Mantan Pemain Persela Lamongan, PSMS Medan, Wasit Hingga Pengurus PSSI Terlibat Home Industri Sabu

Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Timur mengungkap jaringan pengedar sabu yang melibatkan pemain sepakbola nasional. Empat orang sudah dijadikan tersangka.

“Ada yang mantan wasit Liga 2, mantan pemain Persela Lamongan, bahkan ada Kiper dari PSHW yang masih aktif di sepakbola,” ujar Kabid Pemberantasan BNNP Jatim, Kombes Arief Darmawan, Senin (18/5/2020).

Keempat tersangka antara lain M. Choirun Nasirin (Buduran Kab. Sidoarjo), Eko Susan Indarto (Kabupaten Lamongan), Novin Ardian (Kab. Kendal), Dedi A Manik (Koja Kodya Jakarta Utara).

Keempat tersangka diamankan berurutan, dan ditangkap di tempat yang sama, di salah satu hotel dekat Bandara Internasional Juanda Surabaya.

“Keempatnya ditangkap saat mereka membuka kamar hotel dikawasan Sidoarjo. Sekitar Bandara Internasional Juanda,” imbuhnya.

M Choirun Nasirin merupakan mantan kipper Persegres Gresik dan PSMS Medan, sementara Eko Susan Indarto adalah mantan gelandang jangkar Persela Lamongan. Sementara Dedik A Manik juga diketahui sebagai mantan wasit Liga Indonesia yang kini menjabat sebagai Ascot PSSI Jakarta Utara.

Awalnya petugas menangkap Nasirin dan Eko saat hendak melakukan transaksi dengan Novin Adrian dan Dedik A Manik.

Mereka melakukan kegiatan produksi di sebuah rumah perumahan Graha Taman Pelangi C3, Semarang. Dari tangan keempat tersangka, petugas menyita 5.313 kilogram sabu yang hendak diantarkan menuju Madura.

Kepala BNNP Jatim Brigjend Bambang Priambodo menjelaskan bahwa tersangka Nasirin, terindikasi melakukan penjualan di Daerah Sidoarjo. “Berdasarkan informasi masyarakat yang ditindak lanjuti dengan penyelidikan Tim Intelijen, bahwa akhir-akhir ini sering terjadi transaksi narkotika disekitar Buduran-Sidoarjo. Tim intelijen melakukan pendalaman perihal informasi tersebut dan benar, diperoleh fakta-fakta yang mengindikasikan adanya transaksi narkotika jenis methapethamin yang dilakukan oleh Nasirin dengan area distribusi meliputi daerah sidoarjo dan sekitarnya,” ungkapnya.

Pada Minggu sekitar pukul 12.20 WIB, Nasirin terlihat menuju hotel S di Sedati Juanda, menemui seseorang yang datang menggunakan Inova warna gold nopol H 9314 AW. Tak lama berselang datang seseorang bergabung dalam kamar. Modus tersebut diyakini tim dakjar BNNP Jatim sedang terjadi sebuah transaksi berdasarkan riwayat transaksi sebelumnya.

Selanjutnya tim Dakjar BNNP Jatim melakukan RPE dan mengamankan tersangka serta barang bukti, melakukan introgasi dan penggeledahan di kamar hotel dan kendaraan yang di gunakan para tersangka.

Dari hasil penggeledahan diperoleh barang bukti jenis methapetamine dibuktikan dengan alat trunac sebanyak lebih kurang 5000gram. Dari hasil interogasi dan jejak digital para tersangka diperoleh fakta adanya clandestine laboratory di wilayah Mijen-Semarang.

Selanjutnya para tersanhka dibawa menuju Mijen-Semarang dan di lokasi salah satu perumahan, tim Dakjar BNNP Jatim berhasil mengungkap praktik clandestine laboratory dengan sisa prekusor narkotika jenis HCL dan asetone serta perlatan produkasi lainnya. Setelah dilakukan koordinasi dengan aparat setempat serta penyidik BNNP Jateng, maka seluruh barang bukti dilakukan penyitaan untuk kepentingan penyidikan.

Dari keempat tersangka, dikenakan tindak pidana narkotika sebagai mana yang dimaksud dalam pasal 114 Ayat (1) Subs. Pasal 112 ayat (2) Jo. Pasal 129 huruf a dan huruf d Jo Pasal 132 ayat (1) UU RI No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman Hukuman pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun penjara; maksimal 20 Tahun penjara atau seumur hidup.

You might also like