TIADA PIDANA TANPA KESALAHAN

Sebelum Ditangkap KPK, Edhy Prabowo Sempat Lakukan 3 Hal

Komisi Pemberantasan Korupsi  (KPK) menangkap Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo  yang baru saja tiba di Tanah Air setelah melakukan kunjungan ke Honolulu, Hawaii Amerika Serikat (AS). Edhy ditangkap KPK untuk dimintai keterangan terkait ekspor benih lobster.

Sebelum ditangkap KPK, ada 3 hal yang sempat dilakukan Edhy Prabowo. Pertama, saat ke AS, Edhy mengunjungi Oceanic Institute of Hawaii Pacific University. Acara itu merupakan wadah penelitian untuk seluruh jenis udang. Dalam acara itu, terdapat berbagai perusahaan yang memiliki great grandparents dari berbagai jenis udang termasuk udang vaname.

“Jadi buyutnya induk udang. Di sini dia bekerja sama dengan swasta karena ini diinisiasi dengan pemerintah Amerika. Jadi dia bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan swasta Amerika, yang kemudian masing-masing perusahaan ini punya mitra lagi ke perusahaan lain. Mungkin ada yang sudah ke Indonesia,” terang Edhy saat jadi pembicara dalam acara Jakarta Food Security Summit-5, Kamis (19/11/2020) lalu.

Dengan kunjungannya itu, Edhy berencana untuk melakukan nota kesepahaman (MoU) dengan para perusahaan itu. Tujuannya untuk memastikan stok kebutuhan bahan untuk bibit udang yang tengah dikembangkan oleh Indonesia.

“Nah saya ingin memastikan, kita ingin semakin mempertajamkan. Jadi jangan ada ketergantungan. Nanti kita kesulitan, induk ini nanti susah kita dapat. Nah saya akan langsung melakukan MoU. Ini bisa menjadi jaminan kepada para pelaku usaha untuk kepastian bibit udang sendiri,” imbuhnya.

Selain mencari bibit udang vaname untuk Indonesia, Edhy juga mengunjungi Anak Buah Kapal (ABK) asal Indonesia yang bekerja di AS. Ia membagikan momen kunjungannya itu dalam akun Instagram resminya @edhy.prabowo.

“Banyak hal yang mereka sampaikan tentang dinamika kerja di luar negeri, termasuk kerinduan terhadap keluarga di Indonesia. Meski mencari nafkah di Negeri Paman Sam, para ABK ini tetaplah nelayan Indonesia. Sehingga kami di KKP akan selalu berkomunikasi dengan pihak KJRI untuk mengetahui kabar teman-teman di sini,” bunyi keterangan foto tersebut.

 Edhy Sindir Susi

Pada 19 November atau 6 hari lalu, Edhy sempat menyindir Menteri KKP terdahulu, Susi Pudjiastuti terkait kebijakan budi daya udang. Edhy menyebutkan, jika saat in budi daya udang di Indonesia masih belum maksimal.

Padahal jika inovasinya baik maka budi daya bisa maksimal seperti di Muara Gembong, yang mampu menghasilkan 40 ton dalam 1 kali panen. Dia menyebut jika ini berpotensi besar untuk perikanan Indonesia. Edhy menyebut jika kebijakan pimpinan KKP yang dulu justru memperketat pembukaan lahan tambak udang dengan mengambil lahan mangrove.

Edhy Prabowo mengatakan, kebijakan dari pendahulunya 5 tahun yang lalu dinilai membuat sektor industri itu terhenti. Seperti diketahui, 5 tahun yang lalu KKP masih dipimpin oleh Susi Pudjiastuti.

“Kalau kita melihat 5 tahun lalu bagaimana para industriawan kita di sektor ini berhenti hanya karena beberapa kebijakan yang mengadu. Dihadapkan antara sustainability, keberlangsungan dengan prosperity,” ucapnya.

Menurut Edhy kebijakan tersebut tidak memikirkan kemakmuran rakyat. “Sebagai misal kalau orang buka tambak selalu diperhadapkan dengan bagaimana lahannya, menebangi mangrove dan sebagainya. Padahal untuk menyejahterakan masyarakat, memberi kehidupan mereka layak, tidak perlu sampai berhektare-hektare lahan. Sementara kita lihat semua di lapangan, banyak masyarakat yang memiliki tambak lebih dari 2 hektar di luar Jawa, tapi tidak pernah produktivitasnya bisa lebih dari 1 ton,” kata politikus Partai Gerindra tersebut.

You might also like