Dugaan Penzoliman Terhadap Husen Syukri Mulai Terkuak

Jadi DPO Berdasarkan "Perintah", Jadi Tersangka Karena “Katanya”

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

Husen Syukri nelangsa. Pria berusia 40 tahun ini tak menyangka dijerat pidana dalam kasus narkoba yang sama sekali tak dilakukannya. “Saya difitnah. Saya dizolimi,” lirihnya di sela persidangan yang digelar di ruang Cakra-2 PN Medan, Rabu (15/7/2020).

Dugaan penzoliman terhadap Husen mulai terkuak setelah Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Medan, Chandra Naibaho, menghadirkan 5 saksi kepolisian, baik itu dari Polsek Medan Timur dan Polsek Tanjung Morawa.

Dua saksi dari Polsek Medan Timur, Agus Pranoto dan Dedi Simangunsong dalam keterangannya menyebut bahwa keterlibatan Husen Syukri hanya berdasarkan keterangan dari M Amin yang tertangkap memiliki 25 butir ekstasi pada 4 Maret 2020 di depan Hermes Jalan Mongonsidi Medan. “Kami tahu 25 pil ekstasi itu milik Husen Syukri dari keterangan M Amin,” sebut Agus Pranoto diamini Dedi Simangunsong di hadapan majelis hakim yang diketuai Sapril Batubara.

Baik Agus Pranoto maupun Dedi Simangunsong mengaku tidak pernah melihat langsung penyerahan puluhan butir ekstasi tersebut. Mereka hanya berdasarkan keterangan M Amin yang ditangkap 4 Maret 2020.

Husen melalui kuasa hukumnya, Arizal SH MH menilai ada kejanggalan. “Begitu ada keterangan Amin kalau ekstasi itu milik Husen, kenapa pihak kepolisian tidak melakukan penggeledahan dan penangkapan terhadap Husen pada hari itu juga. Akan tetapi penangkapan dilakukan pada tanggal 24 Maret 2020?” tanya Arizal SH MH kuasa hukum Husen Syukri.

Menjawab itu, Agus dan Dedi mengaku menunggu perintah pimpinan. “Kami menunggu perintah pimpinan,” kilahnya.

 

Selanjutnya, berdasarkan keterangan M Amin pula penyidik menetapkan Husen masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). Ironisnya, penetapan DPO ini tidak diawali pemanggilan kepada Husen ataupun pemberitahuan kepada keluarganya.

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

“Apakah sudah disurati ke rumah terdakwa sebelum diterbitkan DPO?” tanya Arizal yang menengarai ada kejanggalan dalam penetapan DPO itu.

Saksi Agus dan Dedi mengaku tidak tahu. “Tidak tahu,” tutur saksi menjawab pertanyaan kuasa hukum.

Ketika ditanya apakah ada atau tidak saksi mempertemukan terdakwa Husen dengan Amin, saksi menjawab ada namun bukan mereka melainkan juper. “Ada, bukan saya. Tapi juper,” kata saksi Agus Pranoto.

Setelah mendengar keterangan saksi Agus Pranoto, terdakwa Husen mengatakan bahwa keterangan saksi tidak benar. “Saya gak ada dipertemukan dengan M Amin di Polsek, Pak Hakim,” tutur terdakwa Husen yang dikenal juga sebagai tokoh pemuda di Tanjung Morawa, Deli Serdang.

Sementara itu, tiga saksi dari Polsek Tanjung Morawa, Viktor Sitohang, Bahagia dan Samuel yang dimintai keterangan secara terpisah menyebutkan bahwa pihaknya diperintahkan Kapolsek Tanjung Morawa untuk menangkap Husen, DPO dari Satres Narkoba Polrestabes Medan.

Kebetulan saat itu, Husen mau mengurus petugas parkir bernama Reza yang tertangkap karena melakukan pungli oleh Polsek Tanjung Morawa. “Waktu itu Husen memang datang dan langsung kita amankan dan membawanya ke Polrestabes Medan yang kemudian diarahkan ke Polsek Medan Timur,” ujar saksi.

Namun soal surat DPO, ketiganya mengaku tidak tahu. Mereka hanya berdasarkan perintah saja.

Begitu juga menjawab pertanyaan jaksa apakah Husen mempunyai trade record terlibat narkoba, baik saksi Viktor, Bahagia dan Samuel menyatakan pihaknya hanya mendengar informasi saja. “Jadi masih dalam proses penyelidikan,” ujar Viktor.

Usai mendengarkan keterangan para saksi, maka majelis hakim menunda persidangan pekan depan.

You might also like