenazah (Apinus Zanambi dan Luther Zanambi) dibakar, dan abu mayatnya dibuang ke Sungai Julai di Distrik Sugapa,” begitu keterangan Amnesty.

Amnesty mengungkapkan, dari investigasi internal, Apinus Zanambi, dan Luther Zanambi merupakan kerabat dari Pendeta Yeremia Zanambi, yang tewas dibunuh militer pada 19 September lalu di Hitadipa, Intan Jaya. Sebelum kematiannya, Pendeta Yeremia kerap mendatangi Pos Militer di Sugapa, untuk menanyakan tentang keberadaan, Luther Zanambi dan Apinus Zanambi.

 

Amnesty Internasional Minta Tersangka Diadili Pengadilan Umum

Amnesty Internasional Indonesia mendesak sembilan prajurit TNI AD yang ditetapkan sebagai tersangka terkait pembunuhan dua pemuda Papua dibawa ke pengadilan umum. Keterlibatan anggota tentara dalam tindak pidana umum tak harus mengacu pada sistem peradilan militer.

Direktur Eksekutif Amnesty Indonesia Usman Hamid mengatakan, mengadili anggota TNI yang melakukan kejahatan umum pada peradilan militer merupakan kebiasaan lama dalam pemberian ‘kekebalan’ hukum terhadap pelaku. “Impunitas di kalangan anggota militer harus disudahi. Penegakan hukum, tetap wajib memastikan bahwa para pelaku dihukum dengan seadil-adilnya di bawah yuridiksi pengadilan umum secara terbuka, dan benar-benar adil,” begitu kata Usman, dalam rilis resmi Amnesty, Jumat (25/12/2020).

Pada Rabu (23/12/2020). Polisi Militer Angkatan Darat mengumumkan sembilan orang prajuritnya terkait tewasnya Luther Zanambani, dan Apinus Zanambani. Dua bersaudara itu tewas di Sugapa, Intan Jaya, Papua.

Usman mengapresiasi penetapan tersangka terhadap Apinus Zanambi, dan Luther Zanambi. Ia menilai hal ini menunjukkan kemajuan penyidikan.

Namun, ia mengatakan, penetapan tersangka tidak cukup. Ia mengatakan, TNI harus membawa sembilan tersangka anggotanya itu, ke pengadilan umum.

Sebab, ia mengatakan, kejahatan yang diduga dilakukan para serdadu tersebut adalah tindak pidana pembunuhan yang kewenangan absolut mengadilinya ada di pengadilan non-militer.

Usman mengatakan, anggota TNI yang terlibat pelanggaran hukum pidana umum wajib tunduk pada UU 34/2004 tentang TNI. Ia berpendapat, jika TNI tetap menggunakan UU 31/1997 tentang Peradilan Militer sebagai basis penghakiman maka sama saja mengembalikan TNI ke era Orde Baru dengan doktrin impunitas terhadap anggota militer yang melakukan kejahatan.

“Itu (penerapan UU Peradilan Militer), sama saja dengan melanjutkan sistem lama yang selama ini menjadi mekanisme impunitas terhadap militer,” kata Usman.

You might also like