PRESIDEN BERGANTI KORUPSI ABADI DUA

BMKG Minta Masyarakat Waspadai Bahaya Gempa dan Potensi Tsunami

Indonesia Dilanda Gempa 6.000 Kali per Tahun

Masyarakat diminta untuk waspada terhadap potensi bahaya gempa yang disertai tsunami. Soalnya, Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mendata pada tahun 2020 ini, tercatat ada 8.264 kali gempa terjadi di Indonesia. Jumlah itu lebih sedikit dibandingkan dengan frekuensi pada tahun lalu, yakni sebanyak 11.515 kali.

Koordinator Mitigas Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono menerangkan rata-rata kegempaan dalam setahun sebanyak 6.000 kali. Jumlah ini dianggap wajar karena sumber gempa di Indonesia sangat banyak.

Berdasarkan data BMKG, ada 13 segmen megathrust dan lebih dari 295 sesar aktif. “Kita perlu mewaspadai zona seismic gap, seperti subduksi Mentawai, selatan Banten-Selat Sunda, selatan Bali, Lempeng Laut Maluku, Lempeng Laut Filipina, dan Tunjaman Utara Papua,” ujar Daryono dikutip dari keterangan pers Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Rabu (30/12/2020).

Daryono menjelaskan zona seismic gap lain yang perlu diwaspadai adalah sesar lembang, segmen Aceh, segmen Matano, dan Sesar Sorong. Kewaspadaan semua elemen masyarakat sangat penting karena gempa berpotensi mengakibatkan jatuhnya korban dan kerusakan infrastruktur. Selama ini, masyarakat beranggapan hanya gempa besar dengan kekuatan lebih dari magnitudo (M) 6 yang mengakibatkan kerusakan.

Namun, berdasarkan data, gempa dangkal yang berkekuatan M 4 hingga 5 pun bisa menimbulkan kerusakan infrastruktur. “Sebagai upaya mitigasi, membangun rumah tahan gempa di daerah rawan menjadi solusi utama. Hal itu dapat mengurangi bahaya dan risiko bencana gempa bumi,” tutur Daryono.

Ia memaparkan masyarakat untuk waspada terhadap potensi tsunami. Berdasarkan statistik, setiap dua tahun sekali wilayah Indonesia terjadi gempa yang diikuti tsunami. “Sebagai langkah antisipasi masyarakat pesisir rawan tsunami wajib memahami konsep evakuasi mandiri,” katanya.

 

You might also like