Polisi Mangkir, Sidang Gugatan Jilid II Ruslan Buton Ditunda

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menunda sidang gugatan praperadilan yang diajukan Ruslan Buton, istri dan anaknya. Penundaan karena pihak kepolisian tidak hadir dalam persidangan.

Sidang sejatinya digelar pukul 10.00 WIB, Senin (6/7/2020). Di pengadilan hadir istri Ruslan yakni Erna Yudhiana. Erna datang mengenakan kursi roda dengan wajah sedih.

Dalam persidangan, Hendri Siahaan selaku pengacara keluarga Ruslan sempat meminta hakim untuk menentukan batas waktu ketidakhadiran dan dimulainya sidang. Jika termohon tak kunjung hadir hingga batas waktu yang ditentukan, Hendri meminta majelis hakim tetap melanjutkan sidang.

“Kan nggak mungkin kita menunggu sampai pukul 17.00 WIB, pastikan waktunya. Misalnya, pukul 09.00 WIB, oke batas pukul 12.00 WIB. Pukul 12.00 WIB nggak datang, sidang dilanjutkan. Itu yang kami mohonkan,” ujar Hendri.

Menanggapi hal tersebut, hakim mengatakan pihaknya telah menetapkan jadwal dimulainya sidang. Selanjutnya, sidang dijadwalkan akan kembali dilakukan pada minggu depan. “Sidang ditunda minggu depan, tanggal 13 Juli 2020, kepada pihak termohon hadir tanpa dipanggil lagi dan panggilan ini dianggap sebagai panggilan resmi,” ujar hakim.

Diketahui sebelumnya permohonan praperadilan Ruslan ditolak. Kini Ruslan bersama istri dan anaknya mengajukan gugatan praperadilan secara terpisah. Gugatan itu terdaftar di PN Jaksel dengan nomor perkara 73,74, dan 75/pid.pra/2020/PN.JKT.Sel.

“Bahwa, sebagai Istri dari seorang Tersangka berdasarkan S.Tap/73/V/2020/Dittipidsiber tanggal 26 Mei 2020 yang telah dilakukan penangkapan dan penahanan maka mengajukan hak pemohon yang telah diabaikan oleh termohon dan dengan mengajukan hak tersebut dengan harapan di kabulkan oleh Pengadilan Praperadilan melalui Yang Mulia Hakim Tunggal,” kata pengacara istri Ruslan, Tonin Tachta, dalam berkas permohonan, Senin (29/6/2020).

Adapun Ruslan mengajukan gugatan praperadilan kepada Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri dan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum Kejaksaan Agung RI.

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

Ruslan mempersoalkan terkait tidak sahnya penetapan tersangka. Sementara itu istri Ruslan, Erna Yudhiana menggungat Kepala Kepolisian RI c/q Kepala Bareskrim c/q Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim dan mempersoalkan terkait tidak sahnya penangkapan dan penahanan suaminya.

Selain itu, anak Ruslan, Sultan Nur Alam Dan Regga juga menggugat Kepala Badan Reserse Kriminal Kepolisian Negara Republik Indonesia c/q Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Mabes Polri. Ia mempersoalkan terkait tidak sah penetapan tersangka, penangkapan, penyitaan dan penahanan terhadap orang tuanya.

Sebelumnya, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan telah menolak permohonan praperadilan Ruslan Buton pada sidang Senin (22/6/2020) dengan alasan termohon Direktur Siber Mabes Polri memenuhi unsur yang sah dalam menetapkan status tersangka.

Ruslan Buton ditangkap oleh tim Bareskrim Polri bersama Polda Metro Sultra dan Polres Buton di jalan Poros, Pasar Wajo Wasuba, Dusun Lacupea Desa Wabula 1, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, Kamis (28/5/2020).

Polisi menyita barang bukti yakni satu ponsel pintar dan sebuah KTP milik Ruslan.

Bareskrim Polri menetapkan Ruslan Buton sebagai tersangka dalam kasus penyebaran informasi hoaks dan ujaran kebencian terkait surat terbuka yang meminta Joko Widodo untuk mundur dari jabatannya sebagai Presiden RI.

Ruslan dijerat dengan Pasal 14 ayat (1) dan (2) dan atau Pasal 15 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana yang dilapis dengan Pasal 28 ayat (2) UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan transaksi Elektronik (ITE) dengan ancaman pidana enam tahun dan atau Pasar 207 KUHP, dapat dipidana dengan ancaman penjara dua tahun.

You might also like