TIADA PIDANA TANPA KESALAHAN

Sengatan Kabel Pengikat Tangan Keturunan Nabi Muhammad

 

Priyono B Sumbogo

Hati bedesir ketika melihat Habib Rizieq Shihab ditahan dengan tangan diikat kabel. Bukan diborgol. Ada rasa sakit di dada. Ada perih menjalar. 

Proses hukum memang harus dijalankan dan polisi berhak menahan Habib Rizieq. Tapi apa begitu caranya? Betapapun Habib Rizieq adalah salah seorang pemimpin umat Islam dan tokoh masyarakat. Dia bukan pencuri, bukan bandar narkoba, bukan begal. Mengapa dia tak diborgol saja agar terkesan lebih bermartabat. Apakah Polda Metro Jaya kehabisan borgol. Bukankah lebih baik tak perlu diikat atau diborgol agar tidak terlalu mengiris hati.

Saat proses penahanan Habib Rizieq dipublikasikan sebuah media massa online ternama (detik.com, Minggu, 13 Des 2020 00:26 WIB)  sebagian besar netizen memang memuji langkah kepolisian, terutama pada Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran. Dari 82 komentar yang terbaca, tidak satupun membela Habib Rizieq.

Ambil contoh komentar akun Henry RRR. Kerennn nih pak Fadli (maksudnya Fadil—Red)  kapolda metro jaya, baru menjabat hitungan minggu saja sepak terjang nya sudah bisa gebrak ormas anarkis FPI gak tanggung2 pentolannya pun kena. Terimakasih kepada seluruh pak polisi yg bertugas”

Atau komentar akun Budi: “Segera disidangkan dan di nusa kambangkan saja. segera mungkin.. antek antek nya jangan lupa dibasmi juga sampai babak belur. Hidup Indonesia.!”

Contoh lain akun Work From Home: “nah gitu dong pak polisi… sekalipun bang rizik itu ulama ulamaan, dan sekarang sudah jadi tersangka… harus tetap dirangkul pak polisi…DIRANGKUL menuju SEL TAHANAN….

Hampir dapat dipastikan akun para netizen tersebut bukan nama sebenarnya. Tapi pujian mereka merupakan dukungan moril bagi kepolisian untuk melanjutkan proses hukum terhadap Habib Rizieq.

Di sisi lain, bila menyimak kata-kata kasar yang mereka pergunakan, maka dapat ditafsirkan bahwa ujaran kebencian, hasrat kekerasan, dan kecenderungan menuduh sudah menjadi bagian masyarakat Indonesia. Misalnya kata atau frasa atau kalimat “antek antek nya jangan lupa dibasmi juga sampai babak belur” atau “bang rizik itu ulama ulamaan” .

Dari 82 komentar netizen di atas juga dapat diajukan pertanyaan, mengapa tidak ada yang membela Habib Rizieq atau sekurangnya merasa sedih melihat Habib diikat tangannya dengan kabel.

Mustahil semua bangsa Indonesia membenci Habib Rizieq. Cerita dunia senantiasa dikotomis, walau tidak hitam putih, Ada yang membenci ada yang menyenangi. Ada yang agak benci ada yang agak senang.

Lantas mengapa yang menyenangi atau agak menyenangi  tidak memberikan komentar? Jawabannya, besar kemungkinan karena mereka takut. Jika itu tujuannya, maka kepolisian telah berhasil menciptakan ketakutan di kalangan ulama, simpatisan Habib Rizieq, atau anggota masyarakat yang bersikap obyektif. Sebaliknya, cara polisi menggiring Habib Rizieq telah meningkatkan keberingasan para pembencinya, setidaknya dalam bentuk ujaran.

Namun dapat dipastikan, banyak umat Islam yang tercabik hatinya. Mereka mendukung proses hukum, tapi tetap menghendaki polisi proporsional dan tidak berlebihan. Patut disimak pernyataan KH Abdussalam Shohib, Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur berikut ini.  “Saya secara pribadi dan NU khususnya, sering berbeda dalam pemikiran dan gerakan dengan Habib Rizieq dan FPI. Namun, saya menolak keras bila aparat berlebihan dalam menangani kasus ini. Saya berdoa semoga jalan perjuangan Habib Rizieq diridhoi Allah dan mengajak beliau dalam berdakwah agar lebih mengedepankan akhlaqul karimah.”

Begitu harapan  Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Maarif Denanyar Jombang yang akrab dipanggil Gus Salam tersebut. Pernyataan ini diungkapkan melalui media massa bersamaan dengan pemeriksaan Habib Rizieq Shihab oleh penyidik Kepolisian Daerah Metro Jakarta Raya (Polda Metro Jaya) dengan dua tuduhan, yakni penghasutan dan menimbulkan kerumunan di masa pandemic Covid 19.

Saya menerima kiriman WA dari dosen, ibu rumah tangga, teman lama, wartawan, juga pengangguran yang memiliki perasaan hampir sama dengan Gus Salam. Ada yang dari Nahdlatul Ulama (NU), ada yang dari Muhammadiyah, mantan aktivis organisasi mahasiswa Islam, ada yang tidak pernah ikut organisasi apapun. Ada yang rajin sholat, pandai mengaji, gemar bertahajut. Tapi ada pula yang mengaku kurang tekun beribadah bahkan puasa pun sering bolong. Saya termasuk kelompok kedua.  Bukan penganut tekun. Tidak hafal Al-Quran. Bukan ahli tahajut,  belum pergi haji, Umroh pun belum.

Rekan komunikasi di WA pada umumnya tidak menyukai ujaran-ujaran kasar Habib Rizieq saat berdakwah.  Juga tidak setuju dengan cara-cara Front Pembela Islam (FPI) melakukan aksi di tengah masyarakat. Tetapi mereka keberatan jika Habib Rizieq diperlakukan secara tidak adil, tidak proporsional, dan terkesan dihinakan. Mereka juga tidak menyetujui penembakan anggota FPI. Mereka menginginkan kasus ini diungkap secara jujur, jelas, dan meyakinkan.

Namun, kabel sudah mengikat kedua tangan Habib Rizieq. Ia pun sudah digelandang ke sel tahanan. Puja-puji pada polisi kian ramai. Kecaman pada Habib Rizieq serta FPI kian aneka gaya.

Sebaliknya, rasa  takut agaknya mulai menenggelamkam nyali para pendukung Habib Rizieq dan masyarakat. Setidaknya untuk sementara. Mereka tak berani berkomentar, berbeda pendapat, bersikap kritis, atau hanya sekedar memberi saran agar polisi lebih bersikap bijak. Suasana ini tentu tak sejalan dengan Paradigma Community Policing, polisi masyarakat yang bersahabat dan ramah.

Ada berbagai kemungkinan yang akan terjadi bila ketakutan semakin dalam. Pertama, mereka akan menghabiskan umur di tempat tidur atau di mana saja  dalam ketakutan. Kemungkinan kedua mereka akan mampu menyesuaikan diri dengan situasi dan menerima keadaan, kendati dengan perasaan terpaksa. Kemungkinan ketiga mereka akan meronta tak terkendali. Sebab diujung ketakutan sering lahir kenekatan untuk melakukan tindakan-tindakan brutal.

Namun bagi muslim yang ingat pada Allah SWT, ketakutan akan mendorong mereka untuk merenungi makna surat Al Baqarah ayat 154: “Wa lā taqụlụ limay yuqtalu fī sabīlillāhi amwāt, bal aḥyā`uw wa lākil lā tasy’urụn” Dan janganlah kamu mengatakan bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Sesungguhnya mereka hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.

 

 

You might also like