PRESIDEN BERGANTI KORUPSI ABADI DUA

Maqdir Ismail: Pertimbangan Putusan Hakim Sungguh Mengecewakan

 

Mantan Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya Persero, Hendrisman Rahim divonis penjara seumur hidup. Hendrisman diputus bersalah telah melakukan korupsi dengan memperkaya diri dan Benny Tjokro dkk senilai Rp 16 triliun. “Mengadili, menyatakan terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama. dan menjatuhkan pidana terdakwa Hendrisman Rahim penjara seumur hidup”, kata ketua majelis hakim, Susanti Adi Wibawani, di PN Topikor Jakarta Pusat, Jalan Bungur Besar Raya, Jakpus, Senin 12 Oktober 2020.

.Mantan Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya (Persero) Hendrisman Rahim sempat terkejut atas putusan seumur hidup yang dijatuhkan oleh majelis hakim. Hal itu diungkap oleh Tim kuasa hukumnya, Maqdir Ismail. “Saya dan Hendrisman Rahim terkejut atas putusan majelis hakim. Karena diputus dengan hukuman seumur hidup, lebih tinggi daripada tuntutan jaksa 20 tahun penjara”, Ujarnya kepada FORUM

Maqdir menilai  dalam putusan disusun secara terbalik. Hakim justru menyatakan Terdakwa bersalah lebih dahulu, baru mempertimbangkan dan menilai pembelaan dan tuntutan jaksa. Mendengar pertimbangan hakim, sungguh mengecewakan. Cukup banyak argumen yang kami sampaikan tidak dibacakan pertimbangannya atau justru memang tidak dipertimbangkan.

Untuk mengetahui lebih lanjut bagimana tanggapan dan komentar tim kuasa Mantan Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya (Persero) Hendrisman Rahim atas putusan yang dijatuhkan oleh majelis hakim pengadilan Tipikor Jakarta dalam mega skandal korupsi ditubuh PT Asuransi Jiwasara. Berikut wawancara Abdul Farid dari FORUM dengan Dr. Magdir Ismail SH.,MH pada Rabu 14 Oktober 2020 di Jakarta. Berikut nukilannya;

Majelis hakim sudah menjatuhkan putusan seumur hidup terhadap Mantan Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya (Persero) Hendrisman Rahim. Apa tanggapan terhadap vonis hakim terhadap klien Anda tersebut?

Kami heran atas putusan seumur hidup yang dijatuhkan oleh majelis hakim. Karena diputus dengan hukuman seumur hidup, lebih tinggi daripada tuntutan jaksa penuntut umum yang menghukum klien kami 20 tahun penjara. Saya pikir hukuman itu dijatuhkan kepada seseorang atas perbuatanya bukan karena jabatanya. Klien saya ini pak Hendrisman beliau terkait dengan investasi saham itu karena jabatan dia sebagai Direktur Utama Jiwasayara waktu itu, bukan karena pekerjaan dia. Jadi tidak urusan secara langsung antara investasi saham dengan Hendrisman selaku Direktur Utama yang dianggap merugikan itu.

Meskipun dalam kenyataanya tidak seperti yang mereka bilang karena saham ketika itu masih ada nilainya ko. Hal lain yang penitng juga yaitu apa iya majelis hakim didalam pertimbanganya yang menghukum dengan hukuman seumur hidup itu tidak menjelaskan apa dasarnya sehingga orang ini layak dihukum seberat itu.

Apa hal yang mendasar sehingga Klien anda memutuskan untuk banding atas putusan majelis hakim. Bisa anda jelaskan?

Kami melihat telalu banyak kesalahan dalam putusan tersebut. Salah satu contoh yang paling sederhana da nada dikasat mata betul, bahwa saham yang ada sekarang (Reksa dana) dianggap oleh putusan itu tidak ada nilainya. Seolah olah nol nah hal itu terjadi, terus kita mau bilang apa. Jiwasaraya itu kan perusahaan besar dan para pemegang sahamnya juga pengusaha atau perusahaan besar yang ada disitu. Dan ada juga saham milik negara yaitu saham BUMN, masa nilainya nol. Selanjutnya terhadap hukumannya juga, ini kami menilai orang dihukum karena apa? Disama ratakan hukumanya itu.

Kantor Jiwasraya

Selain yang sudah anda jabarkan, apakah ada hal lain yang dinilai janggal oleh tim kuasa hukum sehingga layak kasus ini naik ke tingkat banding. Bisa anda jelaskan?

Saya menjelaskan mengenai kerugian dalam kasus Jiwasaraya. Kerugian itu apa ya? Menurut Kepala Divisi Investasi yang sekarang masih ada di Jiwasaraya itu dimana ditahun 2017 itu ada beberapa saham diantaranya di JBR, SNBR dan lainya itu nilainya masih menguntungkan. Menurut perkiraan masih keuntungan sekitar 800 miliar kala itu. Sementara reksa dana menurut kepala Divisi Investasi itu sampai tahun 2017 itu ada keuntungan sekitar 2,3 Teriliun. Nah pertanyaanya, bagimana ko sekarang tiba tiba jadi rugi sekitar 16 Triliun. Ini yang menurut kami tidak masuk diakal, itulah diantanya yang menjadi alasan kami untuk banding. Apa iya memang layak orang seperti Hendrisman dihukum seumur hidup.

Karena bagaimanapun juga ini yang hakim lupa, ketika Pa Hendrisman masuk di tahun 2008 itu Jiwasaraya sudah insolven 6,7 Triliun. Hal itu berhasil diselamatkan dan masih hidup sampai dengan pa Hendrisman tinggalkan Jiwasayara. Akan tetapi mereka tinggalkan satu tahun kemudian pengurus yang mengurus Jiwasaraya ini tidak ngurusnya. Sehingga terjadila gagal bayar. Akibat gagal bayar itukan semua investorkan menarik uangnya. Nah ketika gagal bayar, investor menarik uangnya sementara yang disalahkan direksi yang lalu. Bukan yang disalahkan itu direksi yang mengurus disaat gagal bayar dan para investor menarik uangnya. Artinya yang tidak mampu urus asuransi Jiwasaraya itu bukan direksi yang lalu, direksi sekarang mestinya mereka yang dipidanakan.

Kalau menurut anda ini majelis hakim tidak membaca atau melihat kasus Jiwasaraya ini secara utuh. Bisa anda jelaskan?

Saya kira mereka (majelis hakim) membacanya, cuman mereka kalau menurut saya yang ada di kepala mereka itu (hakim) menghukum orang. Bukan menegakkan hukum secara adil, point nya hakim menghukum orang bukan menghukum perbuatanya. Khususnya pa Hendrisman kan ini dihukum karena jabatanya. Makanya seperti yang saya jelaskan tadi beliau itu nggak ada urusanya dengan dengan kegiatan yang berhubungan dengan investasi. Investasi itu dibawah direktur keuangan da nada aparatnya tersendiri. Mustinya hakim meliha itu dulu, kalau memang andai kata betul bahwa ada kesalahan dibawah. Ya yang dibawah yang salah itu yang harus dihukum, kan tidak bisa langsung ditarik ke atas bahwa mereka harus dinayatakn bersalah. Tidak bisa begitu lah, kalau begini caranya siapa yang mau jadi Direktur Utama, orang cawe cawe dibawah dirut yang kena. Itu hal yang tidak masuk diakal.

 

You might also like