Kejaksaan Agung Umumkan Dua Tersangka Baru Kasus Korupsi Danareksa

 

Jakarta- Setelah sekitar sepekan belum terungkap, akhirnya Kejaksaan Agung (Kejagung) mengumumkan 2 tersangka baru dalam kasus dugaan korupsi PT Danareksa Sekuritas.

Kedua tersangka tersebut berinisial MHH dan SJD. Keduanya sudah ditetapkan tersangka sejak akhir Januari 2020 bersama dengan 3 tersangka lainnya.

“Tersangka MHH, SJD, RAR dan TR,” ujar Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejagung, Febrie Adriansyah kepada wartawan di Jakarta, Jumat (21/2/2020).

Lebih rinci dia menjelaskan, dalam kasus tersebut ada dua orang tersangka yang ditetapkan dalam 2 kasus berbeda, yakni terkait PT Aditya Tirta Renata dan PT Evio Sekuritas.

Febrie menjelaskan modus korupsi dalam kasus ini adalah pembiayaan repo dengan jaminan saham. Sementara saham itu sementara tidak terdata dalam LQ45. Jadi ketika proses pencairan melawan hukum dengan jaminan yang tidak liquid,” ujarnya.

Kasus dugaan korupsi Danareksa berawal dari gagal bayar dari repo saham di PT Sekawan Intipratama Tbk (SIAP). Tiga tersangka lain yang telah ditetapkan lebih dulu adalah Rennier Abdul Rachman Latief yang sebelumnya menjabat sebagai Komisaris Utama di SIAP. Selanjutnya, Teguh Ramadhani, CEO dari PT EVIO Sekuritas dan Zakie Mubarak Yos sebagai pemegang saham dari SIAP.

Ketika kasus ini terjadi, Direktur Utama Danareksa Sekuritas dijabat oleh Marciano H Herman, sementara Sujadi menjabat sebagai Direktur. Marciano sebelumnya juga menjabat sebagai Direktur Utama PT Bahana Pembangunan Usaha Indonesia, sebelum dicopot oleh Menteri BUMN Erick Thohir pada pertengahan bulan ini.

Aktivitas di PT Danareksa

Untuk diketahui bahwa pihak Kejaksaan Agung sudah mengingatkan akan ada gebrakan dalam hal penindakan kasus korupsi. Khalayak ramai harus bersiap-siap, sebentar lagi Kejaksaan Agung RI juga akan menindak dugaan tindak pidana korupsi yang melibatkan sejumlah perbankan dan keuangan di Tanah Air yang selama ini membuat persepsi investor terganggu.

Tak hanya Jiwasraya, Jaksa Agung ST Burhanuddin, bahkan menegaskan khusus kasus yang terjadi di BUMN asuransi yakni Jiwasraya, potensi kerugian negara yang diestimasi mencapai Rp 17 triliun itu sudah membuat gaduh investor.

“Jiwasraya Rp 17 triliun dan terlibat investor asing dan lokal cukup banyak. Ini buat kerepotan, dan penilaian negara dari investor ini sangat mengganggu,” kata Burhanuddin pada saat menjadi pembicara dalam Rapat Koordinasi Investasi 2020 di Grand Ballroom Ritz Carlton, Kamis (20/2). (abdul farid)

You might also like