Tak Terima Keluarga Divonis Mati Karena Covid 19, Warga Jember Gerudug Rumah Sakit

Puluhan orang warga Jalan Gajah Mada Gang 19, Kelurahan Kaliwates, Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember, Jawa Timur, menggeruduk Rumah Sakit Bina Sehat, Jumat (7/8/2020) siang.

Mereka mendesak manajemen RS Bina Sehat untuk menjelaskan kebenaran status Covid-19 pasien meninggal dunia bernama Rosidi (61). Warga menilai ada kejanggalan dalam penentuan status pasien tersebut.

Semula warga akan membongkar makam Rosidi, karena ingin jenazahnya diotopsi. Namun keluarga Rosidi berhasil dibujuk oleh Kepala Kepolisian Sektor Kaliwates Ajun Komisaris Edi Sudarto untuk mengurung niat mereka.

Akhirnya keluarga mendesak agar manajemen Bina Sehat datang ke rumah mereka. “Kenapa kalau bapak saya positif Covid, kok lingkungan rumah saya tidak di-lockdown? Ayah saya selama dua tahun ini sakit jantung. Kenapa tiba-tiba divonis Covid,” kata Ahmad Said Hidayat, anak Rosidi.

Setelah ditunggu 15 menit, manajemen rumah sakit tak ada yang datang. Warga bersama keluarga pun berjalan kaki sekitar dua kilometer untuk mendatangi Bina Sehat.

Tiba di Bina Sehat, warga berteriak meminta agar kepala rumah sakit keluar menemui. “Inilah Bina Sehat yang tidak bisa memberikan data bukti otentik. Kami ke sini minta keadilan dan minta penjelasan sejelas-jelasnya,” teriak Jumadi, salah satu kerabat keluarga.

Hingga berita ini ditulis, belum ada perwakilan Bina Sehat yang menemui warga. Sementara poliai sudah berjaga-jaga di depan pintu masuk ruang lobi rumah saki.

Petugas pemakaman jenazah dengan protokol Covid-19 diganggu warga, di Desa Gugut, Kecamatan Rambipuji, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Kamis (6/8/2020) malam. Keluarga almarhum tidak terima dengan pemakaman menggunakan protokol tersebut.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jember Heru Widagdo membenarkan, petugas tim reaksi cepat tersebut mendapat gangguan selama dan hingga proses pemakaman selesai. Mereka dilempari oknum warga yang tidak suka. “Pada dasarnya lancar. Tapi kemudian datang entah istrinya atau siapa,” katanya, Jumat (7/8/2020).

Beruntung, petugas pemakaman mendapat perlindungan dari aparat kepolisian. “Kami hanya petugas (pemakaman). Bisa dan tidaknya bukan kami yang menentukan. Ketika ada permintaan dari rumah sakit, kami akan lakukan itu. Boleh dan tidaknya bukan kewenangan petugas pemakaman. Kalau tidak mau pakai standar Covid, silakan berkomunikasi dengan aparat setempat,” kata Heru.

Petugas pemakaman, lanjut Heru, juga tidak berhak memastikan apakah jenazah tersebut memang positif Covid-19 atau tidak. “Itu urusan medis. Kami petugas lapangan untuk melakukan pemakaman,” katanya.

Petugas pemakaman BPBD memang harus bersabar menghadapi reaksi warga, kendati juga dalam kondisi lelah. “Saya bersyukur teman-teman bisa bersabar dan menahan diri. Kita semua tak menghendaki ada Covid,” kata Heru.

You might also like