TIADA PIDANA TANPA KESALAHAN

“Sadari, Kita Masih Berada Pada Masa Pandemi”

Anak berpakaian kusam itu menenteng sejumlah asongan. Kakinya lincah berjalan di sela-sela lalu lalang kendaraan. Sorot matanya pun tajam memandang kiri dan kanan. Sering kali pula ia harus terpaksa berlari mengejar mobil yang berhenti di perepatan jalan. Tak ada rasa malu. Satu persatu sopir mobil dihampiri, lalu ditawarkan rokok dan minuman.

“Saya harus tetap berjualan walaupun sepi. Saya ingin membantu orangtua,” ucap Andre, salah seorang pedagang asongan yang mangkal di persimpangan Jalan AH Nasution dan Jalan SM Raja Medan.

Andre memang belum lama berjualan asongan. Ia mengaku melakoni usaha itu sejak sekolahnya memberlakukan belajar di rumah. “Saat heboh-hebohnya corona kemarin, sekolah libur panjang. Saya manfaatkan libur dengan berjualan asongan,” katanya bangga, Minggu (29/11/2020).

Meski mencari nafkah di trotoar jalanan, Andre mengaku tetap selalu mengedepankan kesehatan. Ia tak pernah lupa memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak dengan sopir di persimpangan. “Awalnya susah menjajakan asongan dengan mulut yang tertutup masker. Lama-lama asyik juga. Sekarang malah ketika tidak memakai masker, seperti ada yang kurang dalam diri. Pakai masker sudah seperti jadi kewajiban,” sebutnya.

Dari berjualan asongan, sehari Andre bisa mengantongi penghasilan 10 hingga Rp 40 ribu. “Musim corona begini, penghasilan sebesar Rp 40 ribu itu sudah sangat bersyukur. Yang lain, belum tentu dapat,” tuturnya.

Andre pun menunjuk beberapa abang becak yang mangkal di sepanjang Jalan SM Raja Medan.  “Abang lihat tuh penarik becak. Duduk berjam-jam menunggu tumpangan, tapi tidak ada. Apa yang mau mereka makan,” jelas bocah berkulit hitam itu.

Bukan hanya Andre yang merasakan pahitnya hidup mencari nafkah akibat corona, jutaan pekerja lainnya yang terkena PHK, juga terancam kelaparan. Mereka sulit memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Hampir seluruh sektor ekonomi tanpa dinyana mendadak lumpuh terdampak virus yang berasal dari Wuhan, China, tersebut.

“Mau berusaha yang lain tidak bisa, takut virus pembawa maut. Kalau terus berdiam diri di rumah, mau makan apa?” celetuk Sunardi, abang becak yang mangkal di simpang Kayu Besar Tanjung Morawa.

Sunardi, dahulunya bekerja di sebuah pabrik kawasan Medan Star. Produksi perusahaannya merosot hingga manajemen pabrik terpaksa merumahkan puluhan pekerja, termasuk Sunardi. “Perusahaan terdampak Covid-19. Kami dirumahkan tanpa batas waktu,” ujarnya berkisah alasan menarik becak.

Derita Sunardi tidak sepahit pengalaman Tumin. Selama ini, Tumin memenuhi hidup keluarga dengan menjual jasa hiburan berupa permainan sandiwara Mak Lampir pada acara pesta. Namun, sejak adanya pelarangan menyelenggarakan keramaian, usahanya mati total, tidak ada pemasukan apapun. “Group sandiwara libur dulu. Setelah nanti aman dari corona, group tampil lagi memenuhi undangan menghibur masyarakat di acara pesta atau sunatan,” tukas Tumin seraya berdoa semoga corona cepat berlalu dari Sumatera Utara.

Sejauh ini pandemi Covid-19 diakui memang berdampak pada semua sektor kehidupan. Tak hanya melumpuhkan perekonomian, tapi juga banyak menelan korban. Secara akumulasi, kasus Covid-19 di Sumut sejak awal pandemi hingga 23 November 2020, didapatkan 14.988 penderita. Pasien sembuh mencapai 12.369 orang dan 595 penderita meninggal dunia.

“Penderita Covid aktif Sumut 2.024 orang. Dari angka tersebut, 1.525 penderita melaksanakan isolasi mandiri dan 499 penderita lainnya dirawat isolasi di rumah sakit,” sebut Juru Bicara (Jubir) Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Sumut, Mayor Kes dr. Whiko Irwan D, SpB, Selasa (24/11/2020) pekan lalu.

Angka kesembuhan di Sumut per 22 November 2020 mencapai 82,45 persen atau meningkat 0,61 poin dibandingkan minggu sebelumnya, yaitu 81,84 persen. Angka ini sudah jauh melampaui angka kesembuhan dunia, yaitu sebesar 69,22 persen dan terus mendekati angka kesembuhan nasional yang mencapai 84,00 persen. “Tren yang baik dari perkembangan Covid-19 Sumut, tetap harus disadari bahwa kita masih berada pada masa pandemi,” papar Whiko.

Meski begitu, sampai saat ini masih ada ditemukan penderita Covid-19 positif yang baru, sehingga tetap membutuhkan kewaspadaan dan konsistensi masyarakat Sumut untuk melaksanakan protokol kesehatan dalam aktivitas kehidupan sehari-hari.

Untuk itulah, Satgas Penanganan Covid-19 terus mengingatkan masyarakat menerapkan protokol kesehatan dalam kehidupan sehari-hari guna memutus rantai penularan Covid-19 dengan menjalankan 3M, menggunakan masker, menjaga jarak dan hindari kerumunan, serta mencuci tangan dengan air dan sabun.

“Lonjakan angka penderita Covid-19 akan kembali terjadi bila protokol kesehatan kita abaikan,” pesan Whiko.

You might also like