Sanksi Berat Penjual Amunisi

Tiga oknum anggota TNI dipecat karena kasus penjualan amunisi ke KKB. Salah satunya dihukum seumur hidup.

Sudah jatuh tertimpa tangga. Ungkapan tersebut cukup pas dialamatkan kepada tiga mantan prajurit TNI-AD. Mereka yakni Serda Wahyu Insyafiadi, Pratu Okto P. R Maure dan Pratu Elias K. S Waromi. Ketiganya harus mendapat pemecatan dan menyandang status sebagai warga sipil. Pasalnya kesalahan yang dibuat sangat berat, yakni menjual amunisi kepada orang yang diduga sebagai anggota kelompok separtis yang ada di Timika.

Hal ini  terungkap dalam sidang putusan di Pengadilan Militer III /19 Jayapura  atas kasus tersebut, Selasa pekan lalu.  Pada sidang putusan perkara pertama atas nama Serda Wahyu, Majelis Hakim memvonis hukuman 3 tahun penjara dan dipecat dari dinas militer. Selanjutnya dalam sidang kedua, Serda Wahyu dihukum 4 tahun penjara dan dipecat, dan  dalam sidang ketiga dengan berkas berbeda, Serda Wahyu divonis putusan pokok penjara seumur hidup dan pemecatan dari dinas militer.

Serda Wahyu terbukti dan bersalah terlibat dalam penjualan amunisi. “Terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana tanpa hak menyerahkan membawa dan menyimpan amunisi secara bersama-sama, mempidana terpidana yaitu dengan pidana pokok penjara seumur hidup dan pidana tambahan dipecat dari dinas militer,” ungkap Hakim Ketua Letkol Sus Muhammad Idris.

Sementara Pratu Okto P. R Maure dalam sidang putusan dengan berkas pertama dijatuhi hukuman 5 tahun penjara dan dalam sidang putusan berkas berbeda  dijatuhi hukuman 10 tahun penjara dan dipecat dari dinas militer. Untuk Pratu Elias K. S Waromi sendiri divonis 2 tahun 6 bulan penjara dan juga dipecat dari dinas militer.

Ironisnya, dalam sidang tersebut terkuak Pratu Elias menyerahkan 860  butir kepada Pratu Demisla dengan alasan digunakan untuk berburu. Ia diberi uang Rp 500 ribu setelah menyerahkan amunisi tersebut. Pratu Elias sendiri menyimpan amunisi yang ia dapat dari latihan tembak saat mengikuti Ton Tangkas dan tak tahu menahu soal penjualan ke anggota separatis.

Hakim Ketua Pengadilan Militer III-19 Jayapura, Letkol sus Erwin Sulistiono menyebutkan ketiganya mendapatkan hukuman pidana tambahan yakni pemecatan dengan tidak hormat dari dinas militer. “Ketiganya dianggap melanggar sumpah prajurit dan sapta marga. Putusan ini sudah selesai dan terdakwa menyatakan akan mempertimbangkan untuk banding,” ujarnya. Ia mengatakan setiap perbuatan yang berhubungan dengan amunisi sangat rawan dan harus diwaspadai.

Dalam persidangan diketahui Serda Wahyu terbukti mengambil ribuan amunisi dari gudang milik Brigade Infanteri 20 Ima Jaya Keramo (IJK) Timika. Wahyu bertugas sebagai penjaga gudang amunisi di satuan tersebut. Serda Wahyu mengambil amunisi sebanyak tiga kali dari juni 2018 hingga juli 2019.

Tiga oknum TNI penjual amunisi ke KKB Papua dipecat dan dipenjara (antaranews.com)

Tahap pertama 671 butir amunisi, tahap kedua sebanyak 760 butir amunisi dan tahap ketiga sebanyak 1.200 butir amunisi dari gudang. Semua amunisi dengan kaliber 5,56 milimeter. Bukti persidangan juga membeberkan bila amunisi milik TNI yang disalah gunakan oleh ketiga prajurit TNI tersebut dijual kepada pihak KKB (Kelompok Kriminal Bersenjata). Atas vonis tersebut, ketiganya menyatakan pikir-pikir kepada Majelis Hakim. Dengan demikian kepada ke 3 terdakwa diberikan waktu 7 hari.

Kasus itu mulai terungkap ketika aparat keamanan menangkap salah seorang warga di Timika atas nama Jefri Albinus Bees. Dari penangkapan Jefri, aparat keamanan juga mengamankan rekannya yakni Bily Grahaem Devis Palandi dan Befly Arthur Fernandito. Setelah diselidiki lebih lanjut, aparat TNI melakukan pengejaran dan penangkapan terhadap beberapa anggota TNI.  Belakangan diketahui ada dua penyuplai utama ribuan amunisi tersebut kepada Jefri,  yakni Pratu Denisla dan Serda Wahyu.

Serda Wahyu sendiri yang merupakan Bintara penjaga gudang senjata di Satuan Brigif 20 IJK/Kostrad, Timika. Ia secara diam-diam menyembunyikan ribuan amunisi dan menjual kepada  Jefri secara langsung dan juga melalui 2 anggota TNI lainnya atas  nama Pratu P. R Maure dan Pratu Methu S. L Ferreira yang saat ini juga menjalani sidang di Pengadilan Militer Jayapura.

Kepada ketiganya Serka Wahyu menyerahkan total amunisi sebanyak 2.631 amunisi. Ia juga meraup uang hingga sekitar Rp 34 juta dari penjualan amunisi tersebut. Dari tangan Jefri ribuan amunisi tersebut diserahkan kepada seorang warga atas nama Mosses Gwijangge yang hingga kini masih buron.

Sementara Pratu Demisla yang merupakan anggota Kodim Mimika (sebelumnya bertugas di Satuan Brigif 20 IJK/Kostrad, Timika) mendapatkan ribuan amunisi dari Pratu Anderson Pere Tomas, Prada Deki dan Pratu Elias Keliopas S. Waromi sendiri.  Dari tangan ke tiganya, Pratu Demisla berhasil mengambil amunisi sebanyak 1.360 butir.

Amunisi tersebut oleh Pratu Demisla dijual kepada Moses Gwijangge yang berhubungan dengan anggota separatis bersenjata di Papua. Terkuak ada 3.991 amunisi yang dijual dan diduga kuat tersuplai kepada anggota KKB di Papua.

Aparat TNI kemudian menangkap Pratu Denisla di Sorong, Papua Barat pada 4 Agustus 2019 silam. Sebelumnya Pratu Denisla masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) selama 2 minggu. Cerita pengejaran dan penangkapan terhadap Pratu Denisla cukup menarik. Saat itu tim Gabungan melaksanakan pengendapan dan pengintaian terhadap DAT di sebuah rumah Jalan Jenderal A Yani KM 8 Melati Raya Kompleks, Distrik Sorong Manoi, Kota Sorong.

Setelah menerima informasi, pukul 08.02 WIT, Pratu Denisla ditangkap ketika sedang mengikuti acara kedukaan. Dari hasil pemeriksaan sementara di Makodim 1802/Sorong, diperoleh keterangan bahwa ia pada 24 Juli 2019 menggunakan kapal perintis dari Kabupaten Mimika menuju Kabupaten Dobo dan selanjutnya menginap selama 2 hari di Kompleks Kerangpante.

Kemudian, pada 29 Juli 2019, Pratu Denisla menggunakan KM Tidar dari Dobo menuju ke Kota Sorong dan tiba pada 1 Agustus 2019. Selama berada di Sorong, ia menginap di beberapa tempat secara berpindah-pindah. Ia menginap selama 1 malam di Arteri, kemudian pukul 23.00 WIT berpindah ke rumah rekannya Neken, sampai akhirnya Pratu Denisla ditangkap dan diamankan.

3 Anggota TNI Penjara Seumur hidup dan Dipecat Karena Jual Amunisi (reportasepapua.com)

Sedangkan Jefri Albinus Bees dijatuhi hukuman penjara selama enam tahun, sementara dua rekannya, yaitu Bily Grahaem Devis Palandi dan Befly Arthur Fernandito, masing-masing dihukum penjara selama lima tahun. Putusan itu dibacakan oleh hakim tunggal Pengadilan Negeri Timika Fransiskus Yohanes Babptista dalam persidangan yang digelar pada Selasa, 4 Februari 2020 silam.

Vonis hakim sama dengan tuntutan yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Habibie Anwar dalam persidangan sebelumnya. Hakim Fransiskus dalam pertimbangannya menegaskan ketiganya terbukti bersalah telah memiliki dan menguasai sebanyak lebih dari 600 butir amunisi yang diperoleh dari oknum anggota TNI. Ratusan amunisi itu rencananya akan dijual kepada di pedalaman Papua.

Berdasarkan fakta-fakta yang terungkap selama persidangan, dakwaan JPU, keterangan saksi-saksi, keterangan para terdakwa dan barang bukti yang diajukan ke meja persidangan, majelis hakim berkeyakinan bahwa para terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana kepemilikan amunisi sesuai dakwaan yang diajukan oleh JPU, yakni Pasal 1 ayat (1) Undang undang Darurat Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 1951, juncto Pasal 55 ayat (1) KUHP. Adapun barang bukti berupa 12 butir amunisi berwarna kuning bergaris hijau betuliskan PIN 5,56 TJ dan dua buah magazine warna hitam yang dimiliki terdakwa Jefri Albinus Bees dinyatakan dirampas untuk dimusnahkan.

Terkait kasus ini, Wakapendam XVII/Cenderawasih, Letkol Inf Dax Sianturi tidak memberikan toleransi terhadap anggota TNI yang menjual amunisi. “Arahan Pangdam jelas, proses hukum tetap berjalan dan tak ada toleransi,”  tegas Dax.  Untuk mencegah kejadian serupa, Kodam Cenderawasih memperketat pengamanan dan administrasi keluar masuk amunisi.

AFKHAR

You might also like