Ketika Pedagang Kecil Digerus Pemain Besar

 

Priyono B Sumbogo

Pandemi COVID-19 yang masih mewabah di Tanah Air membuat berbagai sektor mulai kolaps, seperti usaha kuliner. Banyak terdengar kabar sejumlah usaha kuliner terpaksa merumahkan karyawan atau bahkan tutup. Salah satu usaha yang menjadi sorotan pengguna media sosial belakangan ini adalah gerai pizza ternama, Pizza Hut.

Sebuah video TikTok viral setelah dibagikan akun Twitter @bubursiapsaji. Video tersebut memperlihatkan seorang pegawai Pizza Hut yang menjual dagangannya di pinggir jalan sekitar Balai Kota Malang dengan menggunakan mobil. Video yang telah disukai dan dibagikan ribuan kali tersebut menuai banyak simpati warganet.

Strategi serupa dilakukan oleh gerai restoran fast food terkenal, KFC. Restoran fast food yang dikenal dengan ayam goreng crispynya tersebut juga melakukan siasat dengan membuka lapak di pinggir jalan.

Seperti yang terlihat pada unggahan akun Instagram @hallosamarinda. Dalam foto tersebut memperlihatkan gerai kecil bergambar KFC lengkap dengan karyawan berseragamnya yang tengah menjajakan ayam goreng andalannya hingga minuman segar.

Berjualan di pinggir jalan ini dilakukan sebagai aksi menjemput bola ke konsumen untuk dapat bertahan di tengah pandemi COVID-19. Meskipun beberapa gerai mereka juga membuka layanan antar lewat ojek online.

Starbucks merupakan perusahaan kopi asal Amerika. Bemiutra dengan pengusaha Indonesia, Starbucks yang sudah memiliki kafe di seluruh  Indonesia.

Cafe dengan nuansa elegan ini makin digemari anak muda. Namun baru-baru ini salah satu netizen membagikan penampakan Starbucks berjualan di pinggir jalanan tak di dalam pusat perbelanjaan sepeti biasanya. Tentu dengan harga terjangkau.

Terjangan bisnis makanan para pebisnis besar kian agresif seiring diberlakukannya kembali Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Direktur PT Sarimelati Kencana Tbk Jeo Sasanto menerangkan bahwa perseroan lebih memfokuskan penjualan di outlet Pizza Hut di luar mall.

Jeo berharap dampak penerapan PSBB terhadap penjualan perseroan pada kuartal ketiga tahun ini kemudian diharapkan tidak akan terlalu besar apabila outlet Pizza Hut di pusat perbelanjaan tetap bisa beroperasi untuk memaksimalkan penjualan take away dan delivery.

Sebelum menerjang pasar bawah, outlet Pizza Hut memaksimalkan penjualan daring melalui kerja sama dengan Grab dan Gojek disertai dengan promosi-promosi yang menarik untuk pelanggan sehingga diharapkan dampak penutupan fasilitas dine-in bisa tertutupi oleh penjualan take away dan delivery.

Dengan strategi tersebut, Joe menyebutkan bahwa emiten berkode saham PZZA tersebut masih mampu mencetak pendapatan sebesar Rp 1,82 triliun, relatif stabil dengan penurunan hanya sebesar 6.06 persen secara year-on-year pada semester pertama tahun ini.

Tapi apakah pemain besar seperti Pizza Hut dan KFC menimbang nasib pedagang kecil Bangsa Indonesia? Sepertinya tidak, Dampak wabah COVID-19 berimbas pada banyak sektor kehidupan tak terkecuali lapisan masyarakat bawah seperti para Pedagang Kaki Lima (PKL).

Para PKL ini merasakan kerugian akibat menurunnya pembeli. Gerakan “di rumah saja” menyebankan perekonomian pedagang kaki lima merosot, bahkan berhenti sama sekali.

Simaklah keluhan Pedagang Kaki Lima  di Jagakarsa, Jakarta Selatan yang bernama Surya. Dia merupakan pedagang makanan ringan seperti batagor dan siomay dari Cimahi, Jawa Barat.

Surya mengaku mengalami kerugian besar akibat sepinya pembeli. Dia sampai menutup usahanya untuk sementara waktu sampai waktu yang tidak ditentukan karena imbas pandemi COVID-19. “Untuk sementara ini saya tidak berjualan dulu, Pas Corona ini muncul usaha saya sepi banget jarang ada yang beli, sampe sampe saya rugi besar. Dagangan saya pernah ga ada yang beli sama sekali, saya pulang tapi panci masih penuh sama siomay terus grobog saya juga masih penuh sama batagor. Pendapatan sama pengeluaran ya ga seimbang, alias kebanyakan pengeluarannya. Sedangkan tiap hari saya mesti makan sekarang harus berhenti dulu.” Begitu keluhnya.

Pedagang Kaki Lima, pasar tradisional indentik dengan pedagang kecil kaum pribumi. Pasar tradisional identik pula dengan pedagang kelas dua. Bahkan sekarang sudah tidak berkelas, karena Pizza Hut, KFC, Starbucks, Alfa Mart menerjang sampai ke kampung-kampung, merebut rejeki pedagang kecil. Kedai-kedai buah di pinggir jalan yang menjadi tumpuan hidup orang kampung dilabrak habis. Warung-warung rokok digulung jadi kayu bakar.

Carrefour Indonesia (Carrefour), perusahaan dari Perancis, kini menjadi perusahaan yang lolos dari ketukan palu Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Carrefour selanjutnya leluasa berdiri megah di atas bangkai pasar tradisional.

Perusahaan Amerika Serikat dan warga keturunan Tionghoa yang menguasai hampir semua rumah toko (ruko) dan kegiatan bisnis di seantero Indonesia, sudah menggilas sumber penghasilan Pedagang Kaki Lima. Dan Pemerintah Indonesia, diam saja.

 

 

You might also like