PRESIDEN BERGANTI KORUPSI ABADI DUA

Tak Hanya Protokol Kesehatan, Perlu Banyak Persiapan Wisata di Akhir Tahun

Pergantian tahun tinggal menghitung hari. Beberapa hari lagi kita akan memasuki tahun 2021 dan meninggalkan tahun 2020. Seperti ritual tahunan, sebagian besar orang mungkin telah berencana menghabiskan akhir tahun dengan liburan ke berbagai destinasi wisata pilihannya. 

Begitu juga dengan Utami, perempuan asal Kediri yang bekerja di Jakarta ini telah menyusun rencana liburannya. ”Sudah hampir setahun tak memanjakan mata dan suasana,” katanya menyampaikan alasan untuk berlibur akhir tahun.  

Meski pandemi telah hampir setahun, akan tetapi angka penyebaran COVID-19 belum kunjung menunjukkan penurunan. Aktivitas liburan tentunya menuntut diri bertemu dengan banyak orang. Maka dari itu, liburan di masa pandemi COVID-19 perlu disiasati agar libur akhir tahun tetap aman dan nyaman.

“Tentu saja, situasi pandemi membuat saya merencanakan liburan dengan lebih teliti dari biasanya,” sambung Utami.

Menurutnya, situasi daerah, kondisi tempat wisata dan jalur perjalanan dia cari yang menurutnya lebih aman. “Itu saya cari-cari informasi dari media dan tanya kiri-kanan sama teman-teman juga. Tentunya saja juga akan menerapkan protocol kesehatan,” imbuhnya.

Langkah Utami bisa saja tepat, tapi dokter Ivan Adrian Montolalu, mengegaskan selain menerapkan protokol kesehatan, pola kebiasaan lainnya juga harus menjadi perhatian khusus saat berada di tempat umum. Agar masyarakat tetap aman dari COVID-19 ketika menikmati liburan akhir tahun 2020, salah satu caranya adalah selalu mengupayakan transaksi “cashless” dalam berbagai pembayaran dan pemesanan untuk meminimalkan interaksi.

“Saat liburan kita biasanya banyak sentuh ATM, uang cash, nah kalau bisa ‘cashless.’ Untuk pemesanan tiket, hotel, dan lain-lainnya sebaiknya via aplikasi,” kata dokter Ivan Adrian, dalam bincang-bincang secara daring tentang protokol kesehatan jelang libur akhir tahun di Graha BNPB Jakarta.

Dokter Ivan Adrian mengimbau masyarakat sebisa mungkin menggunakan layanan digital dalam hal pembayaran atau transaksi, agar tidak perlu berinteraksi dengan banyak orang atau menyentuh benda-benda yang berada di tempat publik. Ia pun menekankan agar masyarakat menerapkan protokol kesehatan secara ketat, terlebih saat berada di tempat publik yang dikunjungi banyak orang seperti tempat pariwisata.

Kebiasaan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau menggunakan penyanitasi tangan (hand sanitizer) juga sangat penting untuk terhindar dari potensi penularan virus yang tertinggal di permukaan benda-benda publik. Gagang pintu di hotel atau mobil, yang dipegang oleh banyak orang bisa menjadi transmisi virus.

Ia juga menegaskan masyarakat untuk tetap mematuhi protokol kesehatan 3M, yaitu memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, serta menjaga jarak dan menghindari kerumunan saat berlibur.

Sebab, potensi penularan bisa terjadi di tempat wisata apabila protokol kesehatan tidak dijalankan dengan ketat. Terlebih lagi, potensi penularan bisa menjadi tinggi apabila ada seseorang yang terinfeksi virus corona, tetapi tidak memiliki gejala atau asimptomatik.

Masyarakat juga harus memiliki kesadaran tinggi untuk memahami dampak dan gejala yang ditimbulkan apabila seseorang terinfeksi COVID-19. Sekarang, gejala COVID-19 semakin berkembang.

“Tidak hanya batuk, pilek, flu, demam, dan sesak napas, tetapi ditambah lagi ada kehilangan penciuman, kehilangan pengecapan, diare, sakit perut, sakit otot, malaise, bertambah lagi halusinasi dan gangguan mood,” tutur dokter Ivan Adrian.

Oleh karena itu, ia meminta masyarakat agar waspada pada saat liburan atau setelahnya jika memiliki gejala yang mirip dengan gejala COVID-19 tadi. Masyarakat harus segera memeriksakan diri sebelum penyakit COVID-19 bertambah buruk agar bisa segera disembuhkan.

Wisata Virtual
Meski persiapan sudah matang, bisa saja penyakit menghinggapi kita jelang perjalanan wisata. Jika demikian, sebaiknya menunda liburan. Agar tak mati gaya, kini ada banyak layanan wisata virtual yang bisa dinikmati dari rumah. Sejumlah negara dan objek wisata di luar negeri, menghadirkan fasilitas visual trip

Dalam wiiata virtual ini, kita bisa mengunjungi berbagai destinasi di mancanegara, misalnya The Grand Canyon di Amerika Serikat. Menikmati pemandangan indah dari tebing-tebing alami yang terbentuk dari 40 lapisan sedimen alam ini ternyata bisa dinikmati dari jauh. Teknologi mampu mengobati kerinduan kita terhadap traveling dengan menggunakan Google Eart View.

Dengan teknologi ini, kita bisa melakukan zoom alias fokus lokasi dengan memilih points of interest yang mampu membawa kita berpetualang dengan pandangan bird’s eye untuk melihat keindahan yang disajikan di The Grand Canyon.

Usai menjelajah virtual disana, kita bisa mendaki Gunung Everest di Nepal. Gunung yang menjadi perbatasan Nepal dan Tiongkok ini memiliki pemandangan yang menakjubkan.

Tanpa perlu mendaki atau camping di sini, anda bisa menikmat keindahannya dengan peta interaktif yang akan menampilkan pemandangan 3 dimensi yang akan membawa kamu berpetualang di pegunungan Nepal.

Usai mendaki di Nepal, kita bisa menyebrang kle Tongkok mengunjungi Zhangjiajie National Forest Park. Pilar batu pasir kuarsa dari Zhangjiajie memiliki bentuknya yang unik. Hal itu akibat proses alam dari erosi fisik oleh air, es dan akar-akar pohon serta dedaunan.

Anda bisa terbang melintasi taman nasional tersebut secara virtual melalui video tur interaktif yang menampilna tampilan high defnition, sehingga eksplorasi terasa sangat nyata.

Selain destinasi di atas, masih ada sejumlah pilihan atraksi wisata lainnya yang bisa anda nikmati secara virtual di rumah selama pandemi ini terjadi.***

  

You might also like