Telan Enam Korban Jiwa, Pemilik Tambang Sarang Ikan Baru akan Diperiksa

Demikian disampaikan Dirkrimsus Polda Kep. Babel melalui Kasubdit Tipiter Polda Kep. Babel, Kompol Wahyudi kepada Forumkeadilanl.com melalui sambungan telepon.

Menurut Wahyudi, pihak nya saat ini sedang melakukan proses pemeriksaan kepada para saksi yang mengetahui dan melihat langsung kejadian laka tambang tersebut.

“Saat ini sedang proses pemeriksaan kepada saksi. Juga pemanggilan kepada beberapa orang yang mengetahui dan melihat langsung kejadian di TKP,” kata Wahyudi, Rabu (2/9/20).

Wahyudi mengungkapkan, jika alat-alat tambang yang berupa mesin tambang sudah diamankan di Mako Polda Babel.
“Kemarin kita sudah amankan alat-alat tambang dan mesin-mesin tambangnya,” ujarnya.

Lantas bagaimana dengan pemilik tambang tersebut? Apakah sudah dilakukan pemeriksaan?

Wahyudi katakan jika pihaknya baru akan melakukan pemanggilan untuk pemeriksaan.
“Sudah kita lakukan pemanggilan untuk rencana pemeriksaan,” katanya.

Akankah ada penetapan tersangka dalam kasus laka tambang Sarang Ikan ini? Dikatakan Wahyudi perkara kasus tersebut sudah naik penyidikan dan untuk penetapan tersangkanya menunggu hasil pemeriksaan.

“Kita tunggu hasil pemeriksaan baru kita gelar perkara untuk menentukan siapa saja tersangkanya,” tandasnya.

Diketahui sebelumnya, aktivitas penambangan di kawasan hutan Sarang Ikan Kecamatan Lubuk Besar Kabupaten Bangka Tengah kembali meminta tumbal. Tak tanggung-tanggung 6 penambang hilang tertimbun longsoran ribuan kubik tanah tambang yang longsor pada Sabtu (29/8/20) siang.

Seorang pengusaha tambang berinisial FR disebut-sebut sebagai pihak yang bertanggung jawab atas aktivitas tambang timah yang menelan korban 6 orang sekaligus.

Sementara itu, Isnaini Buton (44) ibu kandung dari salah satu korban laka tambang Sarang Ikan tersebut mengalami kesedihan yang mendalam. Terlebih kematian anaknya dalam laka tambang Sarang Ikan Desa Lubuk besar Kabupaten Bangka Tengah (Bateng) itu diibaratkan seperti boneka yang dapat dibeli dengan uang.

“ Pak, jujur saya ceritakan kepada kalian ya, sebaiknya jangan dipendam, jadi jelas. Kemarin itu, semalam pas habis tahlilan datang mereka itu (FR). Jadi mereka minta aku ibaratnya diminta KTP bapak (suami, red) untuk membuat surat agar tuntas dari masalah ini maksudnya gitu. Aku bukannya apa, tapi mereka bilang ini untuk KTP bapak bae (saja, red). Kataku uang Rp 10 juta ini aku tanyakan langsung, ini apa artinya? terus dia (FR) ngomong ini hanya untuk dihari-hari pertama, masih ditambah katanya Rp.20 juta, itu ada keterangannya,” ungkap Isnaini yang disaksikan Ketua RT 06 Desa Beriga, Bahuri, kepada wartawan, Selasa (1/9/2020).

Dikatakan Isnaini, jika dia sempat menceritakan hasil pertemuan dengan pihak tambang kepada pamannya yang bertugas di Kebun Jeruk dan Kuningan. Namun pamannya tidak terima.
“Kata dia (paman..red) kalau masih banyak macam dia akan turun tangan kesini pak, kata dia saya cuti 13 hari. Jadi begini maksudnya ini harus di asuransi, tak terima pihak keluarga,” ujar Isnaini didampinggi suaminya, Hardiman.

“Duit Rp10 juta bisa apa, ini terbaring jenazah, itupun secara diam-diam maksudnya aku didorong kekamar kekamar aja. Kalau yang sahkan di tempat pembaringan jenazah ini (tempat terbuka..red) soalnya untuk dia, ini pamanku tidak terima samasekali,” terangnya.

Begitu juga pihak keluarga yang bertugas di Surabaya juga tidak dapat menerima dengan perwakilan tambang tempat korban bekerja.
“Paman yang di pangkalan Angkatan Laut di Surabaya tidak terima sama sekali, itu paman dari mamak itu, cuma aku yang buta huruf pak cuma keluarga tidak menerima,” tandasnya.

Dia menjelaskan, pihak keluarga tidak bisa menerima dengan alasan satu nyawa yang melayang dalam kecelakaan tambang seolah-olah bisa ditukar dengan uang.

“Yang tidak menerima dan yang paling pahit ini terus terang keluarga dari mama saya. Paman saya itu ibaranya pangkat ayah saya karena masih keluarga mama, adik mama sendiri yang tidak menerima. Jadi kalau mereka itu datang darisana nanti sekejab, tapi masih ku cegah. Kalau tidak terima dengan kejadian ini kitakan bisa tempuh kejalur hukum. Satu jiwa itu bagaimana jangan dianggap seperti boneka,” tandasnya.

Dalam kesempatan ini pula, Isnaini mengungkapkan jika pihak perwakilan tambang telah memberikan uang santunan Rp10 juta pada saat jenazah korban akan dikebumikan. Namun beberapa hari kemudian perwakilan dari pemilik tambang kembali mendatangi rumah duka dengan membawa surat perdamaian yang isinya memberikan santunan sebesar Rp25 juta dan belum ditandatangani oleh orang tua korban.

“Ini jelas ditolak paman dan tidak terima. Karena harus peraturan hukum sesuai dengan peraturan perusahaan. Kalau soal aku damai-damai saja pak dengan perjanjian ini tadi, tapi yang masalah ini keluarga tidak mau menerima. Manalagi mereka berpangkat pak bukan seperti saya. Pemberian uang itu basa-basi saja karena pasa saat itu saya panggil bapak dia larang, itu disaksikan oleh tetangga,” jelasnya.

Hingga berita ini diturunkan, wartawan FKB masih dalam upaya konfirmasi ke pihak FR yang disebut sebut pemilik tambang tersebut. (Rom)

You might also like