TIADA PIDANA TANPA KESALAHAN

Covid-19, Bukanlah Penyakit Remeh Temeh

Azizah terduduk lemah. Tubuhnya terasa pegal. Lesu, letih dan tak bertenaga. Ibu paruh baya ini tak menyangka dirinya bisa terkapar seakan tak berdaya. “Kok bisa begini. Padahal aku baru saja siap makan,” lirihnya.

Azizah merasa ada keanehan dengan kondisi fisiknya yang menurun. Ia pun menerka-nerka penyakit apa yang menggelayuti tubuhnya. “Memang kemarin demam flu, tapi sudah sembuh,” ucapnya curiga kalau tubuhnya melemah akibat penyakit flu tersebut.

Awalnya, demam yang dialaminya memang panasnya turun naik. Setelah meminum obat deman, flunya sembuh. Namun, beberapa hari kemudian, kekuatan tubuhnya tiba-tiba lesu dan tidak bertenaga. Letih, lesu dan nafsu makan pun hilang.

Setiap yang dimakan, selalu keluar lagi. Tubuhnya semakin lemah dan tidak bertenaga. Pikirannya berkecamuk. Pandemi Covid-19 pun terlintas dalam pikirannya. Kekhawatiran pun datang, karena daya tahan tubuhnya menurun dratis.

Pada paginya, Azizah diantar anak gadisnya ke rumah sakit kawasan Tanjung Morawa, Deli Serdang. Tim medis pun memberlakukan prosedural  Covid-19. Tangan kanannya ditusuk jarum oleh perawat untuk mendeteksi penyakit. Cek darah dilakukan. “Hasil rapid testnya negative,” tuturnya.

Meski begitu, tim medis tetap menyarankan Azizah agar melakukan tes swab ke rumah sakit rujukan yakni RS GL Tobing PTPN II. Azizah yang optimis tidak terinfeksi Covid-19, mengikuti saran itu. Hanya saja, ia melakukan test swab di RSUD Lubuk Pakam.

Sambil menunggu hasil swab, pada pertengahan Agustus lalu, Azizah sebenarnya ingin dirawat di rumah sakit tersebut, tapi karena keterbatasan tempat, dokter menyarankan untuk isolasi di rumah saja. “Saya disarankan isolasi di rumah,” katanya.

Seminggu kemudian, hasil swab keluar. Bagai disambar petir di siang bolong, Azizah histeris.

“Hasilnya positif, tapi saya merasa tidak sakit. Saya sehat,” akunya histeris.

Sejak swab keluar, Azizah trauma. Pihak medis memintanya untuk isolasi mandiri. Tim medis juga memeriksa kesehatan seluruh keluarganya. Bahkan, rumahnya disemprot disenpektan. “Karena tubuh dianggap sehat dan tanpa gejala, saya disarankan isolasi mandiri di rumah selama 14 hari,” paparnya.

Dua minggu kemudian, kesehatan Azizah kembali diperiksa. Ia kembali menjalankan tes swab. Kali ini, hasilnya negative. Azizah bersih dari Covid-19. “Lebih dari dua minggu tidak keluar rumah, sendiri di kamar melulu. Jam makan pun teratur. Tapi Alhamdulillah, sekarang sudah tidak terinfeksi lagi,” akunya bangga.

Walau tidak lagi terinfeksi Covid-19, Azizah mulai jarang melakukan aktivitas di luar rumah. Jika pun ke luar rumah, ia selalu memakai masker, cuci tangan dengan sabun, serta menjaga jarak selalu dipatuhi. Begitu juga makanan yang dikonsumsi, sudah mengandung vitamin dan protein untuk kebutuhan jasmaninya. “Walau hasil pemeriksaan dinyatakan bukan Covid-19, saya tetap khawatir dengan wabah itu. Harus waspada. Itu wabah mematikan, bukan penyakit remeh temeh,” tukasnya.

Kekhawatiran Azizah sangat beralasan. Angka terkonfirmasi positif virus corona di Sumatera Utara ternyata terus bertambah. Bahkan, Sumatera Utara kini berada di urutan ke-6 terbesar secara nasional.

“Sumut di urutan ke-6 terbesar secara nasional,” ucap juru bicara Satgas Penanganan Covid-19 Sumut, dr Aris Yudhariansyah kepada wartawan di Medan, beberapa waktu lalu.

Aris mengakui bahwa masih terus ada penambahan jumlah pasien terkonfirmasi Covid-19 setiap hari. “Meski jumlah pasien sembuh meningkat, tapi angka pasien terkonfirmasi juga terus bertambah.

Ini harus menjadi perhatian serius semua pihak. Tidak bisa dianggap remeh,” tutur Aris.

Aris kembali mengingatkan masyarakat agar patuh terhadap protokol kesehatan seperti menggunakan masker, mencuci tangan, menghindari kerumunan dan menjaga jarak. “Mematuhi protokol kesehatan harus terus dilakukan karena jumlah pasien positif masih bertambah,” imbaunya.

You might also like