Di Persidangan, Saksi Fakta Ungkap Terdakwa Abdullah lah yang Menyuruh Membakar Lahan

BANGKA, FORUMKEADILAN.COM – Abdullah alias Dul Ketam terdakwa kasus kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Desa Air Anyir Kecamatan Merawang Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tahun 2019 tidak membantah ketika saksi fakta mengungkapkan jika yang memerintahkan pembakaran lahan tersebut adalah dirinya.

Hal tersebut terungkap ketika Abdullah als Dul ketam dan Herman (penjaga kebun milik Dul Ketam) yang merupakan terdakwa kasus Karhutla kembali dihadirkan dalam persidangan di Pengadilan Negeri Sungailiat, Senin (24/2) siang.

Sidang dengan agenda pemeriksaan saksi fakta ini,  dimana JPU Kejari Bangka Fengki Indra SH MH menghadirkan saksi fakta sekaligus pelapor di Polres Bangka yakni Ipda Cecep Setiadi (Kanit Reskrim Polsek Merawang).

Dalam sidang  saksi fakta Cecep Setiadi membeberkan jika hasil interogasi didapatkan bahwa terdakwa Abdullah alias Dul Ketem yang menyuruh membakar lahan kebunnya.

” Di dalam pondok saya langsung mengintrogasi saudara David dan Herman. Saya katakan lahan ini punya siapa ? Lalu dijawab terdakwa Herman, lahan milik H Abdullah alias Dul Ketem. Siapa yang memerintahkan untuk merobohkan kayu ? Dijawab oleh keduanya, Abdullah.
Kemudian, saya tanya lagi siapa yang menyuruh membakar ? Dijawab terdakwa Abdullah,” ungkap Cecep di persidangan.

Diceritakan Cecep sebelumnya, awal mula kronologis kejadian, saat itu dirinya sedang berada di kantor.

Bersamaan kemudian bapak Kapolsek mendapat WhatsApp dari Kapolda saat itu Brigjen Pol Istiono memerintahkan Kapolsek untuk mengecek melihat ada titik api yang dipantau Kapolda melakukan patroli udara.

Setelah itu, Bhabinkamtibmas bersama dirinya ke lapangan terlebih dulu dan selanjutnya menyusul dan mendapati lokasi yang dimaksud.

“Memang ada kebakaran dan ada PC (alat berat) yang dioperasikan oleh Davit dan di lapangan bersama terdakwa Herman. Kemudian ke duanya saya ajak ke pondok untuk diintrogasi ,” jelasnya di persidangan.

Selanjutnya, sambung saksi fakta, dalam proses introgasi tersebut dirinya mendapat perintah untuk menghadap
Kapolda yang saat itu sedang meninjau lokasi. Lalu setelah dia menghadap dan menyampaikan informasi temuan, Kapolda pun memerintahkan untuk membawa kedua orang tersebut.

” Namun saat saya kembali ke pondok ternyata ke dua orang ini sudah tidak ada. Dikarenakan itu perintah dari Kapolda, kami pun mencari ke beradaan ke duanya. Kami berhasil menemukan saudara David sedang mengendarai motor langsung kami bawa dan saudara Herman pengakuan David tidak tahu berada dimana.
Pada saat itu juga pak kapolsek memerintahkan saudara David untuk dibawa ke polsek,” bebernya.

Setelah menceritakan kronologis kejadian, saksi fakta dicecar pertanyaan oleh tiga penasehat hukum kedua terdakwa.

Pertanyaan dimulai dari pengacara Budiono SH yang menanyakan saudara saksi sebagai apa di Polsek Merawang? Lalu dijawab sebagai Kanit Reskrim dan sudah lebih 2 tahun bertugas diaana

Kemudian, Budiono SH menanyakan pada saat pertama kali datang ke lokasi, apakah PC masih beroperasi ? Saksi fakta pun menjawab, iya, saya melihat betul alat beratnya sedang beroperasi mengumpulkan ranting-ranting.

Lalu sambungnya, Davit dan Herman saat ditanya siapa yang menyuruh membakar ? dijawab keduanya Abdullah yang menyuruh membakar.

Saya tanya lagi kepada Herman dengan apa kamu membakar ? Dijawabnya dengan korek api gas.

Apakah saksi tahu perkebunan terdakwa untuk apa ? cecar Budiono. Saksi fakta menjawab “Setahu saya disana luas lahan terdakwa 1 hektare lebih. Di lahan tersebut sebagian ditanam sawit dan padi untuk perkebunan masyarakat.”

Selanjutnya Hakim anggota  menanyakan kepada saksi apakah benar terdakwa Herman yang membakar kayu di lahan milik Abdullah pakai korek api atas perintah pemiliknya? Pertanyaan ini pun dijawab oleh saksi “Betul yang mulia dan hal ini sudah diklarifikasi ke terdakwa Abdullah kalau kebun tersebut benar miliknya”.

Dihadapan majelis hakim, saksi fakta juga mengungkapkan tumpukan kayu lebih dari 6. Sedangkan yang terbakar 2 atau 3 yang terbakar. Sementara di hutan sebelah kebun ada asap tebal. Sebagian kebun terdakwa Abdullah adalah lahan baru yang dibuka dan ditanam kebun sawit dan juga tanam padi. Panjang kebun yang akan digarap ada 1 hektare.

Setelah mendengarkan keterangan saksi fakta, kedua terdakwa, Abdullah dan Herman membenarkan keterangan saksi.

“Semuanya betul yang mulia,” kata ke dua terdakwa ketika dimintai tanggapannya oleh ketua Majelis terkait keterangan yang disampaikan saksi fakta.

Selanjutnya Majelis hakim yang diketuai Fatimah SH MH dan hakim anggota, Arif Kadarmo SH, Dewi Sulistiarini SH MH menunda sidang Kamis mendatang (26/2/2020) dengan mendengarkan keterangan saksi lainnya dan juga saksi ahli.

Diketahui sidang sebelumnya, dalam dakwaan tersebut JPU menyebutkan, terdakwa diancam Pasal 78 Ayat (3) jo Pasal 50 Ayat (3) huruf d Undang-Undang (UU) Nomor 41 Tahun 1999 tentang kehutanan jo Pasal 55 Ayat (1) ke 1KUHP atau ke 2 .

“Yaitu melakukan, yang menyuruh melakukan dan yang turut serta melakukan membawa alat-alat berat dan atau alat-alat lainnya yang lazim atau patut diduga akan digunakan untuk melakukan kegiatan perkebunan dan atau mengangkut hasil kebun di dalam kawasan hutan tanpa ijin Menteri,” kata JPU

Perbuatan terdakwa juga diancam Pasal 92 Ayat (1) huruf b jo Pasal 17 Ayat (2) huruf a tentang UU Nomor 18 Tahun 2013 tentang pencegahan dan pemberatasan perusakan hutan jo Pasal 55 Ayat (1) ke 1 KUHP.

” Terkait sidang tadi, apa yang disampaikan saksi fakta benar adanya. Nanti sidang berikutnya, JPU akan menghadirkan saksi lainnya berikut saksi ahli,” kata Pengki Irawan SH MH.

Sementara itu, Penasehat Hukum (PH), Budiono saat dimintai tanggapan seputar sidang mengatakan akan memberikan statement pada sidang tuntutan. ” Nantilah nunggu sidang tuntutan,” katanya.

Kasi Pidum Kejari Bangka, Rizal Purwanto SH MH saat dimintai tanggapan terkait sidang karhutla mengatakan dengan tegas kalau pihaknya serius dalam menangani perkara tersebut.

“Yang pasti kita (jaksa) sesuai SOP dan proses sidang masih berjalan,” jelasnya melalui pesan WhatsApp.

Diberitakan sebelumnya soal penangkapan pengusaha asal Kecamatan Merawang, Abdullah alias Dul Ketam dan Herman. Keduanya dituding membakar hutan atau membuka lahan di kawasan hutan.

Terkait penangkapan dan penetapannya sebagai tersangka, Dul Ketam dan Herman kemudian mempraperadilkan Kapolres Bangka dan penyidik.

Namun di penghujung sidang praperadilan, Dul Ketam dan Herman menarik permohonan praperadilannya. (rom)

You might also like