TIADA PIDANA TANPA KESALAHAN

Rahmatan Lil Alamin Versus Amanat Agung

 

Priyono B Sumbogo

 

Umat Islam meyakini agamanya sebagai “Rahmatan lil Alamin” atau rahmat bagi seluruh alam. Sementara, umat Kristiani dibekali “Perintah Agung” atau “Amanat Agung” untuk menasranikan dunia.

Tidak dapat dipungkiri bahwa hingga saat ini sebagaian  besar ilmuwan dan masyarakat Barat yang melihat Islam sebagai aggression and hostility (agresor dan ancaman). Di Perancis, misalnya, saat ini sedang terjadi gelombang kebencian pada umat Islam. Bahkan Presiden Perancis, Immanuel Macron, dianggap sebagai salah tokoh anti Islam. Di Perancis pula, seorang guru menunjukkan karikatur Nabi Muhammad di depan kelas, sehingga dia dipenggal kepalanya oleh seorang pemuda muslim.

Pandangan warga Perancis dan pemenggalan guru sekolah tersebut memerkuat tesis Samuel P Huntington dalam The Clash of Civilization and the Remaking of World Order (1996).  Huntington “meramalkan” bahwa konflik antar di masa depan tidak lagi disebabkan oleh faktor-faktor ekonomi, politik dan ideologi, tetapi dipicu oleh masalah masalah suku, agama, ras dan antargolongan (SARA).

Menurut Huntington, dengan berakhirnya Perang Dingin yang ditandai dengan runtuhnya ideologi komunisme, wilayah konflik  dipicu olehh hubungan antara peradaban Barat dan non-Barat serta antarperadaban nonBarat itu sendiri. Huntington mengelompokkan negara-negara bukan atas dasar sistem politik ekonomi, tetapi lebih berdasarkan budaya dan peradaban. Ia mengidentifikasi sembilan peradaban kontemporer, yaitu, peradaban Barat, Cina, Jepang, Amerika Latin, Afrika, Hindu, Budha, Islam, dan Kristen Ortodoks. Benturan yang paling keras  terjadi antara kebudayaan Kristen Barat dengan kebudayaan Islam.

Kedua agama ini memang memiliki penganut paling banyak di dunia. Keduanya juga sama-sama memiliki missi menyebarkan agama ke seluruh dunia.

Umat Islam meyakini agamanya sebagai “Rahmatan lil Alamin” atau rahmat bagi seluruh alam.Dalam Kitab Suci Al-Quran disebutkan: “Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia” (QS. Al Anbiya: 107).

Sementara, umat Kristiani dibekali “Perintah Agung” atau “Amanat Agung”. Disebutkan dalam Injil Matius 28:19-20:  “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.“

 

Pola Penyebaran Islam

Faktanya di masa lampau terjadi penyebaran Islam oleh kekhalifahan Islam ke negeri-negeri Eropa.  Terakhir adalah oleh  Imperium Utsmaniyah (Otoman) di Turki ( 1299—2 Maret 1924) yang menembus Eripa, Afrika, dan Asia.

Dalam proses pengislaman tersebut, para Khlaifah mengajak lebih dulu pimpinan suatu negeri, terutama negeri-negeri yang diaggap dzalim, untuk memeluk Islam, menghentikan kezaliman, dan membayar upeti jika tidak bersedia. Bila tiga syarat tersebut tidak dipenuhi, maka baru dilancarkan peperangan sesuai aturan-aturan Islam. Antara lain, tidak boleh membunuh lawan yang sudah menyerah, tidak boleh melukai wanita, orang tua, dan anak-anak.

Nusantara (Indonesia) tak luput dari ekspedisi Utsmaniyah, yakni dengan mengirimkan para wali (lembaga Wali Songo) terutama ke Aceh dan pusat kekuasaan Majapahit Jawa.

Islamisasi di Aceh berlangsung lancar dengan terbentuknya Kerajaan Samudra Pasai pada abad 14.

Sebaliknya di Jawa berlangsung sengit. Jawa ketika itu dianggap sebagai negeri yang paling sulit di-Islamkan. Hal ini disebabkan banyak raja yang menganut Bhairawa Tantra.

Bhairawa Tantra adalah sekte rahasia dari sinkretisme antara agama Budha  aliran Mahayana dengan agama Hindu aliran Siwa.  Sekte ini muncul kurang lebih pada abad ke-6 M  di Benggala sebselah timur. Dari sini kemudian  tersebar ke utara melalui Tibet, Mongolia, masuk  ke Cina dan Jepang. Sementara itu cabang yang  lain tersebar ke arah timur memasuki daerah  Asia Tenggara, termasuk Indonesia. (R. Pitono  Hardjowardojo, 1966; 25).

Bhairawa Tantra merupakan bagian dari  peradaban Jawa kuno. Penganutnya lain Raja Singasari Kertanegara dan para raja Kerajaan Majapahit. Banyak raja mengikuti  sekte ini karena ritual-ritual dan simbol-simbol  magisnya bisa digunakan untuk menganugerahi atau mengancam para bawahan. Ritual-ritual Bhairawa Tantra juga menetapkan ikatan mistis dan spiritual antara raja dan kawulanya sehingga memungkinkan raja untuk mendapatkan kekuasaan yang lebih besar. (Paul Michel Munoz, 2009;172).

Kriya Yoga Nusantara (2016:1) menjelaskan bahwa pengikut sekte Bhairawa Tantra berusaha mencapai kebebasan dan pencerahan (moksa) dengan cara yang sesingkat-singkatnya.

Ritual  mereka bersifat rahasia dan sangat mengerikan, yaitu menjalankan Pancamakarapuja atau malima (lima Ma). Yakni, Matsya (makan ikan sepuas-puasnya), Mamsa (makan daging sepuas-puasnya),  Madya (minum minuman keras hingga mabuk), Madra (menari hingga mencapai ekstase), dan Maithuna (upacara seksual).

Karena itulah kemudian, penguasa Ustmaniyah mengirim ekspedisi. Berbagai sumber menyebutkan, ekspedisi awal gagal, kemudian dikririm ulama dan pasukan di  bawah pimpian  Syekh Tambuh Aly Syekbaqir (Syekh Subakir) yang berhasil mendekati keraton Kerjaan Majapahit. Situasi Majapahit ketika itu diwarnai perang saudara, korupsi, dan rakyat menderita. Usaha Syekh Subakir  dilanjutkan para wali lainnya hingga mampu mendirikan Kerajaan Demak (tahun 1478) yang dianggap sebagai akhir Kerajaan Majapahit

 

Pola Penyebaran Kristen

Sementara itu ada dua versi kisah penginjilan ke seluruh dunia, termasuk ke Nusantara. Pertama dengan penguasaan suatu wilayah dan kedua dengan mengirimkan missionaries secara damai.

Pada April  1511, Alfonso de Albuquerque, Gubernur Portugis kedua di India, mengumpulkan pasukan dalam jumlah besar dan berlayar dengan belasan kapal menuju Malaka. Dalam waktu singkat, dia berhasil menaklukkan Malaka, pelabuhan perdagangan penting kala itu.

Dari Malaka, Albuquerque mengirim ekspedisi ke kepulauan rempah-rempah. Mereka tiba di Banda, menuju Maluku, dan akhirnya Ternate. Di Ternate, Portugis mendapat izin membangun benteng. Di Maluku, Portugis memantapkan kedudukan sekaligus menyebarkan agama Katolik. Sekelompok pendeta Katolik yang datang bersama Antonio Galvao, kemudian jadi pemimpin Portugis di Maluku, memulai kerja misionaris mereka.

Setelah menguasai Malaka, Portugis bisa memonopoli perdagangan dan menyebarkan agama Katolik secara lebih teratur di wilayah timur: Ambon dan Halmahera, Ternate dan Tidore. Salah satu zandeling Katolik di kawasan itu adalah Franciscus Xaverius dari Ordo Yesuit, pastor dari Spanyol yang datang dengan kapal dagang Portugis –kelak dianggap sebagai pelopor penyebaran Katolik di Indonesia.

Monopoli menimbulkan perlawanan dari kerajaan-kerajaan lokal, terutama Aceh, yang membuat misi tak bisa menyebar ke wilayah barat. “Misi itu menciptakan rintangan bagi dirinya sendiri. Ketika hegemoni Portugis dan Spanyol di kawasan itu berakhir, awal abad ke-17, gereja Katolik pun kehilangan pelindung dan wilayah,” tulis Jan Bank dalam Katolik di Masa Revolusi Indonesia.

Kedatangan Portugis ke wilayah Timur tak lepas dari mandat Paus Alexander VI yang melalui Perjanjian Tordesillas membagi belahan dunia di luar daratan Eropa. Sisi lainnya, Barat, diserahkan kepada Spanyol. Kedua negara ini bertemu di Maluku dan menyelesaikan persoalan lewat Perjanjian Saragossa sehingga masing-masing bisa tetap meraup rempah-rempah.

Meski Portugis semula merahasiakannya, jalan menuju kepulauan rempah-rempah akhirnya tersingkap berkat buku Itinerario karya Jan Huygen van Linshoten, seorang pengelana dan pedagang Belanda, pada 1595. Sebuah perusahaan Belanda, Compagnie van Verre, membiayai ekspedisi ke Nusantara yang dipimpin Cornelis de Houtman. Pada 1596, mereka mendarat di Pelabuhan Banten. Kunjungan pertama tak berhasil. Dikirimlah lagi ekspedisi dagang yang dipimpin Jacob van Neck, van Heemskerck, dan van Waerwijck. Kali ini mereka mendapat simpati penguasa Banten dan kembali ke negerinya dengan muatan penuh, sementara kapal lainnya meneruskan perjalanannya ke Maluku. Setelah terbentuk Kongsi Dagang Belanda (VOC), mereka menancapkan monopoli dagang, bahkan kekuasaan, di Nusantara.

VOC mendukung Protestan dan mengambil-alih jemaah Katolik di kawasan timur Indonesia. Hanya di Flores Katolik terus berkembang. Protestan sendiri, yang menjadi anak emas selama masa VOC, mengalami masa subur.

Kedatangan Portugis dan Belanda ke Nusantara bukan semata terdorong pencarian rempah-rempah tapi juga kejayaan dan keinginan menyebarkan agama Kristen –dikenal dengan gold, glory, gospel.

Anggapan bahwa Kristen tiba bersama kedatangan orang-orang Eropa ke Nusantara melalui cara militer, mendapat sangahan baru. Pada 1969, J. Bakker SJ menulis di majalah Basis bahwa agama Katolik sudah ada pada abad ke-7 M dan berakar di Sumatra Utara lalu menyebar ke daerah lain, termasuk Jawa. Dengan menggunakan sumber-sumber Islam, dia meyakini pula bahwa Katolik datang dari India Selatan.

Bermula dari Santo Thomas yang mewartakan Injil hingga ke India Selatan. Katolik berkembang di India Selatan dan lewat perdagangan menyebar ke Sumatra Utara. Gereja Kristen Katolik mulai ditanam di daerah Tapanuli sebelum tahun 600 oleh saudagar dari India yang menamakan diri Thomas Christians.

Jan Baker mendasarkan teorinya pada tulisan ilmuwan Islam bernama Shaykh Abu Salih al-Armini, yang menulis semacam buku ensiklopedi berjudul Tadhakkur fiha Akhbar min al-Kana’is wa’l-Adyar min Nawahin Misri w’al Iqtha’aihu berisi daftar gereja dan pertapaan di Mesir dan wilayah Timur lainnya. Dalam bukunya, Abu Salih menyebut di Fansur, tempat asal kamper, terdapat sekelompok Kristen Nestorian dan sebuah gereja yang dipersembahkan kepada Maria. Di antara sumber-sumbernya, Abu Salih menggunakan Kitab Nazm al-Jawhar karya Sa’id bin al Batriq yang berasal dari tahun 910 dan mengisahkan sejumlah peristiwa dari abad ke-7.

Menurut Bakker, ‘Fansur’ itu sama dengan ‘Pansur’, dekat Baros di Tapanuli. Dia juga menulis penyebutan Kristen Nestorian dari Abu Salih keliru dan “meluruskannya” sebagai Katolik.

AJ Butler MA FSA saat memberikan catatan terhadap terjemahan BTA Evetts atas karya Abu Salih ke dalam bahasa Inggris, berjudul The Churches and Monasteries of Egypt Attributed to Abu Sahlih, The Armenian, menjelaskan bahwa kata Fahsur memang tertulis dalam manuskrip aslinya. Namun, kata ini seharusnya ditulis Mansur, sebuah negara di zaman kuno yang terdapat di barat laut India, terletak di sekitar Sungai Indus. Mansur merupakan negara utama yang terkenal di antara orang-orang Arab dalam hal komoditas kamper.

Adolf Heuken SJ dalam tulisan “Christianity in Pre-Colonial Indonesia” juga mendukung pendapat Butler. “Kecuali catatan singkat yang diberikan Abu Salih, tak ada informasi lebih lanjut tentang Kristen di Fansur/Barus,” tulis Heuken, termuat di A History of Christianity in Indonesia karya Jan Sihar Aritonang dan Karel A. Steenbrink.

Di luar perdebatan itu, Barus sendiri merupakan tempat yang menarik untuk diteliti. Ia dianggap salah satu kota kuno yang terkenal di Asia sejak sekira abad ke-6. Pada 1995, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional bekerjasama dengan Ecole francaise d’Extreme-Orient melakukan penelitian arkeologi untuk menggali situs Lobu Tua di Barus. Hasilnya, “pada zaman Lobu Tua, Barus muncul sebagai sebuah tempat perdagangan asing yang mungkin didirikan pada pertengahan abad ke-9 M oleh pedagang dari India Selatan atau Sri Lanka. Dalam waktu singkat, mereka didatangi pedagang-pedagang dari Timur Tengah, yang juga mencari kamper,” tulis Claude Guillot dkk. dalam Barus: Seribu Tahun yang Lalu, yang merupakan hasil penelitian itu.

Terkait kemungkinan adanya sekelompok masyarakat Nestorian di Barus, Claude Guillot dkk menyebutkan perlu bukti arkeologis setelah situs Barus yang mendahului Lobu Tua berhasil ditemukan. “Jika ternyata benar, maka didapatkan bukti bahwa satu jaringan yang sebagian beragama Nestorian menghubungkan Baru dengan Teluk Persia lewat Sri Lanka dan pantai Malabar, khususnya Quilon.”

Sekalipun VOC bangkrut, dan kerajaan Belanda menerapkan pemisahan antara gereja dan negara, pemerintah Hindia Belanda tetap memberikan peran besar dalam perkembangan Protestan. Atas inisiatif pemerintah kolonial, orang-orang Protestan digabung dalam satu organisasi Gereja Protestan di Hindia Belanda. Pemerintah mensubsidi gereja dan menggaji para pendeta. Demi kepentingan politik, pemerintah mengizinkan penginjilan ke daerah-daerah.

Pada 1800 rohaniawan Katolik Roma datang kembali secara resmi ke Jawa. Delapan tahun kemudian, rohaniawan Katolik dari Negeri Belanda juga datang. Adanya “zending ganda” sempat menjadi sumber konflik di Majelis Rendah Belanda sehingga ditetapkan pembagian wilayah kerja. “Sesudah secara definitif peraturan tentang izin masuk para misionaris ke Hindia Belanda ditetapkan, maka dengan berangsur-angsur misi pun dapat mengembangkan lagi. Sejak tahun 1859 kaum Yesuit dari Negeri Belanda dilibatkan dalam kegiatan itu,” tulis Jan Bank.

Kesempatan ini tak disia-siakan berbagai badan zending, baik Protestan maupun Katolik. Menurut Th van den End dan Aritonang dalam “1800-2005: a National Overview”, antara tahun 1800-1900 ada sekira 15 badan zending yang bekerja di Hindia Belanda. Mereka mendirikan sekolah-sekolah dan rumah sakit sebagai sarana penginjilan. Mereka juga menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Melayu dan bahasa daerah.

Sejak kedatangannya, teologi yang berkembang di Nusantara masih didominasi teologi Barat. Pada abad ke-19 mulailah muncul para pemikir teologi, yang disebut prototeolog, yang menggabungkan kekristenan dengan budaya lokal seperti Paulus Tosari dan Sadrach. Kemudian makin menguat setelah berdirinya seminari dan sekolah tinggi teologi.

Pada abad ke-20, para penginjil Katolik dan Protestan mulai mengubah paradigma mengenai adat dan kepercayaan lokal agar penginjilan lebih bisa diterima masyarakat.

Namun di Jawa khususya, VOC dan pemerintah Belanda tidak pernah mampu mengislamkan Jawa. Mereka dihadang oleh Perang Trunijoyo (santri dan raja Madura) yang dibantu Karaeng Galesong, putra Raja Goa Sultan Hassanuddin. Sekitar 6,000 ulama/santri, termasuk Trunojoyp dieksekuti mati oleh Amangkurat I yang berkomplot dengan VOC pada tahun 1648 (catatan Rijcklofs van Goen, pejabat VOC yang saat itu berdinas di Mataram, yang kemudian diterbitkan dalam De vijf gezantschapsreizen naar het hof van Mataram, 1648-1654 (1956).

Tapi umat Islam tetap tumbuh dan melawan. Antara lain melalui Perang Diponegoro (1825—1830), Pangeran Diponegoro dibantu para ulama dan santri terutama Kyai Mojo, Sentot Prawirodirjo, dan para santri dari Pesantren Gebang Tinatar pinpinan Kyai Kasan Besari  (Ponorogo). Sementara Patih Danurejo (kepala pemerintahan Kesultanan Yogyakarta) dibantu Belanda.

Kyai Haji Samanhudi dan para ulama mendirikan Syarikat Dagang Islam (SDI) pada 1905 dilanjutkan oleh Haji Omar Said (HOS) Tjokrominoto menjadi Syarikat Islam. Organisasi ini pada awalnya untuk melawan dominasi para pedangang Cina dan Belanda di bidang ekonomi. Dan inilah cikal bakal pergerakan Kemerdekaan Indonesia. Di sini pula Bung Karno sang Plokamator dididik dan menjadi menantu HOS Tjokroaminoto.

Menjelang kemerdekaan memiliki peran sangat besar (bahkan paling besar dari anggota masyarakat lainnya). KH Mas Mansyur dan Buya Hamka berhasil mendesak Penjajah Jepang medirikan Tentara Pembela Tanah Air (PETA) yang menjadi inti TNI.

Melihat riwayat di atas, ulama, santri, dan umat Islam akan selalu hadir bila sedang genting, dan manakala Islam terancam.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

You might also like