TIADA PIDANA TANPA KESALAHAN

Pilkada di Tengah Pandemi, Bagai Demokrasi Setengah Hati

Pilkada 2020 di 23 kabupaten/kota Sumatera Utara digelar di tengah pandemi. Masyarakat sepertinya tak peduli dengan perhelatan akbar ini. Penyelenggara dan pengawas juga mengkhawatirkan keselamatan diri. Semua was-was terhadap wabah corona. Ibarat pesta demokrasi yang setengah hati.           

Surat undangan itu baru saja sampai ke tangannya. Ia sama sekali tidak tertarik untuk membacanya. Kertas itu diremas lalu dikoyak. Kemudian dibuang ke tong sampah. “Ini hanya menghabiskan waktu saja. Tidak ada manfaatnya,” ucap Fendi Nasution melempar undangan simulasi Pilkada yang diberikan relawan salah satu pasangan calon Walikota Medan.

Fendi mengaku tidak akan menggunakan hak politiknya di Pilkada serentak yang digelar 9 Desember mendatang. Ia lebih memilih berdiam diri di rumah. “Lebih baik tiduran dan nonton televisi di rumah, ketimbang ikut-ikutan yang demikian,” ujar warga Bandar Selamat, Kecamatan Medan Tembung itu.

Fendi punya alasan tersendiri untuk tidak berpartisipasi dalam Pilkada mendatang. Selain bingung menentukan pilihan, ia juga tidak mau ikut terjebak dalam persaingan dua pasangan calon usungan partai politik yang dinilainya terlalu haus kekuasaan. “Bobby Nasution. Akhyar Nasution. Saya juga Nasution. Biarlah saya ambil posisi netral di antara dua Nasution itu,” tuturnya tertawa.

Ketua KPU Basra Munthe saat menyerahkan berkas kepada Paslon Franc B Tumanggor-Mutsyuhito Solin (FBT-MO) yang mendapat nomor Urut 1.(K.Meka.) (andalasonline.com)

Sebenarnya, alasan utama Fendi enggan ikut memeriahkan pesta demokrasi nanti karena khawatir terpapar virus corona (Covid-19). Cemas dan takut terjangkit. “Saya pernah diisolasi. Sakitnya tidak karuan. Pusing, mual, tenggorokan sakit dan tidak ada nafsu makan. Panas tubuh juga naik turun. Saya tidak mau penderitaan akibat penyakit itu terulang kembali,” tegasnya.

Pilkada di tengah pandemi corona diakui memang menjadi dilema. Namun, rasa takut berlebihan sejatinya bukan alasan untuk menjadi golput atau tidak berpartisipasi. “Memang ada dilema antara keselamatan masyarakat, kebutuhan kesejahteraan melalui kesinambungan roda pemerintahan dan pembangunan. Ada pula kebutuhan restrukturisasi kepengurusan stake holder yang notabene berganti 5 tahun sekali sesuai amanah konstitusi. Walau ada wabah Covid-19, bagaimana mungkin kita bisa mengabaikan amanah undang-undang itu,” sebut Yunan, sekretaris Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kota Medan.

Yunan berpandangan perlunya edukasi politik secara intensif kepada masyarakat agar berpartisipasi menggunakan hak demokrasinya dalam menentukan pemimpin daerah. Meski demikian, Yunan tidak menafikan pentingnya pencegahan Covid-19 agar tidak menjadi kluster baru setelah Pilkada. “Perlu antisipatif yang tepat,” katanya.

Selain antisipasi, papar Yunan, perlu juga genjotan sosialisasi tentang pencegahan Covid-19 oleh paslon, parpol, KPUD dan Bawaslu. Tujuannya mewujudkan suksesi Pilkada agar masyarakat terpanggil berpartisipasi ke TPS untuk memilih. “Pilkada harus terlaksana sesuai protokol kesehatan. Soalnya, keberhasilan demokrasi itu dapat diukur dengan angka partipasi yang tinggi,” jelas Yunan.

Sebagian warga Medan ternyata tidak khawatir Pilkada digelar di tengah pandemi corona. “Sepanjang mengikuti protokol kesehatan, rajin cuci tangan, jaga jarak dan pakai masker, tentu tidak masalah. Sayang suara kita kalau tidak digunakan untuk memilih,” tegas Sri Kumala, warga Kelurahan Hamdan, Medan Maimoon.

Hal senada disampaikan Meri. Ibu cantik berusia 42 tahun ini tidak khawatir dengan corona. “Saya pasti datang ke TPS. Saya akan menyalurkan hak politik saya saat antrian sepi,” kata Meri yang tinggal di Kelurahan Menteng, Medan Denai ini.

Lain halnya dengan Muna. Wanita semampai pemilik restaurant di seputaran gedung Kejatisu mengaku merasa terpanggil untuk memeriahkan pesta demokrasi mendatang. “Sebagai warga negara yang baik, saya akan berpartisipasi menggunakan hak pilih. Saya tidak takut corona. Kita serahkan saja sama Tuhan, yang penting patuhi protokol kesehatan,” papar warga Kelurahan Pangkalan Masyhur, Medan Johor itu.

Baliho bertebaran di sepanjang jalan sumut (kpud-madinakab.go.id)

Partisipasi pemilih ternyata sudah menjadi target utama oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kota Medan. Menurut komisioner KPUD Medan, Nana Miranti, target pemilih Pilkada 2020 sekitar 77,5%, menyesuaikan target nasional. Pada Pemilu 2019 lalu, DPT Medan 1.614.673 dengan tingkat partisipasi mencapai 74,20%. Sedangkan saat Pilgubsu 2018, DPT nya 1.520.301 partisipasi pemilih hanya 58%. “Alhamdulillah sejak 2015, 2018 hingga 2019 kemarin partisipasi pemilih terus meningkat. Mulai dari 25,56% di tahun 2015, menjadi 58% di 2018 dan terakhir 74,20% d Pemilu 2019,”ujar Nana, Divisi Program, Data dan Informasi tersebut.

Untuk peningkatan partisipasi pemilih, banyak upaya yang sudah dilakukan oleh KPU Kota Medan. Diantaranya dari sisi kualitas DPT, semaksimal mungkin terus diperbaiki sehingga yang terdata nantinya benar-benar pemilih yang berada di Kota Medan. Selain itu juga sudah melakukan sosialisasi semaksimal mugkin kepada semua lapisan masyarakat, dengan bekerjasama dengan berbagai lembaga yang independen di Medan. Seperti Perguruan Tinggi (PT), sekolah serta lembaga sosial masyarakat dan lainnya.

“Kita sudah melakukan sosialisasi dengan berbagai media, baik tatap muka langsung, melalui daring, atau memaksimalkan sosialisasi di media sosial seperti FB, IG dan youtube. Untuk meningkatkan partisiapasi pemilih, KPU Kota Medan juga membentuk relawan demokrasi guna lebih memasifkan informasi terkait tahapan pilkada,” ujar Alumni Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) ini.

Sejauh ini KPUD Medan tetap melakukan protokol kesehatan dalam setiap tahapan sesuai PKPU. “Setiap tahapan menerapkan prokes, seperti penggunaan masker, handsanitizer, jaga jarak, jumlah peserta yang dilibatkan terbatas dalam suatu kegiatan dengan melihat kondisi ruangan. Tidak boleh ada kerumunan dan lain-lain,” tukas Nana seraya menyebut 4303 TPS pada Pilkada Medan tahun ini.

Guna mengantisipasi penyebaran Covid-19, KPUD Medan melakukan antisipasi dini dengan menyediakan masker, handsanitizer, tempat cuci tangan, check suhu tubuh dan sarung tangan plastik untuk setiap pemilih. “Penyelenggara di TPS (KPPS dan Linmas) sudah dilakukan rapid tes 19 November dan 23 November pengecekan ulang bagi yang reaktif,” papar staf bagian SDM dan Parmas KPUD Medan, Edi Suhartono.

KPU berencana menetapkan waktu memilih bagi pemilih yang tercatat dalam undangan. (foto: mediaindonesia.com)

Tahapan proses Pilkada Medan ternyata diwarnai sejumlah pelanggaran. Bawaslu Medan mencatat 7 pelanggaran aturan Prokes. “Ada 7 pelanggaran. Yakni dua laporan masyarakat, dua laporan pihak kelurahan dan kecamatan, dan tiga temuan Bawaslu di lapangan. Dari semua laporan itu, hanya 4 yang teregestrasi,” ucap Ketua Bawaslu Medan, Payung Harahap.

Bagi pelanggar Prokes, Bawaslu hanya memberikan sanksi adiministrasi berupa teguran. Pihaknya pun giat melakukan pengawasan terkait pencegahan penyebaran covid-19 dengan membentuk kelompok kerja yang melibatkan stakeholder, Pemko Medan, TNI/Polri dan kejaksaan. “Bila nantinya ditemukan pelanggaran atau kesalahan berat, akan ditindaklanjuti ke pihak Gakumdu,” tandas Harahap.

Pilkada Medan 2020 diikuti dua pasangan calon. Masing-masing Akhyar Nasution – Salman Alfarisi nomor urut 1, dan Bobby Nasution–Aulia Rahman nomor urut 2. Kedua pasangan ini bersaing merebut 1.614.673 suara sesuai DPT. Pasangan Akhyar-Salman didukung PKS dan Demokrat, sedangkan Bobby-Aulia diusung Golkar, Gerindra, PDI Perjuangan, PAN, Nasdem, Hanura. Belakangan Gelora turut memberi dukungan ke Bobby yang juga menantu Presiden Jokowi.

Selain Medan, Pilkada terbilang seru juga digelar di Serdangbedagai. Pasangan Soekirman-Tengku Muhammad Ryan Novandi (Nasdem, PKS dan PAN) berhadapan dengan pasangan Dharma Wijaya- Adlin Umar Yusri Tambunan (Golkar, Gerindra, PKB, Hanura, PDI Perjuangan, Hanura dan Demokrat). Uniknya, Soekirman merupakan petahana bupati, sedangkan Dharma Wijaya petahana wakil bupati. Sementara wakil Soekirman yakni Tengku Muhammad Ryan Novandi adalah anak Tengku Erry Nuradi, mantan Gubsu. Sedangkan wakil Dharma Wijaya yakni Adlin Umar Yusri Tambunan disebut anak Amri Tambunan, mantan Bupati Deliserdang yang juga ponakan Ashari Tambunan yang kini Bupati Deliserdang.

“DPT Sergai 458.028 jiwa tersebar di 243 desa dan 17 kecamatan. Semua proses tahapan Pilkada yang dilakukan KPUD Sergai, tidak terlepas dari protokol kesehatan, termasuk upaya sosialisasi guna meningkatkan partisipasi pemilih,” tutur Ketua KPUD Sergai, Erdian Wirajaya.

KPU Toba Undian Penetapan Nomor Urut Pasangan Calon Bupati Dan Wakil Bupati (RADARINDO.co.id)

Pilkada Medan dan Sergai tak jauh beda dengan Pilkada Tapanuli Selatan, Nias Selatan, Nias Barat, Toba dan Pakpak Bharat yang masing-masing hanya diikuti dua pasangan calon.  Untuk Tapanuli Selatan, pasangan Dolly Putra Parlindungan Pasaribu- Rasyid Assaf Dongoran diusung Golkar, Gerindra, PDIP, PKB, PPP, PAN dan Demokrat. Sedangkan pasangan Muhammad Yusuf Siregar-Robby Agusman Harahap didukung Nasdem dan Hanura. “DPT Pilkada Tapsel sebanyak 206.480 jiwa tersebar di 248 desa/kelurahan. Jumlah TPS sekitar 731,” papar Ketua KPUD Tapsel, Panataran Simanjuntak seraya menyebut pihaknya menyelenggarakan Pilkada tetap mengacu pada protokol kesehatan.

Pilkada Nias Selatan diikuti pasangan Hilarius Duha-Firman Giawa (PDIP, Nasdem, Berkarya, Perindo, Garuda, Gerinda, PAN, PKPI dan PKB) bersaing dengan pasangan Idelisman Dachi-Sozanolo Ndururu (Golkar, Demokrat dan PSI). “DPT 191.729 jiwa. Tahapan Pilkada sesuai protokol kesehatan,” sebut Ketua KPU Nias Selatan, Repa Duha, singkat.

Pasangan Eliyunus Waruwu-Mareko Zebua (PDIP, Gerindra, Nasdem, Golkar, Demokrat dan PKB) berhadapan dengan pasangan Khenoki Waruwu-Era era Hia (Hanura dan PAN) berlaga di Nias Barat. Kedua pasangan itu bersaing merebut suara DPT Nias Barat sekitar 58.973 jiwa. “Nias Barat juga sesuai prokes,” tegas komisioner KPUD Nias Barat Richard Hia.

Untuk Toba, diikuti pasangan Poltak Sitorus-Tony M Simanjuntak (PDIP, Perindo dan PKPI) melawan pasangan Darwin Siagian-Hulman Sitorus (Golkar, Nasdem dan Demokrat). KPUD Kabupaten Toba sendiri menerapkan proses tahapan Pilkada dengan mengedepankan semboyan TPS Aman, Pemilih Sehat. “DPT Toba 133.394 pemilih di 244 desa. Semua pemilih akan menyalurkan hak politiknya di 477 TPS. Tentu semuanya juga tetap mematuhi protokol kesehatan,” ucap Ketua KPUD Toba Henri Pardosi.

Pilkada Pakpak Bharat diikuti Soni Berutu-Ramlan Boang Manalu diusung Demokrat bersaing dengan Franc Benrhard Tumanggor-Mustsyuhito Solin (Golkar, Gerindra, PAN, PKB, PDIP, PKS dan Nasdem). “Kita juga sesuai Prokes. Ada 35.087 DPT,” aku Ketua KPUD Pakpak Bharat, Basra Munthe.

KPU Provinsi Sumatera Utara. (f:ist/mistar)

Pilkada yang hanya diikuti satu pasangan calon yakni Humbahas, Pematangsaintar dan Gunung Sitoli. Untuk Humbahas pasangan Dosmar Banjarnahor-Oloan P Nababan diusung Gerindra, PDIP, Nasdem, Demokrat dan Hanura. Sedangkan Pematangsiantar hanya pasangan Asner Silalahi–Susanti Dewayani diusung PDIP, Golkar, Gerindra, Nasdem, Hanura, PAN, Demokrat dan PKPI. Sementara Gunung Sitoli hanya diikuti Lakhomizaro Zebua-Sowa’a Laoly (PDIP, Demokrat, Hanura, Gerindra, Golkar, Perindo, PKPI dan PAN).

Pilkada yang diikuti lebih dari dua pasangan masing-masing Binjai, Asahan, Tanjungbalai, Labuhanbatu Utara, Labuhanbatu, Labuhanbatu Selatan, Mandailing Natal, Sibolga, Nias, Nias Utara, Simalungun, Samosir dan Tanah Karo.

Keseruan bakal terjadi di Pilkada Asahan. Tiga pasangan calon masing-masing Nurhajizah Marpaung-Henri Siregar (Gerindra, PKB dan PKS), Surya BSc-Taufik Zainal Abidin Siregar (Golkar, PAN, PPP, PKPI, Perindo dan Demokrat), serta Rosmansyah-Winda Fitrika (PDIP dan Hanura). Ketiga pasangan calon itu bersaing merebut 516.248 pemilih sesuai DPT.

Lembaga survey Institute for Political Analysis and Strategy (InPAS) pernah merilis elektabilitas pasangan Nurhajizah Marpaung jauh mengungguli dua lawannya. “Paling besar pilihan responden adalah paslon Nurhajizah-Henri Siregar yaitu 37,5%, Surya-Taufik Zainal Abidin yaitu 30,5% dan Rosmansyah-Winda Fitrika yaitu 17%. Sementara 15% masih abu-abu,” ujar Direktur Lembaga Survei InPAS, Alwi Dahlan Ritonga.

Hasil survey InPAS tidak jadi ukuran bagi KPUD Asahan. KPU hanya bertolak ukur dari hasil Pilkada dengan jumlah DPT mencapai 510.689 pemilih di 1.952 TPS. Semua proses tahapan disesuaikan dengan protokol kesehatan. Karena itu, seluruh petugas KPPS dan Linmas TPS, dilakukan rapid tes. “Semua anggota KPPS dan Petugas Ketertiban wajib mengikuti rapid test sesuai Peraturan KPU dan protokol kesehatan,” tegas komisioner KPUD Asahan, Samiun Sembara Marpaung didampingi rekannya Kelana Muttakin Simanjuntak.

Pelaksanaan proses tahapan Pilkada Asahan ternyata diwarnai pelanggaran berupa keterlibatan ASN. Dari 10 dugaan pelanggaran yang diproses Bawaslu Asahan, tercatat 7 orang kalangan ASN. Salah satunya Taufik Zainal Abidin selaku Sekda saat menjabat tidak netral dan acap kampanye. “Ketidaknetralan oknum ASN ini ditindaklanjuti ke Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN),” ucap Ketua Bawaslu Asahan, Khomaidi Hambali Simbolon.

Selain Taufik, Bawaslu Asahan juga melaporkan Kadis Kominfo Rahmad Hidayat Siregar dan Sofian Manulang Kasat Pol PP ke KASN. Sedangkan ASN lainnya Berani Simbolon, Mohd Akhiar dan Darwin Tambunan, kasusnya dihentikan karena tidak terbukti. “Bawaslu Asahan ketat dalam pengawasan khususnya pelanggaran Prokes. Kami menghimbau paslon agar mengedepankan protokol kesehatan,” sebut Khomaidi.

Baliho Walikota Binjai dan Paslon No 2 Pilkada Binjai yang tak lain adalah Istri Walikota Binjai (orbitdigitaldaily.com)

Fakta seru juga terjadi di Pilkada Tanjung Balai. Tiga pasangan calon masing-masing Eka Hadi Sucipto-Gustami (PPP, PKB dan Berkarya), berhadapan dengan Ismail-Afrizal Zulkarnain (perseorangan) dan Syahrial-Waris (Golkar, PDIP, Gerindra, Demokrat dan PKS). Sejumlah kalangan menilai Pilkada Tanjungbalai berpotensi dikuasai pasangan Hadi-Gsutami. Selain dekat dengan masyarakat, pasangan ini juga dikenal religius sesuai dengan norma masyarakat pesisir. Dukungan kepada pasangan ini tiada henti mengalir. Bukan hanya dari kawula muda, tapi juga para ulama, ibu-ibu, dan mayoritas nelayan. “Mohon doa,” tutur Gustami yang dikenal sebagai pendakwah di Tanjung Balai.

Pilkada Tanjung Balai memperebutkan 118.135 suara DPT. Pihak KPUD setempat juga menerapkan patuh Prokes, sehingga masyarakat tidak khawatir untuk datang ke TPS. Untuk kesiapan seluruh petugas, KPU melaksanakan simulasi. “Ini penting, simulasi sangat diperlukan, kesiapan dilakukan bukan hanya di tempat TPS, tapi di luar area pemungutan suara juga perlu dipersiapkan, agar protokol kesehatan bisa diterapkan. Sehingga masyarakat bisa aman datang ke TPS karena menerapkan protokol kesehatan. Prosedur protokol kesehatan akan diterapkan pada masa hari H pemungutan suara dan penghitungan suara,” kata Ketua KPU Tanjung Balai, Luhut parlinggoman Siahaan.

Sementara Pilkada Binjai diikuti paslon Lisa Andriani Lubis-Sapta Bangun (PDIP, PAN, Nasdem dan Hanura), Juliadi-Amir Hamzah (Golkar, Demokrat dan PPP) dan Rahmad Sori Alam Harahap-Usman Jakfar (Gerindra, PKS).

Pilkada Labuhanbatu Utara diikuti Dwi Prantara-Edi Sampurna Rambe (Perseorangan), Hendri Yanto-Samsul Tanjung (PPP, Hanura, PAN, PBB), Ali Tambunan-Raja Panusunan Rambe (Partai Golkar), Ahmad Rizal Munthe-Aripay Tambunan (PDIP, Gerindra dan PKS) dan Darno-Haris Muda Siregar (PKB, Nasdem dan Demokrat).

Di Labuhanbatu, Pilkada diikuti paslon Suhari Pane-Irwan Indra (perseorangan), Ahmad Roni -Ahmad Jais (PPP, PAN dan PBB), Erik Adtrada Ritonga-Ellya Rosa (Hanura, Nasdem, PDIP dan PKB), Andi Suhaimi Dalimunthe-Faizal Amri Siregar (Golkar dan PAN) dan Tigor Panusunan Siregar-Idlinsah Harahap (Gerindra dan Perindo).

Pilkada Labuhanbatu Selatan masing-masing paslon Nurdin Siregar-Husni Rizal Siregar (Perseorangan), Maslin Pulungan-Fery Andika Dalimunthe (Perseorangan), Mangayat Jago Ritonga-Jon Abidin Ritonga (Perseorangan), Edimin-Ahmad Fadli Tanjung (PDIP, PKPI), dan Hasnah Harahap-Kholil Jufri Harahap (PAN, PKB, Nasdem, Gerindra, Perindo, PPP dan PKS).

Di Mandailing Natal, Pilkada diikuti paslon Muhammad Jakfar Suhairi Nasution-Atika Azmi (PKB, PKS, Hanura), M Sofwat Nasution- Zubeir Lubis (Gerindra, PAN dan Demokrat), Dahlan Hasan Nasution-Aswin (Golkar, Berkarya, PPP, PDIP, PPP, Perindo dan PKPI).

Pilkada Sibolga diikuti paslon H Bahdin Nur Tanjung-Edi Polo Sitanggang (PDIP, Golkar dan PBB), Jamaluddin Pohan- Pantas Maruba Lumbantobing (Nasdem, Perindo, Demokrat, Gerindra dan PKS) dan Ahmad Sulhan Sitompul-Edwin Sihaan (perseorangan).

Di Nias diikuti paslon Enanoi Dohare- Yulius Lase (perseorangan), Yaatulo Gulo- Arota Lase (PDIP dan Golkar), Christian Zebua-Anofuli Lase (Nasdem, PKS dan Perindo), Arosokhi Waruwu- Asaldin Gea (Demokrat dan Gerindra). Sementara Nias Utara, Pilkada diikuti Fonaha Zega- Emanuel Zebua (perseorangan), Amizaro Waruwu-Yusman Zega (PAN, Hanura, PKPI dan Nasdem) dan Marselinus Ingati Nazara- Otorius Harefa (Golkar, PDIP, Demokrat dan Gerindra).

Pilkada Simalungun diikuti Wagner Damanik-Abidinsyah Damanik (perseorangan), Anton Ahmad Saragih-Rospita Sitorus (PDIP, Nasdem dan PAN), Radiapoh Hasiolan Sinaga-Zoni Waldi (Golkar, Hanura, Berkara, Perindo dan PKS), dan Muhajidin Nur Hasim-Tumpak Siregar (Demokrat dan Gerindra).

Untuk Samosir diikuti Marhuale Simbolon-Guntur Sinaga (perseorangan), Rapidin Simbolon-Juang Sinaga (PDIP), Vandiko Timotius Gultom-Martua Sitanggang (Nasdem, PKB, Demokrat, Golkar, Gerindra dan Hanura). Sementara Pilkada Karo diikuti pasangan Iwan Sembiring-Budianto Surbakti (PDIP), Josua Ginting-Saberina br Tarigan (Hanura, PKPI dan Hanura) dan Cory Sriwati Sebayang- Theopilus Ginting (Gerindra dan Perindo). Zainul Arifin Siregar dan Tim Sumut

You might also like