Sejumlah Warga Sekitar Kompi Senapan B Protes, Satuan Zeni TNI AD Bangun Pagar Di Kawasan Pemukiman

SUNGAILIAT, Forumkeadilan.com — Warga yang berada di sekitar lingkungan Sudi Mampir Kelurahan Parit Padang Kecamatan Sungailiat Kabupaten Bangka memprotes tindakan TNI AD yang memagar lahan di kawasan mereka di areal Kompi Senapan B Yonip 141/AYJP, Rabu (29/7/2020).
“ Sampai saat ini TNI AD tidak memiliki alasan untuk melakukan klaim kepemilikan maupun pemagaran lahan,” ucap salah satu warga ditemui di lokasi.

Puluhan penduduk Desa Sudi Mampir terlihat ramai-ramai mendatangi lokasi pembangunan pagar yang sudah berlangsung selama 2 pekan. Warga meminta agar aktivitas pembangunan tersebut dapat dihentikan sebelum ada penyelesaian.

Bahkan pembagunan pagar tembok panel tersebut rencananya akan dibangun sepanjang 300 meter dengan tinggi 2 meter.

Kepala Lingkungan (Kaling) warga Sudi Mampir, Riva Iskandar meminta diselesaikan tapal batas tanah yang sudah berlarut-larut sehingga mencapai puluhan tahun.

“Untuk masalah argumen adu data masing-masing kedua belah pihak sama-sama kuat. Keinginan warga adalah meminta ada penyelesaian biar mereka tidak merasa terusik karena mereka terbebani pak dengan apa yang diberitakan oleh warga sekitar sengketa sebetulnya bukan sengketa karena sengketa itu jatuhnya ada di pengadilan,” kata Reva dibincangi di lokasi, Rabu (27/7/2020).

Riva Iskandar, Kaling Sudi Mampir

Agar masalah ini tidak berlarut-larut, Riva Iskandar yang mewakili warga minta dimediasikan dulu.
“Harapannya sih kami ya itu tadi diselesaikan secara musyawarah dan mufakat sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan karena biar bagaimanapun masing-masing warga Indonesia semua. Sebetulnya kemarin mediasinya sudah dipaparkan oleh pihak Kompi disaksikan oleh Zibang, Kelurahan, Kecamatan dan BPN,” ungkapnya.

Ditanya jika tidak ada titik temu diantara dua belah pihak, Riva Iskandar hanya bisa menyarankan agar kedua belah pihak yang mencari solusi terbaik.
“Sebagai kepala lingkungan saya tetap akan menggiring warga ini. Menggiring warga ini maksudnya mengawal warga sampai selesai persoalan ini,” janjinya.

Sekedar diketahui, sebanyak 15 warga yang tanahnya merasa dicaplok sudah mendeklarasikan akan membawa permasalahan ini ke Bupati Bangka bahkan ke pengadilan. Adapun warga Sudi Mampir mengklaim luas tanah mereka sekitar 1 hektare lebih. Sedangkan lahan Kompi Senapan B itu dikatakan lahan hak pakai.

“Pagi ini kami sudah mengirimkan surat ke Pak Lurah Parit Padang, Camat Sungailiat dan juga ke Bupati Mulkan. Surat sudah disampaikan dan memang belum ada jawaban,” kata salah seorang warga yang mengaku memiliki surat tanah dari Camat sejak tahun 1988.

“Kami ini warga sipil, tidak nyaman kalau tanah kami dipagar. Rata-rata warga disini semuanya memiliki bukti kepemilikan surat dari camat. Saya sendiri sudah lebih 40 tahun tinggal, bahkan ada yang lebih lama lagi. Surat kami itu sudah ada peta bidang berikut patoknya,” timpal salah seorang warga.

Romdan, Lurah Parit Padang yang juga datang ke lokasi mengatakan ia dan pihak kelurahan datang ke lokasi meninjau lokasi yang akan dibangunnya pagar di lingkungan Sudi mampir tepatnya di Kompi Snapan B.

“Kebetulan kami juga masih menunggu konfirmasi dari Gitbang nya TNI AD, dan juga kebetulan Pak Kompi-Kompi lagi sedang ada pelatihan pak, jadi kami belum bisa mengonfirmasi. Dan harapan kami sifatnya kita sama-sama masih menunggu dulu Pak, bagaimana nantinya kedepan akan seperti apa dan kami juga sudah konsultasi dengan Pak Camat nantinya akan ada mediasi lagi pak untuk pembangunan pagar ini akan seperti apa.

Hanya saja kita tunggu dulu nanti setibanya Komandan Kompi Senapan B pulang usai pelatihan di luar daerah atau ada jawaban dari Komandan Kodim,” ujarnya.

Antoni selaku pengawas pekerjaan pembangunan pagar mengatakan pihaknya berkerja berdasarkan sprint dari pimpinan.

“Itu saja, sprint kami kan ada, disini kami hanya menjalankan perintah saja. Makanya kita melaksanakan dari perintah atasan kami dan perintah kami ini adalah dari Palembang. Kita kan hanya sebagai pelaksana saja untuk mengawasi pembangunan pagar disini sampai selesai dan program ini merupakan program pusat untuk dilaksanakan hingga selesai,” jelasnya.

Dihubungi terpisah, Dankipan B, Kapten Inf Danu Winargo mengatakan jangan tanya dengan saya karena saya hanya pengguna saja di Kompi.
“Kalau mau tanya silahkan tanya ke Denzibang yang di Pangkalpinang, kalau masalah aset bukan masalah dari kompi, aset kami hanya tanah tersebut dari Denzibang itu mengenai masalah pengelolaan sama aset yang ada di dalam.”

“Kalau masalah itu memang jujur saja belum ada tebusan kepada saya sampai sekarang karena saya posisinya di markas Batalyon di Muara Enim lagi seleksi Satgas Lebanon dan dari pertama pembuatan itu belum ada tebusan kepada saya,” jelas Kapten Danu melalui sambungan telepon.

Namun, Kapten Danu menambahkan sebenarnya masyarakat yang tinggal di sekitar Kompi Senapan B adalah izin berkebun.

“Jadi mereka itu dulu, masyarakat sana ijinnya untuk tinggal disana adalah ijin berkebun, ada semua datanya. Ini fakta yang sebenarnya terjadi. Lahan akte kepemilikan kita ada di Pas Jasa Zidam. Memang kesalahan kita dulu orang numpang kita biar-biarkan saja karena kasihan. Untuk mengusir-ngusir tidak mungkin karena kita kasihan. Justru itu mereka (warga) tidak bisa membuat sertifikat karena memang tanah kita TNI AD. Untuk itu ada anggaran dana tahun sekarang dibangunlah pagar untuk mengamankan aset kita,” jelasnya.
Diketahui saat ini selain membangun pagar, pihak Zibang juga sedang membersihkan lahan dengan menggunakan PC (eksavator) mini. (Rom)

You might also like