Kajatisu DR Amir Yanto SH MM MH: “Jaksa Melayani Bahagian dari Tri Krama Adhyaksa”

Jejeran buku tersusun rapi di lemari ruang kerja. Warnanya tak lagi utuh. Lembaran yang dulunya putih, kini memudar kusam dimakan usia. Semua buku itu berisikan pelbagai macam topik keilmuan mengenai tata manajemen dan ilmu hukum.

“Saya senang membaca. Banyak informasi saya dapatkan dari membaca,” ucap Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kajatisu), Dr Amir Yanto SH MM MH, saat menyambut FORUM Keadilan di kantornya, Jumat pekan lalu.

Amir Yanto sendiri dikabarkan mendapat promosi jabatan menjadi Jaksa Agung Muda Pengawasan (Jamwas) di Kejaksaan Agung RI. Dijadwalkan, Jaksa Agung ST Burhanuddin akan melantik bersama pejabat lainnya, Rabu (5/8/2020). Amir menjabat Jamwas menggantikan M Yusni yang memasuki masa pensiun.

Sekilas, penampilan Amir Yanto memang terbilang sederhana. Gayanya pun bersahaja.  Pakaiannya juga biasa saja, baju putih lengan panjang dipadu celana hitam. Tapi siapa sangka kalau ternyata pakaian yang dikenakannya itu punya makna dalam hidupnya. “Hidup ini hitam putih. Yang putih (bersih) selalu di atas, dan hitam (kotor) ada dibawah. Hitam itu tetap hitam, putih tetap putih,” katanya berfilosofi.

Amir mengaku tak pernah berhenti meminta jajaran korps Adhyaksa di Sumatera Utara untuk merobah pola pikir dan budaya kerja. Ia ingin para jaksa dan pegawai dapat memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat dalam proses penegakan hukum. “Insan Adhyaksa dituntut professional, cerdas, tanggap dan tanggung jawab,” sebutnya.

Sebagai Kejatisu, Amir tidak menginginkan wabah corona menjadi alasan penurunan kinerja. Menurutnya, corona bukanlah penghalang dalam menjalankan tugas dan fungsi kerja, sepanjang mengikuti aturan protokol kesehatan. “Diperlukan kerja keras dan tanggung jawab semua elemen dalam mencegah penyebaran virus corona ini,” tegasnya.

Sejauh ini, jajaran Kejatisu tiada henti melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait wabah pandemi covid-19. Beberapa langkah pencegahan juga dilakukan. Seluruh pegawai diharuskan menerapkan protokol kesehatan, pakai masker, jaga jarak dan cuci tangan. “Kejatisu juga menyediakan beberapa alat alat yang dipergunakan. Misalnya, alat alat cuci tangan di depan, di belakang juga ada. Kemudian juga masker dan alat rapid tes, pengukur suhu dan sebagainya. Seluruh pegawai, termasuk tamu seluruhnya harus diukur suhunya. Dan kita juga melakukan bhakti sosial membantu masyarakat terdampak, khususnya yang berada di sekitar kantor Kejatisu,” ujarnya.

Jajaran Kejatisu diakui aktif bersama instansi lain di bawah naungan gugus tugas melakukan penyuluhan kesehatan. “Penkum kita sangat aktif bekerjasama dengan gugus tugas melakukan sosialisasi-sosialisasi,” jelas Amir Yanto yang juga Wakil Ketua Gugus Tugas Sumatera Utara.

Bukan hanya aktif sosialisasi, menurut Amir, Kejatisu juga melakukan pendampingan penggunaan dana terkait covid-19. “Sesuai arahan Bapak Jaksa Agung, kita melakukan pendampingan dan pengawasan. Pendampingan hukum, kita menyiapkan beberapa jaksa maupun intelijen, masuk dalam struktur gugus tugas covid-19,” tuturnya.

Kejatisu kini bersiap menghadapi keadaan normal baru. Rutinitas kegiatan dilakukan sudah mulai seperti biasa. Misalkan, pagi apel lalu senam. “Seluruh bidang saya minta juga sudah masuk seperti biasa. Misalkan apel pagi hari Senin sudah kita lakukan, kemudian senam sudah kita lakukan. Saya minta protokol kesehatan sudah menjadi suatu kebutuhan seluruh jaksa dan pegawai,” katanya.

Amir meminta seluruh pimpinan bidang di Kejatisu dapat menjadi role model dalam menjaga dan mencegah wabah covid-19. “Para pimpinan harus mengingatkan pegawai yang tidak memakai alat standar kesehatan. Ya pakai masker, kemudian cuci tangan. Setiap pintu masuk kawasan pakai masker,” ucapnya.

Sampai kemarin pegawai Kejatisu, bahkan se-Sumatera Utara, belum ada yang terkena corona. “Alhamdulilah. sampai sekarang untuk pegawai di Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara, bahkan se sumatera utara, belum ada yang kena. Ini artinya suatu indikasi, kawan kawan di Adhiyaksa ini mematuhi protokol kesehatan,” tukasnya.

Terkait sidang daring, Amir Yanto mengakui ada kendala. “Kendalanya ada. Tapi kawan kawan juga menyadari. Mungkin yang disidangkan banyak, peralatan virtualnya terbatas, ini juga suatu kendala. Ya, tapi kita melaksanakannya secara optimal. Tentu saja dimana pun kendala itu pasti ada,” paparnya.

Para jaksa penuntut umum diberi kewenangan untuk melakukan inisiatif-inisiatif saat persidangan yang disesuaikan dengan kondisi setempat. “Atau memungkinkan kalau memang disitu tidak bisa. Masing masing kejaksaan punya cara tersendiri bagaimana biar lancer,” papar Amir Yanto.

Ia berharap Kejatisu dan jajaran se-Sumatera Utara terus bergerak dan berkarya. “Tentu saja, terutama dan yang utama, kami mengharapkan kinerja Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara dan kejaksaan se-Sumatera Utara, berkinerja tinggi. Indikisinya ya dari rencana kerja, seberapa? Kalau hasilnya seratus persen dan lebih, inikan kinerja tinggi,” jelasnya.

Tugas ke depan, sambung Amir, semua jajaran Kejatisu dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat bahwa tidak lagi terjadi KKN. “Kita senantisa selalu meningkatkan SDM untuk merubah pola pikir ataupun kinerja kerja. Kita harapkan saat ini Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara mengikuti program pembangunan wilayah bebas korupsi (WBK),” imbaunya.

 

Untuk menjadikan Kejatisu WBK, diperlukan perbaikan di segala lini. Administrasi kembali ditata rapi. Sarana dan prasarana bertahap dilengkapi. Aparaturnya dilatih sistem digitalisasi teknologi informasi. Pelayanan prima menjadi prioritas dalam setiap bidang kegiatan.

“Kita mencoba untuk memperbaiki. Oleh karena itu, selalu saya ingatkan seluruh pegawai agar menghayati dan sedapat mungkin mengamalkan doktrin Tri Krama Adhyaksa,” harapnya.

Amir dalam kesempatan itu memaparkan makna Tri Krama Adhyaksa. Pertama, kesetiaan dan jujur pada Tuhan, diri sendiri dan masyarakat. Yang kedua, dalam bertugas  punya taggungjawab kepada Tuhan, kepada warga sesama manusia. Dan yang ketiga, seluruh insan Adhyaksa berusaha untuk memiliki kesadaran wicaksana. “Bijaksana dalam tutur kata, dan tingkahlaku dalam penerapan kekuasaan dan kewenangan,” tegasnya.

Setiap jaksa dan pegawai diharapkan dapat menjadi pengayom masyarakat. “Nah inilah yang masih berat, dimana masyarakat datang dilayani dengan senyum, dengan baik, jangan marah marah, jangan menonjolkan kekuasaan, pasti masyarakat akan senang. Kadang kadang yang kita lupakan, kita ini punya kekuasaan, punya seragam, datang mungkin sudah pasang muka sangar dan inilah, seperti itu,” tuturnya mengingatkan.

Ia berharap masyarakat familiar dengan jaksa. “Bila Tri Krama Adhyaksa dilaksanakan seluruhnya, meski tidak 100 persen, diyakini masyarakat akan familiar dengan kejaksaan. Masyarakat tidak akan takut dengan kejaksaan. Karena kita layani dengan baik,” ujar Amir yang juga mantan Kajari Bandung, Jabar ini.

Sejauh ini sudah banyak terobosan yang dilakukan Amir Yanto selama menjabat Kajatisu. Selain meluncurkan program Jaksa Menyapa yang bekerja sama dengan RRI, juga dilakukan kegiatan Jaksa Melayani.

“Jaksa melayani, ya memang seperti itu. Kita inikan pelayan masyarakat. Tidak usah menjadi program, karena itu memang kewajiban. Selalu saya sampaikan, sebenarnya kalau sejak dulu doktrin Tri Krama Adhyaksa ini dilaksanakan oleh seluruh pegawai kejaksaan atau para jaksa, kejaksaan ini pasti dipercaya  masyarakat. Bagaimana tidak, semua orang datang dilayani dengan baik, dibantu apa kesulitannya, diterima dengan baik. Kan senang, tidak ada transaksi,” papar Amir yang juga mantan Kabag Bangpeg pada Jambin di Kejaksaan Agung.

Amir berharap semua insan Adhyaksa memahami hakikat kejaksaan sebagai abdi negara. “Nah, inikan yang sering kita dengarkan masih ada transaksi dan sebagainya. Nah inilah yang harus kita rubah,” katanya.

Kejatisu kini memadukan konsep pelayanan dalam setiap kegiatan. Program Jaksa Menyapa dikolaborasi dengan Jaksa Melayani yang memanfaatkan digitalisasi yang bertujuan untuk memonitor sekaligus mengarahkan berbagai sumber daya agar bekerja efektif dan efisien. Selain itu memaksimalkan pelayanan publik guna mendukung peran kejaksaan sebagai eksekutor dan pengacara negara.

Berbagai program itu terintegrasi di berbagai bidang hingga memberikan dampak praktis dan efisiensi, guna menunjang program pelayanan terpadu satu pintu. “Kejatisu kini berupaya menuju wilayah bebas korupsi (WBK) dan wilayah birokrasi bersih melayani (WBBM),” tukas Amir yang juga mantan Asisten Pembinaan (Asbin) pada Kejati DKI Jakarta.

Untuk menuju WBK, Kejatisu melakukan pembenahan guna meningkatkan pelayanan prima. Berbagai sarana akan dipugar untuk memberi kenyamanan kepada masyarakat atau pun tamu yang datang.

“Sekarang sudah terasa, kalau kita masuk sudah tertata. Nanti kita sistem, satu atap, terima surat dan menunggu. Nanti menunggu nyaman, ya mudah mudahan disediakan teh, kopi, misalkan colokan hape untuk cas, dan wifi, sehingga ada kenyamanan. Saya minta sedapat mungkin tamu segera dilayani. Jangan sampai tamu itu menunggu lama,” tukasnya seraya mengigatkan pelayanan ditingkatkan di segala bidang.

Upaya Kejatisu menuju WBK ternyata mampu mendorong capaian kinerja di sejumlah bidang. Baik bidang pembinaan, intelijen, datum, penerangan hukum dan pengawasan, hasilnya cukup signifikan. Begitu pula penanganan perkara di Pidum dan Pidsus, juga sangat signifikan. “Semua bidang harus lebih bekerja keras lagi, memegang teguh Tri Krama Adhyaksa, jujur, tanggung jawab, dan disiplin,” tuturnya.

Mantan Kapuspenkum Kejaksaan Agung ini juga sangat memegang teguh tiga prinsif hidup yang diajarkan orang tuanya. Kejujuran, belajar dan kerja keras. “Tiga hal itulah yang selalu diajarkan orang tua kepada saya,” sebutnya.

Dengan kejujuran, tutur Amir, hidup menjadi lebih baik. Kejujuran merupakan kunci sukses untuk meraih kepercayaan. “Orang yang bersikap jujur, bakal dipercaya sehingga bisa mendapat sukses,” jelasnya.

Prinsip kedua, katanya, harus terus belajar. Pada dasarnya, dari kecil sampai dewasa, orang selalu dalam proses belajar. Semakin banyak belajar, orang menjadi mengerti dan paham. “Sampai sekarang saya masih belajar. Bagi saya, belajar itu mulai dari lahir sampai mati,” papar mantan mahasiswa Fakultas Hukum Program Doktoral Universitas Padjajaran Bandung tersebut.

Sedangkan prinsif hidupnya yang ketiga adalah kerja keras. Dengan kerja keras, sesuatu bisa dikerjakan. “Tanpa kerja keras, mustahil bisa meraih yang dicita-citakan,” tandasnya.

(Zainul Arifin Siregar/Dedi Suhardi/Selamat Hasibuan – Tulisan ini sudah diterbitkan di Majalah FORUM Keadilan edisi 05/2020)

You might also like