TIADA PIDANA TANPA KESALAHAN

DPR Minta OJK dan Kepolisian Usut Tuntas Kasus Dugaan Penipuan oleh Indosurya Inti Finance Terhadap Lansia 80 Tahun

 

JAKARTA – Kasus yang menimpa Tuty Suryani, seorang lansia berusia 80 tahun yang kehilangan hotel kesayangannya, Hotel Surya Baru disoroti Anggota DPR RI, Effendi Sianipar. Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu meminta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menjalankan fungsi pengawasannya dan menyelidiki PT Indosurya Inti Finance. Desakan tersebut disampaikannya karena besar dugaan Lembaga keuangan non Bank (finance) itu melakukan praktik perampokan berkedok jasa pembiayaan. “Besar dugaan perampokan terhadap masyarakat, karena pada akhirnya mendzolimi debiturnya,” Jelas Effendi di Komplek Senayan, Jakarta pada Jumat (20/11/2020).
Bersamaan dengan hal tersebut, dirinya pun meminta aparat Kepolisian dan Kejaksaan Republik Indoesia untuk mengawasi jalannya proses perkara dalam menegakkan keadilan. “Saya juga akan mendorong aduan dan aspirasi ini sampai ke Komisi III DPR RI untuk dapat memanggil pata pihak terkait kasus ini,” Tegasnya
Poltisi PDIP itu pun meminta Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) V Jakarta untuk meninjau ulang dan membatalkan proses lelang atas objek jaminan dalam perkara tersebut. Hal itu perlus dilakukan Sesuai dengan amanat perundang-undangan yang berlaku.
Untuk diketahui bahwa lansia 80 tahun itu merupakan debitur PT Indosurya Inti Finance (IIF). Dirinya mengaku merugi puluhan miliar rupiah hingga harus kehilangan Hotel Surya Baru kesayangannya. Kisah malangnya itu diungkapkan Tuty bermula ketika dirinya hendak merenovasi hotel yang berlokasi di Gambir, Jakarta Pusat pada Juli 2017 lalu. Ketika itu, Tuty bersama putrinya, Tien Budiman memberikan jaminan atas dua sertifikat tanah Hak Guna Bangunan (HGB) Hotel Surya Baru sebagai agunan perjanjian kredit dengan PT Indosurya Inti Finance. “Tujuan pengajuan kredit untuk renovasi dan peningkatan fasilitas hotel,” ungkap Tuty lemah.
Pengajuan pinjaman kredit akhirnya diterima PT indosurya Inti Finance dengan total pinjaman senilai Rp 12,2 miliar. Namun, realisasi pinjaman yang diterima Tuty hanya sebesar Rp 8,1 miliar. “Total potongan sekitar Rp 4,1 miliar lebih,” kenangnya sedih.
Lantaran pinjaman diterima hanya sebesar Rp 8,1 miliar, rencana renovasi hotel akhirnya gagal. Hotel Surya Baru yang dibangunnya sejak puluhan tahun pun berhenti beroperasi. Kendati hotel tidak beroperasi, Tuty dan putrinya masih memenuhi kewajiban pembayaran utang. Tercatat, selama kurun waktu Februari 2018 sampai dengan April 2019, keduanya telah melakukan pembayaran cicilan sebesar Rp 4,4 miliar. Pembayaran kredit tersebut diakuinya semakin berat dilakukan. Sehingga selama 6 bulan, tepatnya periode Mei 2019 hingga November 2019, keduanya kesulitan membayar angsuran yang mencapai sebesar Rp 293.337.913 per bulan. “Sekitar Oktober dan November 2019, kami coba melunasi pinjamannya, tapi kreditur tidak memberikan rincian utang,” imbuh Tien.

Selanjutnya, tanpa ada pemberitahuan sebelumnya, tepatnya pada 5 Desember 2019, PT. Indosurya menjual hak tagihnya (cessie) kepada Ade Ernawati, yang identitas dan alamatnya tidak jelas. Informasi yang dihimpun, Ade Ernawati mengajukan lelang atas obyek jaminan, yakni Hotel Surya Baru dengan harga Rp 21,8 miliar. Namun, apabila mengacu pada Laporan Kantor Jasa Penilai Publik Andreas Parlidungan Siregar No. 00190/3.0068-00/PI 12/0373/0XI/2020 tanggal 16 November 2020, Nilai obyek lelang mencapai Rp 83,3 miliar. “Kami merasa tertipu, hotel kami dilelang sepihak kepada seseorang yang tidak jelas identitasnya,” Tutup Tien sedih. (abdul farid)

You might also like